Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 16 Maret 2018   10:20 WIB
Cadar dan Wanita yang Diatur-atur

Oleh: Rif'atuz Zuhro*

Terlepas dari seperti apapun hukum memakai cadar, entah ia sendiri adalah hukum atau budaya saya sendiri tidak kuasa akan hal itu. Karena sebelumnya juga telah banyak pakar, aktivis, praktisi yang mengeluarkan gagasan nya secara sungguh-sungguh (ijtihad?) dengan mencari dan menafsiri dalil untuk memperkuat gagasan yang diyakini nya melalui tulisan-tulisan di media. Jadi saya tidak akan berusaha ikut campur soal dalil dan mendalil-dalil.

Saya mencoba melihat dari sudut pandang sebagai wanita yang merdeka yang saat ini saya bisa menikmati jalan hidup yang saya pilih, berjilbab dan pulang malam.

Entah kenapa wanita selalu menjadi objek bulan-bulanan aturan yang diatur-atur (bukan aturan). Wanita dikondisikan untuk tunduk dengan norma atau dogma agama yang mengancamnya dengan siksa dan neraka, pahala dan syurga.
Atau juga kadang kita tidak sadar tengah nyinyir dengan pilihan yang telah dipilih wanita seperti yakin memakai rok mini, maupun yakin memakai cadar.

Seperti satria baja hitam para pria dewasa (karena mengaku sudah ijtihad) seolah hawatir dan ingin menyelamatkan wanita-wanita yang akan masuk neraka karena tingkah polahnya di dunia.
"Tunduklah, maka kau akan mendapatkan syurga," halunya.
"Emang kalian punya kunci syurga, atau mau membawa kami ke syurga-syurga kalian yang kalian namai syurga nya Tuhan?"

Halah, lupakan.

Ajaran-ajaran toleransi, syair-syair toleransi dipraktikan dengan cara tidak toleransi. Ya mana bisa dikatakan toleransi? Ya mana bisa ajaran atau syair toleransi itu akan sampai kepada yang kalian anggap calon penghuni neraka? (Haaaa? Jawab saja dalam hati).

Kalian anggap wanita yang pakai rok mini akan masuk neraka? Kalian anggap wanita yang pakai cadar masuk neraka? Emang kalian yang punya neraka? Sehingga tau kriterianya? Juragan neraka!

Jangan-jangan kita yang mengaku toleransi dan menghukumi orang lain radikal justru kita sendiri yang radikal karena tidak toleransi? Aku makin bingung apa yang kalian anggap toleransi dan apa yang kalian anggap radikal.

Kita selalu mendakwahkan islam damai, islam toleran, yang seharusnya dilakukan dengan cara-cara toleran pula. Mengetuk dengan hati, maka pintu langit akan membuka. Bukan dengan cara-cara frontal seperti cambuk yang memecuti yang menghakimi seseorang yang sedang mencari kualitas beragamanya.

Mungkin saat ini yang dipahaminya adalah bagian usaha untuk meyakinkan identitasnya sebagai muslim. Tugas kalian yang lebih ahli adalah bagaimana caranya meningkatkan kualitas beragamanya yang semula diawali dari kulit hingga masuk menjadi intisari hakikat beragama. Pun sama bagaimana yang diawali dengan menanam isi bisa akhirnya terlindungi dengan kulit yang baik.

Saya sendiri masih meyakini, orang mahir, orang terpelajar akan adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.

Kita tidak bisa menghakimi orang karena identitas yang dipilihnya, justru akan membuat sekelompok orang yang meyakini cadar adalah pilihan terbaiknya akan semakin teguh pendirian dan yang menghakiminya hanya akan dicap sebagai syetan yang sedang menghalang-halangi mereka berhijrah.

Tentu jilbab (juga cadar) tidak bisa dijadikan ukuran atau bukan satu-satunya ukuran apakah ia wanita yang memakai cadar adalah muslim paling sejati.

Meski ada juga wanita berjilbab yang cerdas, yang mempunyai kepekaan sosial tinggi, yang kita tidak tau amal baik apa yang telah ia perbuat. Pun sebaliknya meski ada wanita muslim yang memilih tidak berjilbab yang taat beribadah berbuat baik kepada sesama yang kebaikannya tidak kita ketahui.

Jika hanya soal dogma politis, politik identitas jangan sejauh ini. Jika ini kalian anggap perang moderat dan radikal, tolong pikirkan orang awam yang masih perlu belajar pada kalian.

Tampunglah dan terimalah dengan apa adanya, akui sebagai saudara sesama manusia yang sedang sama-sama mencari ridho-Nya Tuhan.
Jika Tuhan bersama wanita yang tidak berjilbab atau bercadar, Tuhan juga bersama mereka yang berjilbab ataupun bercadar. Tuhan tidak akan meninggalkan kami, tenang saja, jangan repot-repot menawarkan syurga.

Biarkan saja kami belajar dengan apa yang kami imani, untuk para wanita (muslim), mulailah saling percaya dan tidak menghakimi seperti yang sudah menghakimi. Entah kalian berjilbab tidak berjilbab, bercadar tidak bercadar, percayalah wanita itu baik sehingga kita tidak perlu mencari legitimasi kebaikan dari aturan yang diatur-atur untuk wanita (juga perempuan).

*Simpatisan asal Jombang yang sedang bermain-main di Ibu Kota

Karya : Ririf Saja