Refleksi Ramadhan : Pemikiran Sufisme Menurut Al-Ghazali

Ririf Zuhr
Karya Ririf Zuhr Kategori Agama
dipublikasikan 11 Juni 2016
Refleksi Ramadhan : Pemikiran Sufisme Menurut Al-Ghazali

Moment Ramadhan digunakan kebanyakan kaum muslim untuk taqarrub kepada Allah, baik secara individual maupun berjama’ah, baik ibadah ritual maupun sosial, tidak lain untuk mengharap ridho Allah SWT. Amiin.

Tradisi keagamaan masyarakat Indonesia, juga tidak luput dari pengaruh “sufisme” dari beberapa tokoh sufi yang tersohor yang mempunyai banyak pengikut serta pengamalnya. Sebagai kaum mayoritas, Jam’iyah Nahdhiyin (Nahdotul Ulama’) juga tidak kalah kental dengan ritual-ritual keagamaannya. Khususnya kontribusi pemikiran “sufisme” Al-Ghazali sebagai panutan amaliah dalam hal bertasawuf.

Oleh sebab itu, mengingat urgentnya korelasi antara amaliah Ibadah dan sumber/sanad amaliahnya, maka penulis berkeinginan berbagi lebih dalam tentang pemikiran sufisme menurut Al-Ghazali, agar tidak terjadi taklid dini maupun akut.

Dalam hal pemikiran sufisme menurut Al-Ghazali tidak terlepas dari pembahasan akal, dan posisinya dalam bertasawuf. Secara epistemologi pemikiran tersebut bersumber dari pengetahuan intuitif yang dibangun di atas dasar-dasar pemikiran yang rasional. Paling tidak, menurutnya ada dua fungsi akal dalam pengalaman sufisme. Pertama, akal sebagai prasarana bagi jalan tasawuf yang berfungsi untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan dibutuhkan bagi jalan tasawuf. Kedua, sebagai sarana dan alat evaluasi yang berfungsi untuk melakukan pengujian dan penilaian kritis terhadap pengalaman dan pengetahuan sufistik yang diperoleh.

Al-Gahazali melalui pemikiran sufistiknya berupaya mengembalikan ajaran Islam kepada sumber fundamental dan histories serta dengan memberikan suatu tempat yang khas bagi kehidupan emosional keagamaan (esoteric) dalam sistemnya. Atau lebih kongkritnya, Al-Ghozali berusaha merumuskan ajaran-ajaran agama Islam yang dipenuhi muatan-muatan sufistik dengan bahasa dan analogi yang mudah diterima oleh orang awam. (Shofiyullah, Memandang Ulama Secara Rasional, Yogyakarta: Kutub, 2007, 170)

Dalam hal ini Fazlurrahman berpendapat bahwa Al-Ghazali merupakan pembaharu sufisme pertama dan terbesar, sebab ia telah membawa sufisme kepada konsepsi Al-Qur’an tentang Tuhan sebagaimana dirumuskan dalam dasar-dasar teologi Asy’ariah (yang dianut oleh paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah), (baca : Skeptis Al-Ghozali, yang memborbardir para filsuf tentang konsep ketuhanan, dan dominasi akal sebagai sumber kebenaran)

Namun, menurut Simuh salah satu sisi kelemahan dari kompromi Al-Ghozali adalah kodrat ilmu kasyfi yang pada dasarnya irrasional, anti kritik penalaran. Maka pengutamaan ilmu kasyfi seperti yang diketengahkan oleh Al-Ghazali, langsung atau tidak langsung memberikan dampak positif dan negatif dalam pemikiran Islam itu sendiri.
Seandainya para sufi, tidak lagi tertarik pada ilmu taklimiah, maka juga akan menimbulkan kemunduran dan keterbelakangan pemikiran, yakni kurang tanggap terhadap perubahan dan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, konsep teologi moderat Asy’ariah yang hadir di tengah-tengah kaum rasional dan irrasional adalah jawaban dari pentingnya keseimbangan dalam mengfungsikan akal dan juga hati sebagi sumber kebenaran dari Tuhan.(Rif'atuz Zuhro)

(Penulis adalah Kader PMII Cabang Jombang, Mahasiswa semester VIII STIT Al-Urwatul Wutsqo Jombang)

  • view 153