Jangan Kirimi Aku Bunga

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 April 2016
Jangan Kirimi Aku Bunga

Sore yang indah, ya, Thom. Lihatlah, para penjual bunga sibuk menawarkan dagangannya. Beberapa di antara mereka asyik merangkai buket pesanan pelanggan. 

Berapa kali sudah kita kemari, Thom? Oh, tak terhitung lagi, ya. Hingga para penjual bunga itu hafal bunga apa yang hendak kubeli. Seikat mawar merah dan beberapa kuntum krisan ungu. Selalu itu. Iya, kan, Thom. Kamu juga tahu, dua jenis bunga itu memang kesukaanku.

Sore ini, Thom, kulihat kamu pergi sendiri. Langkahmu ringan menuruni anak tangga menuju kios bunga yang letaknya berada di lorong paling bawah.

Ah, Thom, hati-hati! Kakimu tersandung lantai tangga yang tidak rata. Kamu nyaris terjatuh. Jangan berjalan sambil melamun, Thom. 

"Mawar merah dan krisan ungu," ujarmu pada pemuda penjual bunga seraya menyerahkan lembaran uang lima puluh ribu.

"Diikat seperti biasa, ya, Mas? Mana Mbaknya? Mas kok sendirian?" penjual bunga itu bertanya tanpa jeda. Kamu hanya membisu. Wajahmu murung menyimpan seberkas duka.

Sudah rampung, ya, Thom. Ikatan bunga sudah berpindah ke tanganmu. Kamu segera menaiki tangga kembali. Langkahmu kali ini tak seringan tadi.

Kamu meraih motormu. Menghidupkan mesinnya dan berlalu meninggalkan kios bunga.

Motormu melaju dengan kecepatan tinggi. Hati-hati, Thom! Kamu hampir saja menabrak seorang lelaki tua yang sedang menyeberang jalan. Jangan mencari perkara, ya. Kamu bisa berurusan dengan Polisi.

Masih jauh, ya, Thom? Oh, kamu mulai berbelok arah.

Hei, Thom! Kamu hendak kemana. Makamku ada di sini! Di sebelah kiri jalan raya ini.

Kamu terus saja melaju tanpa berhenti. Aku mengikutimu. Ah, Thom...kamu menghentikan motormu di halaman sebuah rumah. Oh, itu rumah Rani! Gadis yang selama ini diam-diam menaruh hati padamu.

Thom, aku cemburu!

Apalagi dengan senyum manis kamu menyerahkan rangkaian bunga itu padanya.

"Thanks, Thom..." Rani menerima pemberianmu dengan wajah berseri.

Thom, mengapa kamu tega melakukan ini? Rupanya kamu mulai melupakan aku.

Sebuah mobil pickup berkecepatan tinggi berbelok kencang menyasar ke arahmu. Ah, Thom, kali ini aku tak sempat mengingatkanmu.

Mobil pickup itu menghantam tubuhmu dengan keras. Kamu terpental jauh. Lalu jatuh tak jauh dari tempat ruhku berdiri.

Tubuhmu bersimbah darah, Thom. Dan diam tak bergerak sama sekali.

Ah, Thom...jangan kirimi aku bunga. Ikut saja bersamaku.... 

***

16 April 2016