Jakarta, Kota Selayang Pandang (Dari Muslimat NU Hingga PMII)

Ririf Zuhr
Karya Ririf Zuhr Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 November 2016
Jakarta, Kota Selayang Pandang (Dari Muslimat NU Hingga PMII)

Kongres Muslimat NU ke XVII yang bertempat di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, hari Rabu-Ahad, 23-27 November 2016 disambut antusias oleh seluruh kader Muslimat Se Nusantara. Tak ketinggalan Muslimat NU Jombang, juga telah mempersiapkan secara matang untuk bertolak ke Ibu Kota guna mengikuti Kongres Muslimat itu. Tak kurang dari 4 Bus, memboyong kader Fatayat dan Muslimat terbang ke Jakarta.

Rabu (22/11), Bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Jombang, Hj Munjidah Wahab, segenap rombongan dari Pengurus Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kabupaten Jombang, juga turut berpartisipasi dari PMII Jombang sebanyak tiga orang, diantaranya Ririf (penulis), Rizki, Syafa yang juga hendak turut menghadiri Kongres Muslimat NU itu. Sungguh menarik ketika sebelum pemberangkatan, peserta rombongan dilepas dan didoakan oleh orang nomer satu di Jombang, Nyono Suharli, selaku Bupati Jombang yang mengapresiasi semangat ibu-ibu muslimat untuk mengikuti Kongres di Jakarta.

Keikutsertaan kami (PMII) dalam acara Kongres Muslimat tersebut, selain memang terdapat hubungan kultural antara PMII dan NU, juga sebagai bentuk apresiasi Muslimat NU Jombang terhadap kader-kader putri yang berproses di PMII. Pengalaman yang sangat berharga diberi kesempatan oleh keluarga Wabup untuk turut terbang ke Ibu Kota Jakarta.

Ya jelas saja, tujuan ke Jakarta tidak hanya sekedar turut, dan mengikuti rombongan, kami (sahabat-sahabat) memplaningkan ke Jakarta harus berkesan dan tidak hanya sekedar hura-hura (hedon), Pertama, Siapa yang tidak ingin ke Ibu Kota? Terlebih ada impian yang kita gantungkan di atas sekelas Jakarta. Kedua, alur kaderisasi Muslimat NU yang tidak banyak kami ketahui, sebab yang kami tahu, pucuk pimpinan organisasi badan otonom (banom) NU ini ialah Hj Khafifah Indar Parawansah, yang juga alumnus PMII. Ketiga, Atmosfer Jakarta jelas berbeda, meski dingin dan panasnya suhu Jakarta tidak akan mungkin kami rasakan dengan waktu yang singkat. Semua alasan itu, yang membulatkan tekad kami untuk terbang dengan bekal seadanya (hehe).

Bahkan, nyletuk dari Mbak Rizki begini, ”Kita nggak akan mati di Jakarta, Bahagia kita yang menciptakan sendiri,” katanya. Ku tanggapi dengan lemparan senyum saja. Oke, kita siap berangkat. Dengan kawalan mobil patroli Polres Jombang, sekitar pukul 00.00 WIB, dengan nyenyak kita berangkat.

Bermalam di Kantor Perwakilan Jawa Timur yang ada di Jakarta, memang tidak semuanya bisa menikmati fasilitas tersebut, hanya Jombang saja yang boleh berinap disini, ujar salah satu orang. Tidak lama kami kedatangan tamu dari Ketua Kopri Jakarta Selatan, ngalor-ngidul kita menghabiskan malam membahas PMII juga KOPRI, meski aku bukan KOPRI tapi aku menikmati perjalanan issue dari PMII hingga KOPRI.

Kota Tua, Bersejarah, Berdarah

            Ditemani salah satu senior yang domisili di Jakarta, kita beranjak dari penginapan sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, ya serba instan ya di Jakarta, pakai taxi “Crab” semenit jemputan langsung datang. Keliling Ibu Kota dini hari sungguh memberikan hawa segar, di tengah mata kantuk yang belum dapat jatah terpejam. Mulai tampak Istana Presiden, Monas, Masjid Istiqlal, Kantor PBNU, hingga kita jalan-jalan santai di Kota Tua Jakarta. Tampak ramai dengan iringan musik “ajeb-ajeb”, sepengetahuanku hanya aku dan Mbak Rizki yang konvensional dengan pakaian kerudung dan Rok, dengan percaya diri kita menyusuri jalan Kota Tua itu, duh... kagetnya dibalik sejarah Kota Tua yang tersohor, terdengar slentingan yang jika malam-malam begini difungsikan untuk tempat mangkal. Apalagi ditutupnya Museum Fatahillah yang dijaga ketat oleh beberapa orang. Sontak, kita bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban yang sah dari siapaun.

Sudah jadi pemandangan banyak anak-anak kecil yang menengadahkan tangannya di malam itu, tidak sedikit juga yang kluntang-klantung anak usia 4 tahun  an menggendong anak 1 tahun an, ini Jakarta, keras boss!!

Tapi bukannya Ibu Kota dimana tempat segala instansi pemerintahan, LSM, Yayasan Sosial marak menggurita di sini? memutus rantai eksploitasi anak seharusnya tidak ada alasan tidak bisa. Ini mungkin juga adalah PR untuk Ibu Khafifah, Ketua PP Muslimat NU yang juga sebagai menteri sosial untuk memutus mata rantai Eksploitasi anak.

Siapa, Nahkoda Muslimat Setelah ini?

            This is it, acara inti yang dinanti-nanti Muslimat NU Se Nusantara dihelat dengan damai dengan khas ijo-ijo nya. Mungkin sama seperti pertanyaan orang-orang pada umumnya, setelah pemenangan aklamasi Khafifah nanti, yang sudah menjabat selama 4 periode. Siapa sosok yang akan muncul 5 tahun kedepan?. Bagaimana tidak, Muslimat NU harus memunculkan sosok kader yang mampu membawa nama Muslimat NU tetap diperhitungkan sebagai salah satu gerakan perempuan Indonesia yang progressif. Hingga kini mungkin belum muncul tokoh perempuan Muslimat yang menyamai atau melebihi popularitas dan kapabilitas sosok Khafifah itu.

            Jebret! Saat kita dihebohkan dengan histeria saliman dan selfie-selfie dan tokoh pemerintah, seperti Bapak Ir joko Widodo yang paling banyak diserbu ibu-ibu. Kita hanya mlongo saja, sambil nggremeng “Harusnya kita yang histeris ya, bukan ibu-ibu, hihi,” Gurau Kami.

            Al Hasil, meski terkesan seperti wartawan yang memburu mangsa, kita berhasil memburu foto dengan Alumnus PMII, Lukman Hakim, juga Kiai Besar Hasyim Muzadi, juga Romahurmuzzy yang terlihat sumringah meladeni beberapa orang yang mengajaknya bercakap-cakap. Yuk kita ajak foto juga, dapat juga! Haha.

            Berulangkali kita mencoba menembus Khafifah, dan Yenni Wahid yang disampingnya, tapi tetap saja belum berhasil menembus benteng pertahanan mereka yang terlihat gupuh dan sibuk, haha!

            Lho! Sekelas Bu Yenny jadi moderator nya Jendral TNI, ya pertanyaan itu mungkin mewakili dari jawaban dari percakapan kita di awal tadi, hihi.

PMII Ibu Kota, Obrolan Jalanan

            Meskipun secara struktural tidak ada sangkut pautnya antara PMII dan NU, tetapi keduanya bertemu dengan garis khatulistiwa yang berakar “Islam Ahlussunnah Waljama’ah”. Di tengah Ibu Kota, dibalik gaya hidup hedon nya, turut juga mempengaruhi dinamika organisasi kemahasiswaan seperti halnya PMII.

            Obrolan kita sampai pada PMII itu harus kembali ke NU, sebab Organisasi (Himpunan) lain sudang dempet-dempet merapat ke NU secara struktural. Lantas aku menyambung obrolan itu, Menurutku mereka tetap akan besar tanpa harus masuk ke NU. Banyak hal yang kami bahas soal kaderisasi kedua organisasi ini.

            Bertemu Acil, Ketua Kopri Jakarta Selatan, bertemu Umi yang juga Pengurus Cabang PMII Jakarta Selatan, dua sosok representasi kader putri PMII Ibu Kota. Kebahagiaankku sendiri, ketika melihat semangat literasi di PMII Ibu Kota, sebagian mereka memang menjadi jurnalis di NU Onlie pusat. Seperti halnya Acil, dan Umi. Menurutku perempuan sangat menarik jika mempunyai seni literasi.

Dari Jokowi, Ahok, Juga Cak Imin

Ketiga tokoh itu yang sering kami dengar dari masyarakat di sepanjang perjalanan berangkat dan pulang dari Jakarta. Termasuk cerita Pak Pri, salah satu pengurus GP Anshor Jombang yang memandu perjalanan. Ia menuturkan pengalamannya saat menaiki taxi, ia bercakap-cakap soal Aksi Bela Islam 04 November lalu yang banyak menyinggung Ahok juga Jokowi.

Senada saat kita di Solo, ada salah satu ibu-ibu pedagang yang bertanya asal kita dari mana. Kita bilang dari Jombang, oooooh Gus Dur, Cak Imin yaaaa.......,” kata ibu itu. Kita menunjukkan ekspresi tertarik, Lho Ibu pendukungnya Cak Imin ya bu? Apa yang Ibu ingat dari Cak Imin, Ia spontan menjawab Holopis Kuntul Baris. Haha... sontak kita tertawa semuanya tanpa mendefinisikan arti tertawa kita masing-masing.

Menurutku, Jakarta dan Solo adalah Kota Indah, Jakarta dengan metropolisnya, histori berdarahnya, Solo dengan Asri dan Kejawen, nya. Sungguh perjalanan yang menarik.

 

  • view 195