Muhasabah di Balik Dua Kejadian

Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd.
Karya Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd. Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Mei 2017
Muhasabah di Balik Dua Kejadian

Tak perlu engkau bersedih hati karena kenyataan berbanding lurus dengan kekecewaan. Namun, satu hal yang pasti, yang mungkin belum engkau sadari. “Ada hikmah dibalik semua kejadian yang terjadi pada dirimu.” Ingatlah, tidak semua keinginanmu akan menjadi kenyataan. Mungkin saja keinginanmu itu bukanlah yang terbaik untuk dirimu. Walaupun kesedihan dan kekecawaan menghampirimu setelah kesakitan itu, cepatlah sadar, bahwa masih banyak yang lebih sedih dan kecewa daripada dirimu. Bahkan banyak dari mereka yang hancur. Tetapi, kehancuran itu takkan terjadi pada dirimu, jika engkau mengikhlaskan semua yang terjadi itu merupakan ketentuan. Mengingat bahwa semuanya telah diatur dengan skenario terbaik.

Semua kalimat itu berada dipikiran, berkeliling untuk mencari tempat bermalam. Mungkin semuanya hanya sekadar kalimat-kalimat yang menjadi penghibur diri agar tak terlarut dalam jurang kesedihan, lembah kekecewaan, yang mungkin saja akan menenggelamkan dalam kegelapan yang lebih hina. Walau sempat terbesit, mungkin enak ya nge-drug, bisa nge-fly, bisa menghilangkan beban pikiran dan stress yang membuat gundah hati dan pikiran. Semua kegelisahan itu membuat konsentrasi pecah, pikiran bubar, berlari-lari tak tentu arah. Usia yang seharusnya sudah menjadi usia saat engkau lebih matang dalam emosional, tetapi masih seperti abg labil yang masih mencari jati diri. Sunnguh mengenaskan. Kasihan sekali dirimu.

Tetapi, hal itu benar adanya. Memikirkan hal negatif, tapi masih ada pertimbangan pula. Mengasihani diri sendiri, daripada terjebak dalam kehancuran yang lebih nista. Ada satu hal lucu yang menjadi pelariannya daripada nge-drug barang haram, membuat dosa semakin menggunung. Berpikir, berpikir, berpikir. Daripada jadi orang gila yang semakin bertingkah bodoh, ada satu cara biasa untuk sedikit menenangkan, yaitu meminum segelas kopi hangat dengan aroma yang luar biasa khas, yang konon dapat menenangkan pikiran juga. Mungkin ada juga sedikit efeknya. Hahaha

Dua kali mengalami kejadian yang sama, yang serupa, tak jauh berbeda. Kemudian mencoba bercerita kepada seorang kawan. Kalimatnya mengetuk hatiku lebih dalam, mengingatkan pada kekhilafan juga dosa-dosa yang selama ini dilakukan. “Bersabarlah. Mungkin itu lebih baik. Cobalah mengubah diri menjadi lebih baik. Itu pun telah kualami. Apa yang ku katakan adalah berdasarkan pengalaman pribadi.” Semua yang dikatakan itu membuat mengelana jauh ke watktu-waktu yang telah berlalu, membawa pada ilmu yang mengajarkan bawa dia adalah cerminan dirimu, bahwa apa yang kau tanam itu yang kau tuai, bahwa janganlah mendekati dia tetapi dekatilah pemiliknya.

Menangis?  Perlu. Bersedih? Boleh. Tetapi sekadarnya saja. Tak usah berlarut-larut. Berdoalah. Berdoalah untuk dirimu dan dia, kebahagiaanmu dan dia. Dengan berdoa, engkau akan mengikhlaskan semuanya. Introspeksi diri, mengapa itu semua terjadi. Ingatlah! Semuanya ada sebab dan ada akibatnya. Hukumnya sudah demikian adanya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Hasyr (59): 18).

Bila sudah waktunya...mungkin itu akan menjadi jalan terbaik. Hal yang saat ini disebut sebagai ‘berhijrah’. Hal yang sudah seharusnya dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik.  "Apa yang dilakukan di masa lalu, menentukan apa yang kamu rasakan saat ini."

  • view 44