Wahai Engkau Lelaki Pujaan

Rina Kartomisastro
Karya Rina Kartomisastro Kategori Inspiratif
dipublikasikan 30 Juni 2016
Wahai Engkau Lelaki Pujaan

"Kau... seperti buku diktat tebal favorit yang tak habis-habis dibaca- @rinkart_"

Teruntuk kau yang kugantungkan hidupku...

Aku tahu, sangat berat memikul semua tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga.

Kaupun tahu, sejak dulu, hidup tak pernah mudah, bukan?

Tapi kita sama-sama tahu, sepanjang kita bersama, akan selalu ada jalan yang terbuka, karena kita bahagia.

Kepada kau yang membersamaiku menata masa depan...

Aku paham, betapa letihnya jiwa dan raga setiap kau pulang kerja.

Tapi mungkin kau sering lupa, aku pun merasakan hal yang sama. Bedanya, kau memiliki waktu letih dan waktu senggang yang teratur. Sementara letihku tak begitu kentara, karena aku hanya ibu rumah tangga.

Tapi pernahkah aku mengeluh? Aku bahkan tak sempat begitu, karena keburu disibukkan dengan kerepotan mengasuh anak kita dan segala tingkahnya, sejak bangun hingga kembali tidur. Begitupun aku tak apa, toh masa depan cerah sudah menunggu di depan sana, kita berdua, keluarga kecil kita.

Untukmu yang memilihku menjadi teman masa tua...

Aku mencintai dirimu adanya. Meski bibir ini kerapkali mengatakan hal yang menyakitkan, percayalah, itu bukan disengaja. Tak ada niat sedikitpun membuat terluka. Hanya kadang aku ingin dirimu menjadi lebih baik, seperti setiap kau membentakku di sela perbincangan kita. Hatiku sakit, memang. Namun kemudian aku tahu itu caramu menunjukkan rasa cinta dengan cara yang perkasa, karena kau pria.

Demikian kita terus berusaha saling menerima, karena begitulah seharusnya teman yang berencana menua bersama, bukan?

Dear engkau yang kusebut imam...

Tak jarang, sikapmu sulit kumengerti. Pun semua keputusan yang kau buat, membuatku tak habis pikir, hingga kita berselisih paham. Namun dalam diam kumengamini, banyak hal yang bisa kupelajari.

Kau... seperti buku diktat tebal favorit yang tak habis-habis dibaca. Sesekali aku akan mengangguk, menyunggingkan senyum atau bahkan mengerutkan dahi hingga sakit kepala. Namun terus saja aku tak bisa berhenti, tanpa mengerti alasannya.

Yang kutahu, kau juga melakukan hal yang sama. Dalam kegerahanmu menghadapi semua sifat burukku, toh tetap saja kau berdiri di tempat yang sama, tak kemana-mana.

Tetap dengan kedua tangan menengadah yang siap memelukku kapan saja. Tetap dengan senyum yang selalu mampu membuatku jatuh cinta. Dan tetap berdiri tegak selayaknya pemimpin yang siap mengorbankan seluruhnya demi keluarga.

Jadi, wahai kau lelaki pujaan, tetaplah kuat apapun yang terjadi, seperti kau yang mampu bertahan bersamaku yang keras kepala ini.

Jangan biarkan cemoohan orang membuatmu jatuh, seperti saat kau tertawa setiap aku marah-marah.

Tunjukkan bahwa kau bisa lebih baik dari mereka, seperti ketika kau membanggakan dirimu di depan anak-anak dan aku. 

Sementara aku tetap di sini, mendukungmu tentang apa saja. Menunggu sejak kau tak punya apa-apa, sampai kau memiliki segalanya. Menunggu sampai semua orang memandangku iri, karena memiliki lelaki sepertimu, suamiku...

Salam cinta,

Perempuan halalmu.

 

 

 

  • view 377