Ngakunya Aktivis, Malah Aksi Makin Tipis

Ririf Zuhr
Karya Ririf Zuhr Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Ngakunya Aktivis, Malah Aksi Makin Tipis

Ngakunya Aktivis, Malah Aksi Makin Tipis

Oleh : Rif’atuz Zuhro[1]

“Bahwa dalam keadaan alamiah itu manusia telah mempunyai beberapa hak yang juga bersifat alamiah, seperti hak hidup, hak kebebasan atau kemerdekaan dan hak milik. Dengan demikian sesuai dengan kodratnya manusia itu sejak lahir telah mempunyai hak-hak kodrat atau hak hak alamiah”.

(John Lock)

Negara Demokrasi, Katanya?

Demokrasi sebagai bentuk sistem pemerintahan di Indonesia terbilang sangat muda dengan segala salto-salto politiknya, terhitung 18 tahun pasca reformasi besar-besaran oleh Kesatuan Aksi mahasiswa yang menyerbu Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tahun 1998 untuk memberhentikan paksa rezim Soeharto yang akhirnya tumbang.

Indonesia dengan wajah baru, mulai menapaki arah sistem pemerintahan yang diinginkan oleh keseluruhan Rakyat Indonesia, yakni Sistem Demokrasi dinilai layak dan tepat untuk menjadi sistem pemerintahan, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.

            Reformasi 98 membuktikan bahwa kekuasaan negara sepenuhnya di tangan rakyat, namun apakah lengsernya rezim Soeharto mengakhiri segala bentuk tirani rakyat Indonesia?, Perombakan besar-besaran mulai dari pemimpin negara hingga sistem pemerintahan mau tidak mau mesti dipilih dan diganti dengan sistem demokrasi pancasila, yang amaliah-amaliahnya adalah tafsiran dari pada butir-butir sila yang keramat.

            Reformasi 98 dinilai sebagai angin segar, juga angin ribut oleh beberapa kalangan termasuk para aktivis mahasiswa yang menginginkan adanya perubahan menurut kebutuhan era modern. Angin segar, tujuan para aktivis ulung tercapai dengan runtuhnya rezim otoriter, Angin ribut untuk sekalangan kelompok yang hendak bergerumun mengisi lowong jabatan yang terbuka lebar.

            Perjuangan atas nama rakyat tertindas menjadikan seluruh aktivis mahasiswa menjadi macan di kandang nya sendiri, melawan ABRI bersenjata, penculikan, pembunuhan, hingga kebiadaban birahi yang diterima sebagian perempuan etnis thionghoa (baca: http://www.tionghoa.info/kerusuhan-mei-1998-harga-yang-harus-dibayar-oleh-etnis-tionghoa/ ).

Dibalik angin segar itu, tragedi-tragedi pasca kerusuhan 98 harus dibayar mahal oleh sebagian kelompok. Adapun hasil Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tertera pada laman https://id.wikisource.org/wiki/Laporan_Tim_Gabungan_Pencari_Fakta_(TGPF)_Peristiwa_Tanggal_13-15_Mei_1998/Analisa

            Pengorbanan yang begitu besar harusnya tidak membuat Mahasiswa, terlebih yang mengaku Aktivis untuk menutup mata. Usaha-usaha pihak tertentu saat ini yang haus kekuasaan telah menjadikan target Mahasiswa menjadi lemah dalam berpikir juga bertindak. Gigi taring yang dulu nampak, lambat laun semakin dikikis oleh sifat pragmatis, hedonis. Modernis memang perlu, namun modernis dalam segi apa? Jika modernis dalam gaya hidup telah menjadi sisi utama aktivis sekarang. Apa bedanya aktivis dengan stylist artist. Modernis pemikiran, pembaharuan gerakan nampaknya sangat perlu dilakukan. Sebab, orientasi dulu sekarang jauh terbentang.

            Di tengah arus modernisasi, pembaharuan dalam segala aspek kehidupan yang terbuka lebar-lebar mestinya membuat para aktvis mempunyai pedoman ideologis yang mengakar untuk tetap mengutuk tirani-tirani bodoh.

Mempengaruhi Tipe Mahasiswa

“Terpelajar itu sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer)

Sepenggal jimat dalam buku “Bumi Manusia” karya Pram, sangat tepat jika Mahasiswa sebagai kaum ideologis mampu menjiwai “keadilan” dalam bentuk pikiran juga perbuatan. Tidak salah jika kajian-kajian kaum aktivis sangat akrab dengan filsafat modern, sebut saja Karl Marx dengan paham sosialisnya, Lenin, Heggel, dan kawan-kawannya.

            Pemikiran filsuf barat terkadang dikaji tuntas, namun apakah mesti tuntas dalam kajian semata? Semakin mempelajari hal-hal yang sangat berat, dan subtansial semakin tidak terlihat taring tajam, duri lancip bagi aktivis . Apa yang salah? Ironi!. Semacam terjerembab dalam dunianya sendiri.

            Aksi tanpa diskusi, aksi tanpa ujung namun tak berarti, hingga memunculkan hanya mencari eksistensi namun hambar bagaikan sambal tanpa terasi. Kalau sudah begini mau apa? Akan apa? Mesti bagaimana? Mahasiswa dipresto layaknya Ikan Bandeng, duri-durinya lunak hingga tak mempan untuk mencokel kebobrokan sistem.

            Proxy Wor Dunia semakin menjadi-jadi, kebenaran tidak akan nampak meskipun melalui hal-hal yang rumit sekalipun, media semakin dikuasai hal-hal yang tidak mendidik, tidak subtansial, jurnalis dikuasi pribadi, kebebasan pers terlampau tak ada yang mengendalikan hingga kepentingan pribadi merupakan tujuan penyiaran utama. Terakhir, hadirnya saluran “TV Parlement” yang tiba-tiba, lho jelas disetting beritanya! Aneh! Dalihnya agar masyarakat tau apa yang dilakukan anggota dewannya.

            Masyarakat semakin bosan dengan perang dingin, perang panas, perang suci, perang kotor, yang bersumber dari informan yang tidak netral. Peran mahasiswa seperti tidak berfungsi dan tidak dianggap sebagai pihak yang dapat memecahkan situasi carut marut. Entah positif atau negatifnya, mahasiswa digiring menjadi anak baik, dan berprestasi akademik maka akan digaji dan dibiayai. Hingga Mahasiswa bosan keluar, bosan turun jalan, hingga putar balik akademisi pasif.

Dimana Para Aktivis?

Pertanyaan sederhana, namun susah untuk menguraikan sepenggal kalimat tersebut. Organisasi Kaderisasi aktivis semakin banyak dan membeludak, namun tidak banyak yang nampak mengahasilkan tokoh-tokoh yang nampak ke permukaan mewarnai kebijakan sistem pemerintahan. Tampak tokoh-tokoh lawas! terlebih banyak bermunculan figur baru yang basic nya non aktivis, namun berasal dari praktisi, hingga lulusan luar negeri.

Kader-kader organisasi begitu membumi, namun keringat perjuangan nampaknya belum terasakan dan berimbas langsung kepada masyarakat. Bongkar sistem yang mengahalangi berkembang, Berpikir idealis nampaknya akan kamu nikmati saat menjabat sebagai “Mahasiswa” saja. Otak kritis akan kamu nikmati saat kamu bermaslah saja, dan hidup realistis akan kamu semayami selepasnya.

 

[1] Sekretaris I PMII Cabang Jombang 2016-2017

  • view 239