Idiealsme dan sekaleng susu

Rio Kencono
Karya Rio Kencono Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Idiealsme dan sekaleng susu

"Maafkan aku Tan Malaka, Soekarno, dan Marx," ungkapan itu mungkin harus aku utarakan kepada para tokoh revolusioner yang bukunya kerap aku baca.

Dahulu, aku pernah bermimpi. Mimpi yang seolah dapat aku wujudkan, bahkan mimpi itu seperti berada beberapa langkah saja didepanku untuk aku wujudkan. ya, mimpi itu adalah mimpi yang mungkin ada di kepala kebanyakan para aktivis mahasiswa, Mimpi merubah dunia. Dengan sebuah kata motivasi yang selalu menjadi andalan, "berikan aku 10 pemuda, maka akan saya guncang dunia," Soekarno.

Ketika aku tersadar impianku untuk merubah dunia hanyalah impian yang skeptis, perlahan aku mulai mencari pembenaran bahwa mimpi itu aku dapat bangun jika aku mampu merubah daerah kelahiranku. Ketika hal itupun belum sanggup aku rubah, impian itu sirna ketika aku harus menafkahi keluarga kecil yang sedang aku bina.

"Apakah idiealismeku bisa ditukar dengan sekaleng susu?"

"Apakah perjuanganku bisa diganti dengan sekarung beras?"

"Apakah impianku bisa aku gadaikan untuk senyum anak dan istriku?"

begitu banyak pertanyaan yang harus aku jawab demi menghadapi realitas bahwa aku hidup bukan membawa perutku saja, namun ada istri dan anakku yang sudah koheren menyatu kedalam tanggung jawabku ketika aku memutuskan untuk menyatakan janji ijab-qabul pernikahan.

Panjang perjalanan dan waktu yang aku habiskan untuk mencari sebuah titik equiblirium, yang bisa menyatukan antara impianku merubah dunia dengan membuat keluargaku bahagia. Hingga ada 2 kalimat yang menghampiriku dari 2 orang yang berbeda, satu dari seseorang yang kerap aku cibir dengan kelakuannya yang kompromistis bahkan cenderung oportunis pragmatis dan kalimat lainnya muncul dari lidah sahabatku yang dilahirkan pada era yang sama ketika kita sama berjuang untuk menwujudkan mimpi merubah dunia. kalimat itu masuk kedalam otakku, hingga akhirnya merangsek kedalam sendi ingatan refleksi berfikirku.

"Apakah kamu bisa, memasukan idielismemu ke kantung sakumu, hingga bisa menjadi isi dompetmu?"

"Jadilah seorang idealis yang profesional, dan pragmatis yang proporsional,"

2 kalimat berbeda, namun mengarahkanku kedalam jurang pragmatis untuk mengubur impianku menjadi sosok yang ingin merubah dunia dengan mengandalkan nilai-nilai luhur idealisme.

Dihari ketika aku tidak mampu lagi menjawab realitas bahwa, istriku sedang mengorek isi kaleng susu anakku untuk 2 botol terakhir, ketika istriku menyindirku tanpa kata dengan membalikan botol minyak telon yang isinya hanya tersisa beberapa tetes atau bahkan hanya bersisa aromanya saja. Itu adalah jawaban bahwa aku harus memilih satu jalan, yaitu membahagiakan keluargaku.

karena ternyata, kebahagian keluarga merupakan langkah awal untuk kita menaklukan dunia. namun, apakah aku yang sudah terlambat, masih mampu untuk mengejar impian-impianku lagi? #

?

  • view 121

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Pilihan tema dan cara mengungkapkan sudah sangat ok, hanya perlu nambah sedikit memperhatikan ulang penulisan istilah-istilah dan tata bahasa, agar orang lain juga menikmati ide yang bagus ini.