Mendidik Bukan Mengajar

Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd.
Karya Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd. Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Februari 2017
Mendidik Bukan Mengajar

Mendidik Bukan Mengajar

Bagi orang awam, mengajar dengan mendidik tidaklah berbeda, yakni sama-sama memberikan pembelajaran. Namun, secara leksikal, mengajar dengan mendidik adalah berbeda. Seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berikut ini. Mengajar diartikan memberikan pelajaran, melatih, memarahi (memukuli, menghukum, dsb), sedangkan mendidik adalah memelihara dan memberi latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Secara definisi kamus di atas, mengajar hanya sekadar memberikan pelajaran dan melatih, sedangkan mendidik itu memelihara dan membimbing. Dari definisi ini, sudah terlihat jelas, mengajar berbeda dengan mendidik.

Sebagai generasi penerus bangsa, peserta didik seharusnya memiliki kepribadian moral yang baik. Seperti yang dijelaskan dalam artikel sebelumnya, Kaki Tanpa Mata, menurut Hasting et al. (2007), karakter mempunyai domain moral dan nonmoral. Karakter berdomain moral ialah semua perilaku yang merujuk kepada hubungan interpersonal atau hubungan dengan orang lain. Contohnya, kasih sayang, empati, loyal, membantu dan peduli dengan orang lain (sifat-sifat feminis). Sedangkan karakter berdomain nonmoral adalah semua perilaku yang merujuk kepada pengembangan sifat-sifat dalam diri atau intrapersonal. Contohnya, disiplin, jujur, bertanggung jawab, pantang menyerah dan percaya diri (sifat-sifat maskulin). Dengan perkembangan dan kepemilikan karakter yang baik, mereka akan menjadi orang yang peduli dengan lingkungan sosial, seperti simpulan yang dijelaskan Hasting et al, baik karakter berdomain moral maupun nonmoral tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk membentuk kepribadian yang peka terhadap kepentingan sosial (prososial).

Pengembangan karakter pada peserta didik sangat dipengaruhi oleh cara kita membelajarkan. Apakah kita menggunakan cara mendidik atau hanya sekadar mengajar. Karakter peserta didik akan berkembang dengan baik tidak hanya melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui pembelajaran nonformal dan informal. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran formal, nonformal, dan informal? Simaklah uraian di bawah ini.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat 11-13 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan, Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, dan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Seperti dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Bab IV Pasal 14 dan 15 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan formal contohnya saat ini seperti SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

Seperti dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Bab IV Pasal 21 ayat 1-6 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat dan mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di Masjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua Gereja. Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Jenis pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Dan seperti yang dijelaskan pula dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Bab IV Pasal 27 ayat 1-3, (1) kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri, (2) hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan, (3) ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat 2 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pendidikan formal memang seharusnya didapatkan anak untuk memeroleh pengalaman belajar dan berinteraksi dengan teman serta lingkungan sosialnya. Selain itu, juga yang tidak kalah penting, pendidikan nonformal sebagai jalur pendidikan juga yang fungsinya hampir sama dengan pendidikan formal harus bermakna. Terlebih lagi pendidikan informal, yang merupakan sekolah pertama bagi anak yaitu keluarga. Pendidikan dalam keluarga/informal merupakan tonggak dari kepribadian dan moral seorang anak, yang akan disusul dengan kebermaknaan pengalaman mereka dalam menjalani pendidikan dan pembelajaran formal dan nonformal.

Dari penjelasan panjang di atas, kita ketahui bahwa jalur pendidikan formal, nonformal, maupun informal memang berbeda. Namun dengan mendidik, kita akan menjadikan ketiga jalur pendidikan tersebut menjadi sebuah pembelajaran bermakna yang dapat membentuk karakter anak/peserta didik. Kuncinya adalah mendidik, bukan hanya sekadar mengajar.

Dalam :  https://ochaa-vhyaniy.blogspot.co.id/2016/06/mendidik-bukan-mengajar.html

Nih OcIst_Juni 2016

  • view 112