Ketika Rumi Menggugatku

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Puisi
dipublikasikan 29 April 2016
Ketika Rumi Menggugatku

Pada sajak-sajak Rumi yang menawan, aku tertawan.

Ia bertutur tentang kisah cinta Qais dan Layla yang indah, berkisah tentang kearifan dan kesucian cinta. Tidak saja cinta pada sesama, tapi juga cinta pada Sang Maha Cinta Pemilik Cinta.

Pada syair-syair Rumi yang mengalir, aku tersihir.

Ia mengajariku  bagaimana cara bersyukur tuk hindari kufur, ia tunjukkan tentang kebesaran yang sering terlupakan. Juga kasih sayang yang kadang terabaikan.

Dan pada rangkai puisi Rumi yang liar aku tertampar.

Ia menyentil hatiku. Memerahkan kedua telingaku.

"Kau kira Tuhan tak sayang padamu lagi?" ia menegurku sembari menari, "baca...baca ini!"

Tariannya semakin memusing. Kalimat indahnya kian mendesing.

Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu yang datang: kegembiraan, kesedihan atau keburukan: lalu kesadaran sesaat datang sebagai suatu pengunjung yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka membawa dukacita. Sambut dan hibur mereka, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap, atau kedengkian, atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk semua tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim olehNya sebagai pemandumu....  

Pagi ini, Rumi telah berhasil menggugatku.

***

29 April 2016

Sumber gambar: google