"Kamuflase" Bukan Menghilangkan Jati Diri

Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd.
Karya Octaviani Istikharoh Riyadi, S.Pd. Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2017

     Beberapa tahun silam, ada seorang siswa yang sangat diam dan dapat dikatakan minder. Ia selalu merasa takut untuk duduk di bangku paling depan saat di kelas, bahkan untuk mengacungkan tangan dan mengemukakan pendapat atau hanya sekadar menjawab pertanyaan guru pun ia merasa ragu, malu, takut, dan entah apa yang ia pikirkan. Keadaan tersebut berlangusng ketika ia duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Namun ia berfikir, mau sampai kapan ia berada di tengah  keadaan yang seperti itu. Hingga akhirnya, ia duduk di kelas X sekolah menengah atas, tetapi belum juga ia keluar dari keraguan diri yang membelenggunya.

     Ia mulai berfikir lagi, apa yang seharusnya ia lakukan. Ia sadar, ia harus segera mengubah dirinya menjadi lebih berani lagi. Menunjukkan eksistensinya sebagai seorang siswa yang memiliki prestasi. Dan niatnya pun mulai bulat, ketika keadaan sangat mendukungnya. Ia masuk kelas XI di jurusan yang ia minati. Ia mulai merasa yakin, inilah tempat yang tepat bagi dirinya menunjukkan eksistensi di kelas. Ia mulai memberanikan diri, memilih tempat duduk di paling depan, walau awalnya hanya di pojok paling kanan kelas. Namun, dengan permulaan ini, ia mulai merasa nyaman. Ia mendapatkan kepercayaandirinya bahwa ia bisa, ia mampu.  Keberaniannya pun terus bertambah dalam menjawab dan dan mengemukakan pendapat di kelas.

     Sejak saat itu, ia lebih yakin dan percaya diri. Bahkan ia sangat nyaman dan terlena karena ingin selalu duduk di bangku paling depan dan ingin merasa unggul. "Aku adalah pimpinan dalam kelas ini", fikirnya. Bukan suatu hal yang negatif. Justru ini berdampak positif bagi dirinya setelah lulus SMA. Ia menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan lucunya, ia merasa dan sadar, dirinya menjadi "lebih bawel" dibandingkan dirinya yang dahulu karena komentar "pedas" dari ibunya bahwa ia terlalu banyak bicara. Tapi tak masalah baginya. Asalkan itu dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik, kenapa tidak.

     Bahkan, dirinya yang dari dahulu adalah seorang yang "perfeksionis", memiliki jalan pikiran yang luar biasa rumit. Pekerjaan yang seharusnya dengan mudah dikerjakan, bila 'ditangannya', akan terlihat sukar. Kadang sikapnya ini mempersulit dirinya sendiri. Selain itu, ia juga tak ingin pekerjaannya dicampurtangani oleh orang lain, bahkan ia tak dapat mempercayakan pekerjaannya kepada orang lain. Ia lebih senang jika pekerjaan tersebut selesai ditangannya, dari awal hingga akhir.

Pemikiran yang seperti ini pun ada hal baik dan buruknya, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Bahkan bahayanya ia belum terbiasa menerima kritikan dari orang lain. Tetapi, seiring waktu, ia sedikit demi sedikit membuka hati, berusaha berbesar hati untuk mendengar kritikan dan saran dari orang lain. Ia mulai berubah pula, bisa mendengar kritikan, walau belum 50% ia merasa ikhlas, hasil kerjanya diprotes dan dikritik, bahkan diubah oleh orang lain.

     Itu semua dapat jadi pembelajaran bagi kita semua, sikap seorang yang seperti itu ada keuntungannya juga bagi dirinya, namun ada juga kerugian bagi dirinya. Jadi jangan takut untuk berubah. Jangan takut menerima kritikan, jangan takut untuk menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Dengan perubahan kecil, yang penting ada niat dan merasa ingin, kita harus berubah, pasti kita akan menjadi pribadi yang berbeda dari diri kita sebelumnya. Semua ada kosekuensinya. Tentu ada hal/ komentar positif dan negatif yang kita dapatkan dari perubahan tersebut. Namun bisa kita lihat dan pertimbangkan, apakah perubahan tersebut lebih banyak positif, atau negatifnya. Jadi, jangan takut untuk mengubah diri kita menjadi berbeda dari diri kita sebelumnya, atau bahkan berbeda dengan orang yang berada di sekitar kita.

  • view 135