Ketika Ibu Tidak Bisa Pulang

Rina Kartomisastro
Karya Rina Kartomisastro Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Juni 2016
Ketika Ibu Tidak Bisa Pulang

Ketika Ibu Tidak Bisa Pulang

Oleh. Rina Kartomisastro

 "Meski kata 'durhaka' masih terlalu bagus untuk seorang anak, akan selalu ada kesempatan mengatakan betapa pentingnya arti ibu, melalui ciuman di mata kakinya-@rinkart_"

Aku sedang asyik menonton televisi ketika pintu rumah terbuka. Sosok perempuan setengah baya yang mengenakan baju dinas, terlihat dari sana.

Dengan raut letih di wajah, ia melangkah masuk. Bibir yang terkembang saat aku menoleh, tak dapat menutupi gurat lelah  dari sorot mata tuanya. Namun karena pemandangan itu sudah terlalu biasa, aku tak seberapa peduli. Sampai kutangkap bayangan tas kresek yang melambai dari tangan Ibu.

"Apa itu, Bu?" tanyaku tanpa benar-benar ingin tahu. Mataku segera kembali mengarah ke layar televisi.

"Rujak cingur. Ibu belikan makanan kesukaanmu..."

Ibu mendekat, tangannya terulur saat bau keringat yang mengering tercium dari sudut hidungku.

Tanpa menoleh, kuangkat tangan, "Makan sendiri saja, Bu. Aku sudah makan tadi."

Aku tahu Ibu kecewa dari caranya menghela napas. Tapi aku yakin ia tahu, aku lebih kecewa terhadapnya.

"Ibu sih kelamaan pulangnya," sahutku tak tahan lagi, kemudian.

"Masih untung Ibu bisa pulang, Nak."

Lantas tontonan di layar segiempat itu terlihat lebih menyenangkan daripada suara Ibu. Aku malas melanjutkan percakapan serupa yang hampir terjadi setiap hari ini. Ujung-ujungnya berdebat tanpa ujung.

Beberapa waktu berlalu, percakapan sejenis itupun tak terjadi lagi. Ibu tak pulang sudah genap satu pekan.

Lantas aku jadi bingung sendiri, sulit aku menemukan beberapa barang penting yang biasa Ibu bereskan. 

Pintu terbuka ketika aku masih sibuk menelusuri satu sudut.

Sosok setengah baya terlihat di sana. Sempat kukira Ibu, wajah dan perawakannya serupa, tetapi ternyata Bibi, adik kandung Ibu.

Bibi yang melihatku langsung bertanya apa yang sedang kulakukan.

"Aku mencari sesuatu! Seharusnya Ibu tahu dimana!" Emosiku tersulut begitu saja karena tidak jua menemukannya. "Bagaimana bisa seorang ibu selalu membuat anaknya kecewa! Aku benci dia!" seruku lagi.

"Apa maksudmu bicara begitu?" sergah Bibi, seperti tak suka.

"Dulu saat masih bekerja, Ibu hanya sibuk dengan karirnya. Demi karir, Ibu rela berangkat pagi. Tapi  saat kubutuh, Ibu selalu muncul malam hari, ia selalu datang terlambat. Sekarang ia malah tidak pulang, dan membuat semuanya semakin kacau! Bibi, kenapa Ibu tega melakukan itu padaku?" 

Aku, si anak kurang perhatian ini, mulai merasakan kemarahanku berada di puncaknya. Napasku memburu ketika mata mulai terasa panas.

Bibi menarik napas dalam-dalam, sebelum ia memberiku isyarat untuk duduk di dekatnya. Tangannya lantas terangkat membelai rambutku lembut.

"Jawab pertanyaan Bibi, apa yang terjadi setelah ibumu tidak pulang?"

"Tidak ada lagi masakan yang tersedia di meja makan saat aku bangun tidur. Tidak ada yang menelponku di siang bolong sekadar menanyakan keadaanku. Tidak ada yang mengomel tatkala mendapati rumah berantakan saat dia pulang. Tidak ada yang membereskan barang-barangku seperti sekarang..."

"Bukankah itu berarti seluruh waktu ibumu habis tersita dengan pekerjaannya? Pekerjaan di kantor sekaligus di rumah?" Bibi yang menyela begitu saja, membuatku menyadari bahwa aku memiliki daftar panjang dari dampak Ibu yang tidak pulang.

"Waktunya untukku sangat kurang, hampir tidak ada," simpulku akhirnya.

"Lantas bagaimana dengan waktu pagi buta yang ia gunakan untuk menyiapkan makanan? Bagaimana dengan panggilan telepon di tengah waktu sibuknya bekerja? Bagaimana dengan perhatian yang ia berikan ketika sudah waktunya ia beristirahat? Tidak bisakah itu dinamakan waktu yang diberikan untukmu?"

Aku mulai menunduk, "Ibu selalu pergi ke kantor dengan aroma parfum di tubuhnya, namun ia berbau dapur saat di rumah. Apa aku memang tak lebih penting untuknya?"

"Lalu, kau lebih memilih ibu yang tetap wangi saat berada di rumah? Ibu yang suka berdandan dan bersantai ketimbang menyiapkan makanan untukmu? Kau pikir, ibumu tidak mau begitu? Hanya karena ia tak mau melihatmu kelaparan, ia hilangkan keinginannya sendiri. Tapi apa yang kau pikirkan tentangnya sekarang? Kau bahkan tak bisa mencium aroma paling wangi dari bau dapur di tubuh ibumu!"

Pandanganku semakin merunduk, kurasakan mataku mulai memanas, "Lalu kenapa sekarang Ibu tidak pulang?"

Permukaan tangan bibi kembali terasa membelai rambutku lembut. Mau tak mau, mengingatkanku dengan belaian Ibu yang diam-diam kurindukan.

"Pada dasarnya, tidak ada satupun ibu yang mau berjauhan dengan buah hatinya. Hanya saja tidak semua ibu seberuntung itu. Ada banyak perempuan di luar sana yang harus bekerja di luar rumah, seperti ibumu. Harus mengacuhkan rindu berjauhan dengan anak. Harus menguatkan diri lebih dari perempuan-perempuan yang diam di rumah. Harus menahan sakit dari anak-anaknya yang mungkin tak tahu pengorbanan ibunya. Bahkan, seperti ibumu yang harus mengacuhkan penyakitnya agar bisa terus bekerja. Agar bisa menghidupimu meski itu membuatnya tak bisa pulang seperti sekarang..." suara Bibi tercekat, sebelum terdengar isaknya.

Aku yang tak tahan lagi, lantas bergabung dengan Bibi. Kami menangis, berbagi air mata. Bibi dengan kerinduannya, dan aku dengan penyesalannya.

Ya, aku bersalah! Ibu tidak salah, hanya aku yang serakah. Bukan Ibu yang tidak ada waktu untukku, aku yang tidak punya waktu memahami Ibu. Bukan Ibu yang kurang perhatian, aku lah yang kurang ajar!

Tangisku lantas tak terbendung lagi. Aku menjerit dengan kerinduan yang membumbung tinggi. 

Tiba-tiba, aku merindukan masakan Ibu yang seringkali nyaris gosong karena terburu-buru ke kantor itu. Tiba-tiba, omelan Ibu yang dulu sangat menyebalkan, menjadi lagu yang paling ingin kudengarkan di dunia ini. 

Sungguh, ingin sekali aku berdiri di ambang pintu, melihat kepulangannya untuk langsung berhambur memeluknya. Aku ingin memakan semua oleh-oleh yang dibawanya sepulang kerja. Pun, mematikan televisi untuk berdebat dengannya tentang hal-hal yang biasa kami permasalahkan. 

Tetapi bagaimana caranya, bagaimana... bila Ibu tak pernah muncul di ambang pintu lagi? Bagaimana bila Ibu tak pulang seperti yang sudah-sudah? Bagaimana bila Ibu tidak pulang bukan karena tidak ingin, tetapi tidak bisa? Bagaimana bila Ibu tak lagi bisa pulang karena sudah berada di lain dunia? 

Ibu yang tak pulang dengan membawa penyakit yang selama ini diidapnya diam-diam...

Ibu yang tak hanya rela berbau dapur di rumah, namun juga rela mengacuhkan penyakitnya demi aku, anaknya...

Ibu yang sedemikian itu, memiliki anak seperti aku? 

Lantas, masih pantaskah aku disebut anak? Kata 'durhaka' bahkan terdengar terlalu bagus untukku!

Ataukah, dunia memang begitu adanya? Aku yang begini, hanyalah salah satu dari anak-anak lain di luar sana. Anak yang mungkin saat ini belum ditinggal ibunya.

Anak yang selalu merasa kurang pada ibu yang telah memberikan seluruh dunia padanya, tanpa sisa...

Mungkin, aku tidak hanya aku. Aku adalah aku yang menulis. Aku adalah aku yang tengah membaca. Atau, aku adalah aku yang masih sibuk berpikir karena tidak merasa. 

Akhirnya, meski kata 'durhaka' terlalu bagus untuk seorang anak, akan selalu ada kesempatan mengatakan betapa pentingnya arti ibu melalui ciuman di mata kakinya.

Akan selalu ada kesempatan, sekalipun ia tak lagi bisa pulang, dengan mengatakannya lewat ciuman rindu dalam setiap sujud di sepertiga malam.*

*Tulisan ini aku persembahkan untuk perempuan tangguh yang kupanggil Mamah, tepat setahun kepergiannya.

5 Juni 2016

Rina Kartomisastro.