Bahagia Mereka Susahnya Kami

Rio Kurniawan
Karya Rio Kurniawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2016
Bahagia Mereka Susahnya Kami

Hari itu kami sebagian dari kelas berencana liburan ke air terjun untuk refreshing setelah beberapa bulan kami dibuat sibuk oleh progam mata kuliah . Aku berharap teman – teman satu kelas dengan aku bisa ikut acara ini .Tapi harapan sirna karna hanya sebagian teman – teman sibuk dengan kerepotanya sendiri .

Sampailah pada hari itu kami jadi berangkat meski hanya beberapa teman. Ditengah – tengah perjalanan kami ada niat untuk menitipkan salah satu dari kendaraan kami ketempat temankku SMA agar tidak terlalu banyak kendaraan yang kami bawa. Sekalian tanya kemana jalan menuju air terjun yang akan kami tuju. Kami diantar oleh temankku sewaktu SMA , belum sampai ke tempat tujuan kami dibingungkan oleh salah satu temanku yang hilang dari rombongan kami. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan mungkin dia sudah sampai ditempat tujuan. Teryata tidak, dia tidak ada ditempat yang kami tujumenurut sumber yaitu temanku SMA diasana ada 2 air terjun kemungkinan temanku yang hilang tadi ada di air terjun satunya. Sampai disitu temanku SMA mengantarkan kami karna dia masih ada perkejaan lain dirumah. Aku menyuruh rombongan untuk cepat-cepat naik duluan kegunung karena perjalanan tinggal menaiki gunung. Sedangkan aku sendiri yang kembali untuk mencari temankku yang hilang tadi.

Diperjalanan mencari tidak sengaja aku menemukanya dan mengajak kembali kerombongan. Kami rombongan menaiki gunung bersama – sama dengan medan jalan yang sangat sulit. Jalanya naik bertanah dan jalanya sangat kecil ,licin, sisi kanan dan kiri sudah jurang belum lagi harus naik dengan membawa sepeda motor. Diperjalanan naik yang cewek membawakan helm yang cowok bergotong royong untuk menaikan sepeda motor. Setapak demi setapak kami berjalan tak ada tanda – tanda bahwa kami hampir sampai. Kami berhenti sejenak untuk melepas kelelahan sambil bercanda ,ada yang minum, ada yang saling ejek satu sama lain, ada yang mengobrol. Disitu aku mencoba untuk menaiki sendiri untuk melihat medan dan seberapa jauh lagi jalan yang harus kami tempuh. Entah sudah seberapa jauh aku meninggalkan rombongan tapi juga belum ada tanda-tanda kalau aku hampir sampai yang ada hanyalah bentangan jalan yang semakin sulit. Ditengan perjalanan aku merasa kesulitan karena jalan amat sangat rusak dan tidak mungkin q sendiri bisa naik melewati jalan ini. Disitu saya berniat untuk kembali saja dan untuk memberi tahu bawasanya tidak mungkin kita bisa sampai tujuan sesampainya dirombongan kami berdiskusi . hasil diskusi adalah kembali dan pindah air terjun yang satunya.

Dengan rasa kecewa kami kembali dan menuju air terjun satunya. Belum sampai ketempat yang kami tuju lagi aku dan dengan 2 temanku dan 1 teman baru kami kena masalah ketinggalan jejak oleh rombongan kami berempat tersesat parahnya salah satu dari kami tidak ada yang tahu jalan menuju ketempat itu. Yang tahu hanya temanku yang hilang tadi sedangkan dia ada didepan jauh. Kami berempat berhenti disebuah warung untuk melepas kelelahan sambil menunggu sesuatu hal yang mungkin jarang terjadi yaitu menunggu jemputan dari salah satu rombongan kami yang mungkin sudah sampai ditempat. Tapi apa yang kami dapat hanyalah sebuah kekecewaan tak ada satupun yang menjemput kami. Akhirnya kami berempat memutuskan untuk bertanya kepada pemilik warung dan melanjutkanya perjalanan bukanya kami sampai malah kami semakin tersesat jauh. Bukan salah si pemilik warung tapi slah kami yang salah menanyakan dimana tempat. Kami dihentikan oleh dua arah jalan kami berhenti sejenak untuk berfikir jalan mana yang harus kami lewati daripada kami semakin jauh tersesat kami memutuskan untuk kembali untuk pulang . tidak jauh kami kembali kami melihat bapak-bapak yang sedang mencari rumput langsung saja kami bertanya kepada bapak itu kemana jalan menuju tempat yang ingin kami tuju teryata benar apa yang diberitahukan bapak itu memang benar .

Sesampai ditempat parkir disitu kami melihat sepeda motor rombongan kami tapi tak ada satu anak yang ada disitu mungkin sudah berjalan dulu menuju air terjun itu. Kami langsung parkir dan menyusul mereka. Tak lama berjalan salah satu dari kami berempat ada yang kelelahan dan kami berhenti sejenak dan berbincang-bincang

“gimana kuat apa gak kalau gak kuat biar aku sendiri yang naik kalian kembali aja” kataku

“hey gak seperti itu kita berangkat berempat tersesat juga berempat kenapa harus pisah lagi kalau kamu terus aku dan yang lainya juga terus kalau kamu kembali , kita harus juga kembali bersama-sama” ujar seorang gadis SMA temanya temanku

Aku langsung diam difikirkku “benar juga apa yang dikatakan anak ini”

“terus enaknya gimana terus berjalan apa kembali ke parkiran” kataku

“ya udah kita terus aja sampai ketemu teman rombongan kita” ujar dia anak SMA

Dan akhirnya kami terus berjalan tak jauh kami berjalan kami melihat mereka rombonganku berjalan kembali kami berempat berhenti untuk menunggu mereka

“kemana aja kamu tadi” ujar salah satu dari mereka

“aku tersesat” kataku

Disitu aku menceritakan semuanya tentang apa yang kami berempat terjadi

“yuks kita kembali saja”kataku

“apa kamu gak pengen sampek atas sana”ujar mereka

“enggak usah kembali saja udah sore mau malam yuks pulang saja”ujarkku

Dan kami bersama-sama berjalan kembali dengan hati yang sangat kecewa tidak bisa sampai ketempat itu. Tapi tak apa disini aku mendapatkan banyak pelajaran.

Perkataan buat mereka

Saya tidak menitik beratkan sebuah tujuan tapi sebuah perjalanan

  • view 89