Kejahatan Seksual Anak, Horor!

Ririf Zuhr
Karya Ririf Zuhr Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 Mei 2016
Kejahatan Seksual Anak, Horor!

Kejahatan Seksual Anak, Horor!

 

Oleh: Rifatuz Zuhro*

 

Krisis mentalitas, moral dan karakter anak bangsa nampaknya menjadi tamparan tersendiri untuk seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih dengan terkuaknya kasus "Yuyun" yang disusul dengan kasus-kasus lainya.

 

Seperti gunung es dalam lautan, saat ini hanya muncul beberapa kasus yang menimpa anak-anak dan perempuan, baik pelecehan seksual maupun tindak kriminal terhadapnya. Besar kemungkinan juga masih banyak lagi kejadian yang tidak terekspos media yang siap membuat kita terbelalak.

 

Kasus Yuyun, mengetuk kita untuk kembali merefleksikan apa penyebab dari tindakan kriminalisme yang progesif pada saat ini. Padahal anak-anak, pemuda ialah penerus titah perjuangan bangsa, jika mereka sudah tak manusiawi lagi, sangat horor  untuk berspekulasi ke depan.

 

Tindakan tersebut semakin upgrade, juga disebabkan karena lemahnya hukuman untuk para pelaku kejahatan seksual, yang dinilai tidak memberikan efek jera bagi para "predator". Saat ini, muncul beberapa opsi hukuman yang sekarang menjadi Rancangan Undang Undang (RUU) yang dinilai layak bagi penjahat seksual tersebut, diantaranya hukuman mati hingga kebiri. 

 

Selain peran aktif pemerintah dalam kaca mata hukum, hal yang genting juga kondisi tersebut perlu ditinjau dari sudut pendidikan bangsa saat ini.

 

Mengutip "World declaration of Higher Education for the Twenty-First Century: Vision and Action" (Unesco, 1998). Dalam deklarasi yang dirumuskan pada "World Conference on Higher of Education" (Paris, 5-9 Oktober 1998) menyangkut misi dan fungsi pendidikan, dalam hal ini perguruan tinggi antara lain dinyatakan: bahwa perguruan tinggi juga memiliki misi dan fungsi untuk membantu melindungi dan memperkuat nilai nilai sosial dengan melatih anak anak muda dalam nilai-nilai yang membentuk dasar kewarganegaraan demokratis, dan dengan memberikan perspektif kritis dan tidak bias guna membantu dalam pembahasan tentang pilihan-pilihan strategis, dan penguatan perspektif humanistik.

 

Disinilah semakin menegaskan bahwa pendidikan adalah solusi dari segala masalah yang ada, termasuk kriminalisme seksual. Pemuda seharusnya aktif dengan kegiatan-kegiatan positif nya, malah terjerembab dan tertarik dengan "Dunia Sex". Pendidikan secara komprehensif tentu sudah mulai ditata oleh para intelektual pendidikan sejak lampau, namun secara aplikasi nya memang membutuhkan evaluasi sistem nya di setiap penerapan kurikulum.

 

Re-orientasi pendidikan sudah selayaknya ditata kembali, yakni untuk mencerdaskan anak bangsa. Fakta yang terkuak, justru anak tidak hanya menjadi korban pelecehan seksul tapi juga menjadi pelaku. Peran pendampingan keluarga, guru, masyarakat, dan pemerintah sebagai pengatur sistem sudah semestinya menerapkan sikap "peduli" terhadap masa depan anak, tidak hanya berkewjiban mengembangkan kognitif saja, namun budi pekerti dan prilaku positif aktif menjadi out came dari proses pembelajaran itu sendiri.

 

Peran perguruan tinggi sebagai tempat kaderisasi pemuda, adalah wadah yang strategis untuk mencetak insan-insan idealis, berwawasan luas, dan progresif dalam menanggapi tantangan bangsa. Sudah selayaknya lulusan dari perguruan tinggi menjadi kontrol sosiap dan mampu mengemban tanggung jawab sosial. 

 

Pendidikan yang progessif (peka dan gerak), lingkungan yang aman, masyarakat yang ramah (peduli), dan pemerintah yang sinergis dengan seluruh elemen kehidupan  yang akan mampu menciptakan kondisi yang layak dan perawatan ideal untuk anak-anak bangsa.

 

Pekerjaan Rumah (PR) tidak hanya untuk pemerintah (merevisi Undang Undang kejahatan seksual, menerapkan sistem pendidikan nasional yang relevan terhadap perkembangan zaman), kaum akademisi (aktor pendidikan sosial, etika, moral, dan budi pekerti, peka sosial, peduli, dan bergerak total, pengabdian masyarakat) semata, namun peran kontrol sosial dari masyarakat juga sangat penting "Jangan menunggu untuk tahu anak siapa, tapi bergegas peduli terhadapnya, sangat berkesan baginya".

Di moment Hari Kebangkitan Nasional ini, katakan bahwa Indonesia Bangkit Peduli Anak, Generasi Emas Bangsa untuk masa depan bangsa.

 

*Penulis adalah Mahasiswa STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang, dan Aktivis PMII  Cabang Jombang

 

 

 

 

  • view 190