Pasanganku, Penyair Berbakat

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 April 2016
Pasanganku, Penyair Berbakat

Eit, jangan deg-degan dulu...

Ini lagi ngomongin pasangan kolaborasi menulis...^_^

Ada sebuah event yang unik di sebuah komunitas penulis FB, yakni kolaborasi antara prosa dan puisi. Lah, aku ikutan aja. Eh, ternyata pasangan kolaborasinya diundi terlebih dulu oleh panitia. Kita nggak boleh milih pasangan sesuka hati. 

Waduh, aku mendapat pasangan yang sama sekali belum kukenal. Dia penulis puisi dari Banda Aceh. Nah, loh. Pasanganku jauh amat tinggalnya. Gimana, nih?

Pas baca-baca komentar di FB, pasanganku itu juga mengeluh karena belum berteman sama aku. Sebenarnya sih, aku ini orangnya agak pemalu, tapi demi kelancaran kolaborasi, yah, jadi malu-maluin deh. Aku colek dia berkali-kali. Awalnya respon dia agak garing.

Tapi berkat kegigihanku, alhamdulillah komunikasi kami mulai lancar. Pasangan kolaborasiku mulai bisa menerima kehadiranku. Ceileh...

Hal pertama kali yang aku lakukan adalah ngintip karya-karya dia.

Astaga...puisinya bagus-bagus  banget! Bikin aku keder. Sekaligus tantangan buat aku. Aku harus bisa mengimbanginya.

Akhirnya aku mencoba menyodorkan dua naskah cerpen yang kusesuaikan dengan karakter dia sebagai penulis puisi yang bergenre kemanusiaan dan bergenre romance.

Alhamdulillah lagi, akhirnya kami berhasil menyelesaikan dua naskah tersebut dengan selamat.

Nih, aku bocorin cuplikan salah satu kolaborasi kami, ya....

 

#Penyair Merindu

Oh, ternyata rindu tak juga beranjak. Penyair itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

'"Please. enyahlah!" berkali ia bergumam dalam geram.

Kini, aku terpaku di dalam gelap menatap pintu-pintu yang tertutup rapat. Ilalang di sekitarku menggumam pelan seperti bersajak tentang rindunya pada hujan. Ilalang itu malu-malu saat kutatap dengan senyum tertahan.

 "Lihatlah, aku masih saja tak bisa berhenti memikirkanmu," penyair itu bicara sendiri.  Matanya terpejam, berusaha menepis kenangan.

Ketika bayangan wajah itu muncul semakin nyata, ia nyaris bergelut dengan rasa.

"Jangan mencintaiku," ujarnya lirih.

"Kenapa?" bayang wajah perempuan itu memurung.

"Karena aku ingin menjadi lelaki setia..."

Ya, aku tak terbiasa bersedih hati...Kalaupun menangis, bukan di puisi ini. Aku kan meratap di puncak gunung berapi. Kenapa? Karena aku laki-laki. Aku yakin akan ada harga dari nilai sebuah kesetiaan. Kan terpaut jiwa di antara dua keping hati. Seperti Adam dan Hawa di Jabbal Rahmah. Lalu kau dan aku, akan menulis kisah....

 

Nah, itulah cuplikan kolaborasi kami. Oh, ya, penulis puisi, yang kini berteman denganku itu nama akun FB-nya : Keken.

Yang bikin aku kaget, gaya dia menulis puisi itu loh, kok mirip dengan gaya seseorang ya...^_^

****

17 April 2016