Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 12 Februari 2018   10:03 WIB
Menggores Makna

Dengan menyebut Asma-Nya kuawali tulisan ini. Tulisan yang ide pokoknya lama menggantung di benak sebelum dituangkan....

Ingin kuberi judul dengan kata menggurat, namun kisah masa silam pada seseorang mengalihkan diksiku.

Awal tahun 2000-an, seorang anak kecil baru saja berhasil menggores sebuah huruf. Sederhana, namun menyinari hatinya sepanjang hati itu. Tak puas menggores di media yang seharusnya, spidol dalam genggaman mungilnya dibawa keluar kamar.... dan huruf S digoresnya perlahan di lemari dan benda-benda lain. Baginya, satu huruf itu perlu 'diabadikan' atau juga sebagai pertanda dari hasil kerja kerasnya. Hingga bertahun-tahun kemudian, goresan huruf S miliknya masih melekat di sana.

Goresan bagiku punya makna yang mendalam. Darinya lahirlah tulisan. (Meskipun untuk menghasilkan tulisan pada zaman ini tak mesti didahului dengan menggores, hanya dengan mengetikkan jari pada tuts keyboard atau pada layar sentuh). Goresan yang baik pasti akan bermuara pada tulisan yang baik. Ah, benarkah itu? Niat yang baik atau ikhlash saja tak pernah cukup untuk menghasilkan amal yang baik, bukan? Tidak ingatkah kita akan syarat diterimanya amal? Ikhlash dan ittiba' (mengikuti) petunjuk Rasuulullaah صلى الله عليه و سلم menjadi kunci diterimanya amal kita....
Maka begitu pula pada tulisan yang kita hasilkan. Alangkah baiknya jika kita tidak hanya berbekal niat baik semata dalam menggoreskan sesuatu (baca: menulis), akan tetapi perlu adanya pengetahuan mengenai tulisan yang baik sesuai syariat. Kita boleh saja beranggapan goresan yang kita miliki akan berdampak positif, tapi apakah agama membolehkannya? Apakah Allah dan Rasuulullaah ridho dengan goresan kita?

Sungguh, menulis tentang ini sebenarnya lebih tepat ditujukan untuk diri saya sendiri. Hal urgen dalam menulis yang banyak terluput dari kita dan saya pribadi. Keinginan untuk terus menulis itu tetap ada, namun segala macam bebayangan berseliwetan di benak. Semoga setelah ini tulisan yang dibagikan adalah yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Saya belum memiliki acuan khusus mengenai bagaimana tulisan yang baik dalam syariat. Baru sebatas suatu hal yang ingin saya ungkapkan. Bahwa niat saja tak cukup, bukan? Ada proses, tata cara, metode, maupun sistematika penulisan yang tidak boleh melanggar syariat. Bahwa tulisan yang kita goreskan mampu dipertangunggjawabkan di Hari Akhir. Bahwa tulisan kita tidak hanya dituangkan, namun juga mampu meredakan dahaga pembacanya dalam koridor syariat.

Baiklah, mungkin untuk kali ini saya tidak membahas lebih panjang. Ada baiknya menggali juga menelaah secara seksama tentang hal ini........ dan bagi yang memiliki referensi terkait 'tulisan yang syar'i' silakan post di kolom komentar, ya?



Di malam yang mengawali Muharram 1439 Hijriyyah

Karya : Rizqa Amalia