Namaku Senja

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Namaku Senja

Namaku Senja. Bagus bukan? Iya, semua orang bilang begitu.

"Siapa yang memberi nama itu? Ibumu?" suatu pagi bu guru yang cantik itu bertanya padaku.

"Bukan ibuku, tapi ayahku..." jawabku setengah tersipu setengah bangga.

"Oh..." bibir tipis bu guru sedikit terbuka.

"Kata ayah..." aku tak melanjutkan kalimatku. Bu guru cantik itu merendahkan punggungnya.

"Apa kata ayahmu?" ia bertanya lirih.

"Nama itu adalah sebuah kenangan."

"Hmm, ayahmu bilang begitu?"

Aku mengangguk.

Bu guru yang cantik itu memetik daguku perlahan.

***

Namaku Senja. Ayah teramat suka dengan nama itu. Ia akan memanggilku berulangkali jika kebetulan sedang berada di rumah.

"Senja...senja!" begitu serunya. Ia tak akan berhenti jika belum melihat kemunculanku di hadapannya.

"Ayah, berisik!" aku mendatanginya dengan wajah memberengut. Kalau sudah begitu ayah akan merengkuhku. Lalu tawanya yang renyah berderai mengusik ketenangan ibu.

"Kalian bisa tenang tidak, sih?" ibu menegur kami dengan alis meninggi. Aku dan ayah langsung terdiam. Hanya mata kami saling berpandangan.

"Luka! Sudah sana belajar!" ibu menggendikkan kepala ke arahku.

"Jangan panggil ia dengan nama itu," kudengar protes ayah.

"Kenapa?" bibir ibu maju beberapa senti.

"Karena..." ayah melirik ragu ke arahku.

***

Namaku Senja. Semua suka dengan nama itu. Kecuali ibu. Kau dengar? Ia lebih suka memanggilku Luka.

"Mengapa ibumu memanggilmu begitu?" tanya bu guru cantik itu ketika aku mengeluhkan tentang sebutan yang diberikan ibu untukku.

"Entahlah," aku menggeleng lemah.

***

Namaku Luka. Mungkin ibu benar. Aku lebih cocok menyandang nama Luka daripada Senja.

"Kamu tahu, Senja itu nama kekasih gelap ayahmu. Dan kamu, adalah anak haram hasil hubungan terlarang mereka..." perempuan yang kupanggil ibu itu menatapku. Sorot matanya tajam bagai ujung belati yang siap menghunus jantungku.

"Senja...Senja!" kudengar suara ayah sayup-sayup memanggilku.

"Kau dengar? Lelaki itu tak pernah berhenti memanggilmu. Memanggil kenangannya!' jari-jari ibu mulai memelintir lengan mungilku.

"Senja!" suara ayah terdengar lagi.  Aku ingin menyahut panggilan ayah. Tapi ibu telah menyumpal mulutku.

"Mulai detik ini, tak ada yang boleh memanggilmu Senja. Kau ingat itu? Namamu Luka!"

"Senja!" ayah menemukanku. Ia meraihku dalam pelukannya dan membebaskanku.

"Ayah, ia telah mati. Perempuan yang ingin membunuh kenanganmu itu telah mati..." aku berbisik pelan di telinga ayah.

Kulihat ayah berdiri termangu. Menatap sosok perempuan yang terkapar di lantai dan bersimbah darah.

Sosok yang beberapa menit lalu jantungnya kuhujam dengan belati pemberian bu guru cantik yang bernama sama denganku.

Senja.

***

28 April 2016

Sumber gambar: Google