Kami Yang Introvert

Rio Tryzal Putra
Karya Rio Tryzal Putra Kategori Motivasi
dipublikasikan 04 Februari 2016
Kami Yang Introvert

Teman saya pernah bilang begini, "Hidup kamu saat ini sebagai mayoritas.? Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang minoritas sebelum kamu mengalaminya sendiri".

Ok, kalau dilihat dari berbagai nilai, kelas, pemilah-milahan standar hidup masyarakat, selalu ada kategori mayoritas dan minoritas. Baik dari warna kulit, agama, ras, suku, politik, kelas sosial, bla bla bla. Dan yeah, dari hal-hal itu saya adalah mayoritas di lingkungan saya, tetapi percayalah, tidak ada yang saya banggakan dari label saya sebagai seorang mayoritas. Masuk ke permasalahan yang akan saya bahas. Saya menemukan kenyataan bahwa ada yang salah berbeda dengan diri saya.

Saat teman-teman saya senang menghabiskan waktu dengan bergerombol kesana kemari, Di saat teman-teman saya senang dengan segala keramaian (konser musik, pertandingan antar sekolah, jalan-jalan ke mall saat weekend) yang menurut mereka bagus untuk menyegarkan diri, saya justru layu bila menjadi bagian dari keramaian itu. Saya punya cara sendiri untuk menyegarkan diri. Saya akan segar dengan menyendiri.

Teman-teman saya, mereka lebih bisa diterima dalam pergaulan, sedangkan saya tidak. Lalu, saya berpura-pura untuk mengikuti arus, agar bisa diterima oleh standar masyarakat. Saya berbicara ini itu, bergerombol dalam keramaian, menjadi penyemangat pertandingan antar sekolah. Then, am I happy? No. Saya tidak bisa menyehatkan kepala saya dalam dunia yang berisik. Saya tidak bisa lagi mendengar semesta berbicara dengan saya. Saat saya sadar bahwa saya tidak nyaman dengan berpura-pura, saya ingin kembali menjadi 'Si aneh'.

Si aneh yang senang sendirian.

Si aneh yang sering di cap sombong.

Si aneh yang harus dirayu agar mau diajak 'bersenang-senang'

si aneh yang suka bicara sendiri

si aneh yang yg bla...bla...bla....

Menyedihkan?

Haha...Mungkin saya ini anti sosial, mungkin otak saya terguncang waktu kelapa jatuh kekepala sy saat kecil,? mungkin saya mengalami gangguan jiwa, mungkin saya ini alien, mungkin saya ini jelmaan siluman, dan lain sebagainya Lalu saya mencari pembenaran, apa yang terjadi dengan saya.?Akhirnya, setelah menikmati sajian Psikologi dari berbagai sumber, saya menyadari bahwa saya ini tidak gila, saya bukan siluman, .? Saya ini normal. Hanya saja, saya diberkahisesuatu yang kurang bisa diterima oleh standart kelayakan masyarakat.

Lima milyar penduduk dunia.?Saya hanya menjadi bagian 11,6% diantara mereka.

Minoritas. Akhirnya, saya menjadi seorang minoritas.Akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya. Not bad.

Dan dengan ini saya umumkan bahwa saya INTROVERT.

?Introvert:

  • Energi mereka didapat dari interaksi pada diri mereka sendiri, batin mereka sendiri.
  • Menyukai suasana yang sepi dan kesendirian.
  • Sedikit teman, karena mereka lebih suka pertemanan intim yang setia.

mereka mendapat energi dari dalam dirinya, dari pemikirannya, dari batinnya, hidup mereka bermakna apabila mereka memahami dan menghargai diri mereka sendiri.

?

Introvert dalam minoritas.

Kami para introvert, jumlah kami jauh lebih sedikit, sehingga kecenderungan kami untuk bersenang-senang dengan pikiran kami sendiri sulit dimengerti dan diterima oleh para ekstrovert. Pada akhirnya, kami menjadi komunitas yang aneh dan tersisih. Padahal jika kalian tahu, pikiran milik kalian adalah sesuatu yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara, Bumi kalian, bunga, langit dan?ah, saya lupa, para ekstrovert lebih suka saling berbicara dan bersenang-senang sesama manusia. Hehehe, peace.

Orang supel lebih disukai oleh masyarakat, orang yang mudah berbicara akan langsung dicap sebagai pribadi yang hangat, orang yang mudah mengemukakan pendapatnya akan langsung diberi tepuk tangan. Setuju atau tidak, stigma yang berkembang di masyarakat adalah, ekstrovert mudah diterima, sifat mereka baik untuk kehidupan, masa depan mereka cerah, karena manusia adalah makhluk sosial.Sementara itu, para introvert harus menghadapi konsep manusia adalah makhluk sosial. Dimana untuk bersosialisasi, kita harus (minimal) memakai bibir untuk bercuap-cuap agar bisa diterima sebagai makhluk sosial (sedangkan introvert hanya berbicara jika memang perlu berbicara). Jika tidak bisa mendayagunakan bibir, padahal kalian normal dan tidak ada yang salah dengan mulut kalian, maka kalian akan langsung dicap suka menyendiri, susah bergaul, anti sosial, dan SOMBONG. Itulah masalah yang paling sering dihadapi oleh seorang introvert.

Kami para introvert terlihat sering menyendiri (padahal tidak selalu), karena disanalah kami mendapatkan energi dan pemahaman akan diri kami sendiri, yang sulit dimengerti oleh para ekstrovert. Kami terlihat sulit bergaul, karena kami senang bermain-main dengan pikiran kami terlebih dahulu sebelum deal dengan orang lain. Kami bukan anti sosial, seorang introvert tidak selamanya diam, mereka juga butuh orang lain untuk berbicara, curhat, mengemukakan ide, bahkan gila-gilaan dan bisa 'sinting', tetapi dengan sangat berhati-hati, yang biasa kalian sebut dengan tertutup. Terakhir, kami bukan makhluk sombong. Semudah itukah menyebut kami sombong?

Saat kami ingin sendiri, kami tidak sedang bermasalah, depresi, ataupun sakit. Kami hanya ingin sendirian untuk mengisi ulang energi kami, energi yang telah habis saat kami menjalankan kewajiban untuk bersosialisasi, sangat melelahkan. Sekali lagi, kesendirian dan memahami diri sendiri adalah sumber energi kami. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau disekeliling kami ramai dan bising??Bukan berarti kami ingin hidup di tengah hutan. Kami senang dengan dunia luar yang tenang. Kalaupun kami harus masuk ke dalam kebisingan, pesta, konser, mengerjakan proyek bersama, arisan, ngerumpi, kami tidak keberatan, tetapi seperti yang saya tulis di atas, kegiatan itu melelahkan pikiran kami, energi kami akan habis.

  • view 343

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    tentu, karena hidup ini terlalu sebentar untuk dihabiskan berpura-pura menjadi orang lain

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    hahaha, saya tahu dengan benar apa yang kamu rasakan. saya merasa saya introvert, tetapi mudah bergaul, mudah menyampaikan pendapat, tidak pemalu dan punya banyak teman. atau apakah saya ambivert? haha jika dari lima milyar penduduk bumi 11,6% adalah introvert lalu berapa persen presentase untuk extrovert dan ambivert? jangan-jangan ambivert lebih minoritas??

  • Henik Rahma
    Henik Rahma
    1 tahun yang lalu.
    Sudah pernah lihat videonya Susan Cain ini https://www.youtube.com/watch?v=c0KYU2j0TM4? I love it.