Biarkan Hati Memilih

Rini Romdiani
Karya Rini Romdiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Biarkan Hati Memilih

Jangan biarkan bunga mawar mekar sebelum waktunya?

Jangan biarkan bunga itu dihinggapi oleh banyak lebah?

Biarkan ia tetap terjaga indah

Mekar, merekah sampai waktunya tiba.?

Senja Menjelang menyambut kedatangan sang mentari pagi, walaupun ia masih malu-malu bersembunyi di balik awan namun tak surut untuk nampak ke permukaan. Cuaca sekarang ini memeng tidak bisa diduga, kadang mendung kadang juga panas. Seperti halnya hati. Siapa yang bisa menebak hati seseorang, urusan hati adalah urusan kita dengan sang pencipta, tidak ada yang tau, kalaupun seseorang itu mengungkapkan isi hatinya itu belum tentu kebenarannya.

Na..Ana?sudah bangun Nak?Seperti biasa ibu selalu memanggil namaku disaat kumandang adzan subuh bergema, ibu adalah satu-satunya orang yang selalu mengingatkanku di saat aku salah dan lupa. Entah kenapa subuh itu benar-benar membuatku enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Biasanya sepertiga malam itu adalah waktu favoritku. Ketenangan sepertiga malam selalu membuat hatiku tenang.

Yaa Rob, apa yang terjadi pada diriku?Kenapa diri ini lemah sekali, maafkan hambamu yang selalu lalai dalam menjalankan perintahMu. Pada saat itu penyesalan menghampiriku. Aku tau ibu adalah seseorang yang selalu mengerti tentang perasaan anaknya. Dan akhir-akhir ini ibu selalu mengomentari sikap ku yang kadang seperti orang yang bingung.

Walaupun pagi itu aku tak bangun seperti jam biasanya, tapi tetap aku harus terus menjalankan hari-hari ku. Pagi ini aku harus berangkat ke sekolah, walaupun aku tak tau apa yang terjadi pada hatiku akhir-akhir ini.

Ibuku adalah seorang penjual gorengan yang penghasilannya tak seberapa, kadang aku selalu meneteskan air mata melihat ibu yang banting tulang untuk membiayai sekolahku. Ibuku adalah Ayahku. Ya sosok seorang ayah yang kini kurindukan hanya tinggal kenangan yang tersisa. Kalau aku bisa menukar nyawa untuk ibuku aku rela, aku sangat menyayanginya.

Setiap pagi ibu selalu berangkat lebih dulu dari aku, karena beliau harus menjajakan gorengannya ke perkampungan, sebenarnya aku tidak tega melihat ibu seperti itu. Kadang penyesalan selalu muncul dari hatiku, sebenarnya aku ingin membantu ibu untuk meringankan bebannya, tapi ibu selalu bilang padaku ?Hal yang membuat ibu senang adalah bisa melihatmu bersekolah? mungkin keinginnan ibu itu harus aku penuhi dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu.

Sebentar lagi kelulusan sekolah, orang-orang telah mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sementara aku masih kebingungan mau kemanakah aku setelah lulus sekolah nanti? Hal itulah yang akhir-akhir ini selalu aku pikirkan sehingga aku kelihatan seperti orang yang bingung.

Ana, kamu mau dilanjutkan kemana setelah lulus nanti? Tanya Astri, sahabatku. Aku belum tau, As..Jawabku mungkin nampak seperti orang kebingungan. Setiap orang yang bertanya seperti itu aku selalu tak mempunyai jawaban. Berbagai usaha telah aku lakukan, berbagai program beasiswa telah aku ikuti. Tinggal aku berusaha dan berdo?a saja semoga hasilnya sesuai dengan apa yang aku harapkan. Semoga apa yang kamu usahakan berbuah hasil ya Na, sahut Astri.

Siang itu aku berjalan mencari udara segar di sekitar taman, tiba-tiba ada yang memanggilku, Ana..Ana?kamu mau kemana?Aku melirik ke belakang dan ternyata ada Mas Andi, dia adalah temanku, ketika itu aku kenal di sebuah acara seminar tentang pendidikan. Pada saat itu beliau sebagai pemateri seminar, ilmu nya yang luas, dan kepribadiannya yang sholeh sempat membuat aku terkagum-kagum. Eh..Mas Andi,lagi jalan-jalan aja mas, mencari udara segar. Mas sendiri ngapain disini? Saya tadi habis ngisi acara seminar motivasi di gedung sebelah..dan entah kenapa saya ingin mampir ke taman ini sembari mencari insfirasi. Jawab Mas Andi.

Sebenarnya saya selalu keliatan grogi dan tak ingin berlama-lama apabila di dekat laki-laki, entah kenapa hati ini selalu merasa bersalah apabila saya bertemu dengan lelaki walaupun itu tak di sengaja. Seperti yang terasa waktu itu, rasanya ingin segera aku lari dan pamit untuk pulang. Namun percakapan dengan Mas Andi yang terus bertanya-tanya membuat aku tak bisa untuk pamit, karena aku harus menghargainya. Tapi setelah beberapa menit aku pamit untuk segera pulang.

Di perjalanan pulang, aku teringat akan perkataan Mas Andi, setelah aku bercerita sama dia tentang kebingunganku untuk melanjutkan sekolah. Beliau berkata ? selalu ada jalan buat hambaNya yang bersungguh-sungguh berusaha ? Sungguh mendengar perkataan beliau membuat hatiku tenang.

Yaa Robb, perasaan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, kenapa pikiranku terus mengingat namanya. Yaa Robb, hapuskan dari ingatanku. Astagfirulloh?

Sebelum tidur, ibu masuk ke kamarku, dan seperti biasa sebelum tidur, kita selalu menceritakan kegiatan dan aktivitas apa yang telah dilakukan siang hari. Malam itu aku dan ibu berbicara dari hati ke hati. Na..sebentar lagi kan kamu lulus sekolah, tapi ibu minta maaf sekali sama kamu, sepertinya ibu tidak sanggup untuk membiayai sekolah kamu lagi. Apakah kamu sudah punya rencana? Tanya ibu.Bu..aku ngerti keadaan kita sekarang, aku gapapa bu, kalaupun aku tak bisa kuliah, aku bisa kerja ko bu, untuk membantu kehidupan kita.

Begini Na, apakah kamu sudah mulai berfikir tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidupmu nanti, ibu kan sudah muali tua, sudah mulai sakit-sakitan, umur kan tidak ada yang bisa menebak. Nah yang ibu takutkan adalah jika ibu sudah tiada nanti, siapa yang akan menjaga kamu. Jeeepp?Aku terdiam. Aku sama sekali belum memikirkan ke arah sana, beberapa lelaki memang sempet mendekati ku, tapi mereka semuanya pada menyerah dengan sikapku yang selalu acuh pada mereka. Aku tak ingin terbawa arus yang saat ini sedang ternd. Teman-temanku memang selalu bertanya kepadaku, apakah aku normal, apakah aku menyuai laki-laki, karena yang mereka tau, aku tak pernah dekat dengan lelaki manapun. Walaupun mereka berkata bagaimana, aku tetap dengan prinsipku, bahwa aku akan memberikan hatiku pada orang yang berhak dan di takdirkan Alloh untuk menjaga hatiku.

Semenjak percakapan dengan ibu malam itu, aku jadi kepikiran. Yaa Robb, ada satu orang yang selalma ini sempet mampir ke hatiku, tapi aku gak mau kalau hanya sekedar untuk pacaran. Pokonya aku harus yakin, dan aku tidak boleh dulu memikirkan hal itu sebelum semua cita-citaku tercapai, aku harus focus dulu dengan apa yang kuinginkan yaitu kuliah, walaupun ibu sudah tidak sanggup lagi membiayai pendidikan aku, aku yakin Engkau Maha Mendengar dan Maha Tau apa keinginan hambaNya.

Pagi itu, aku mendapat sms dari sahabatku Astri, dia memintaku untuk ketemuan di taman dekat sekolah, karena sekolah sudah mulai tidak efektif pembelajarnya, jadi kita di bebaskan untuk pergi ke sekolah atau tidak. Dan akhirnya aku menyetujui untuk ketemu sahabatku, karena dia mengatakan ada hal penting yang akan disampaikan.

Sesampainya di taman dekat sekolah, aku langsung menghampiri Astri yang sedari tadi sudah menungguku. As..sudah lama kamu nunggu? Maaf ya aku agak telat karena tadi aku harus bantu ibu dulu di rumah. Oh gapapa..jawab Astri. Sebenernya hal penting apa yang akan kamu bicarakan, biasanya tak seformal ini kalo kamu ngajak aku ketemuan, ko suasananya kaya mau ada hajatan besar sehingga kita harus bicara emapt mata saja, becandaku. Hmm?begini Na, kamu masih kenal kan dengan yang namanya Mas Andi, yang menjadi pembicara seminar tempo hari. Ia tau, beberapa hari yang lalu aku ketemu tidak sengaja di taman deket gedung Bupati, dan tidak lama kemudian aku pulang saja, karena gak enak. Hmm dia kemaren menemuiku dan bertanya tentang kamu. Hah? Kenpa menanyakan aku? Ia, dia menyukaimu Na, dia kagum sama kamu, tapi dia gak berani jika harus mengungkapkannya langsung kepadamu. Deg..jantungku berdetak kencang, bagaimana mungkin seorang Mas Andi, bisa mengagumiku orang biasa sepetiku. Ah mungkin ini hanya mimpi. Na..kenapa kok kamu diam aja? Aku tau kamu juga mengaguminya kan? Mas Andi gitu?cewe mana sih yang gak suka sama dia. Wajahku merah merona, aku gak tau apa yang harus aku katakana, apakah ini benar atau hanya permainan semata.

Aku gak percaya, As.Aku gak semudah itu untuk menerima seseorang. Sudahlah aku gak mau di pusingkan dengan masalah seperti ini. Aku mau focus dulu memikirkan masa depan pendidikan aku. Kamu gak percaya Na? Besok dia minta ketemu sama kamu. Kalau kamu gak bisa bertemu sendiri sama dia, biar aku yang menemani kamu. Na, Bagaimana???sahut Astri. Baiklah kalau memang dia serius langsung saja menemui ibu ku. Jawabku dengan penuh kebingungan.

?Tok..tok..tok...suara pintu rumahku, ada yang mengetok, dan aku sudah menebak bahwa yang datang adalah Mas Andi. Aku sempet salut akan keberanian dia untuk datang menemui ibuku. Assalamu?alaikum Ana, Wa?alaikumssalam sambutku, dengan hati deg-degan aku menyambut kedatangan Mas Andi, dan aku sempet gak percaya bahwa ia akan berkunjung silaturahmi ke rumah ku. Silahkan duduk, Mas. Ia Na..Terimakasih, sempet ku baca bahwa dirinya juga grogi tak terkira, dengan senym malu-malu akhirnya ia duduk di kursi tamu ruang depan.

Aku tak berani menemuinya sendiri, selama ini belum pernah ada teman laki-laki yang datang ke rumah. Karena aku selalu mempunyai alasan bagi mereka yang ingin main ke rumah, ya karena yang aku rasakan, aku belum saatnya untuk menerima lelaki, mungkin itu karena keyakinanku dan ketidaksiapanku.

Saat itu ibulah yang menemui Mas Andi, dan aku hanya diam tanpa mengeluarkan kata-kata, karena aku bingung apa yang mesti aku bicarakan. Ibu, Ana sebelumnya saya minta maaf apabila kedatangan saya ini, mengganggu aktivitasnya. Saya kesini mempunyai niat baik, selain silaturahmi saya juga ingin lebih mengenal keluarga nya Ana. Ya sekedar ngobrol-ngobrol lah bu.

Saat itu aku berfikir bahwa Mas Andi benar-benar mempunyai niat yang baik kepadaku, sehingga dengan keberanianya dia berkunjung dan menyampaikan niatnya kepada ibu.

Aku benar-benar gak tau apa yang aku rasakan, entah senangkah atau bagaimana. Yang jelas saya belum mempunyai jawaban. Jika aku harus menikah dan menerima Mas Andi, berarti tandanya aku harus siap dengan segala kehidupan aku kedepan, Memang sih Mas Andi adalah laki-laki yang baik dan tanggung jawab. Tapi bagaimana dengan kesiapan hatiku. Aku sungguh gak bisa menggambarkan apa yang ada di dalam hatiku. Sejenak aku berfikir, keinginan kuliah ku bagaimana? Apakah mungkin ini jalan yang di berikan Alloh kepadaku. Tapi entahlah?

Siang itu guruku, meminta aku untuk ke sekolah, dan akhirnya aku berangkat kesekolah dan menemui guruku, dan disana guruku memberi kabar gembira bahwa aku lolos tes beasiswa dan di terima di salah satu Perguruan Tinggi. Hatiku senang tak terkira, namun kegalauan sempet menghampiriku, dan teringat lagi apa yang di sampai kan Mas Andi tentang niat baiknya kemaren. Ya Alloh karuniaMu sungguh Indah kau memberikan apa yang aku harapkan, namun terkadang harapan itu harus sesuai waktunya. Kedua hal itu mungkin bisa bernilai ibadah di mataMu, namun kau yang menguatkan hati ini.

Jika keputusan ini berasal dariMu, hendakilah. Kadang kita dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama di inginkan, namun disitulah tantangan nya kita harus bisa mengambil keputusan yang berat. Bagaimanapun kedua hal itu baik untuk masa depanku. Tapi keyakinanku lebih besar untuk melanjutkan sekolah dahulu sampai kita benar-benar siap memantapkan hati dengan seseorang. Mungkin Bunga Mawar belum waktunya untuk mekar. Semoga dia bisa meneriam keputusanku, jika memang semua nya sudah di takdirkan Alloh akan mempersatukan. Dan disinilah letak Kesabaran yang sesungguhnya.

?

?

?

?

  • view 303