Aku Benci Lebaran

Rina Kartomisastro
Karya Rina Kartomisastro Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Juli 2016
Aku Benci Lebaran

Aku Benci Lebaran
Oleh : Rina Kartomisastro

Ketika semua sibuk membeli baju dan sepatu baru, aku hanya bisa termangu. Paling bagus, mengunjungi pusat perbelanjaan, mengitari etalase atau menekuri manekin, berperan sebagai pembeli yang memilih-milih, lalu kembali pulang. Itupun bila tidak keburu diusir pihak keamanan.

Aku benci lebaran.
Saat semua orang sibuk mengeluh tentang semua bahan makanan yang menjadi lebih mahal, aku hanya bisa memakan sayuran yang dipetik gratisan. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Bila beruntung, ada orang yang memberi daging yang belum tentu bisa kumakan setiap sebulan. Lalu akan kuhabiskan sampai beberapa hari ke depan.

Aku benci lebaran.
Banyak yang bersedih karena tidak kebagian tiket pulang. Ada pula yang mengeluh terus-terusan, karena harga tiket begitu menjulang. Sementara aku disini, bahkan tak bisa berpikir untuk pulang ke kampung halaman. Mau kemana? Rumahku di bawah jembatan, diantara lalu lalang kendaraan, di balik kardus-kardus rongsokan, di tengah tikus selokan yang bernyanyian sepanjang malam.

Aku benci lebaran.
Banyak orang yang asal ikut merayakan. Padahal puasa sehari saja, hasil paksaan. Sholatnya pun, malas-malasan. Datang ke masjid, sekadar ikut-ikutan. Giliran undangan makan-makan, berdiri di garis paling depan. Seandainya ia tahu ada aku yang berpuasa terus-menerus karena keadaan.

Aku benci lebaran.
Hari-hari yang sudah begitu sepi kulalui, menjadi jauh lebih mencekam. Kau tahu rasanya mendengar gema takbir seorang diri, tanpa ada keluarga di sisi, sementara semua orang tengah menikmati kebersamaan dengan orang kesayangan? Dan tak ada satupun yang peduli. Mereka sibuk dengan kebahagiaannya masing-masing. Rasa-rasanya ingin sekali memaki, mengapa aku harus sendiri?! 

Aku benci lebaran.
Karenanya, aku tak lagi merasakan kehangatan orang-orang yang berbagi. Karenanya, masjid-masjid kembali sepi. Karenanya, aku harus terpisah dengan bulan suci ini. Padahal rasanya baru kemarin suasana damai kurasakan. Padahal belum juga ibadahku terpuaskan. Coba pikir, apalagi yang bisa diandalkan orang yang tak punya sepertiku, selain mendekat kepadaNya diantara dinginnya malam? Apa yang bisa kulakukan selain beribadah sebanyak-banyaknya sembari memohon supaya besok masih bisa makan?

Aku benci lebaran.
Melihat mereka yang serba berkucukupan, tak henti mengeluh segala macam tentang puncak perayaan di Bulan Ramadhan itu.
Sementara aku, sekadar bermimpi merayakan saja, tak mampu.

Sumber gambar : https://id.pinterest.com/azert480/manga-hijab/