Perempuan Beralis Tipis

Rini Romdiani
Karya Rini Romdiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Perempuan Beralis Tipis

Suatu malam, aku dan ibu duduk di pelataran rumah. Rumah kami sederhana, tapi inilah yang disebut sebagai tempat ternyaman di dunia.Aku satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Dan kini aku memasuki tahap dimana harus hidup lebih dewasa.

Sepertinya hanya dengan caraku sendiri aku menikmatinya.

Pasa saat itu, aku digelisahkan oleh pertanyaan ibu yang cukup membuatku diam lebih lama untuk menjawab. Seperti ibu kebanyakan,ibuku melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaan tentang kapan akan mengenalkan seorang calon.

Dan aku jawab pertanyaan ibuku dengan pertanyaan kembali.

"Bu, sepertinya perempuan yang cantik itu, gampang yah untuk menjawab pertanyaan seperti yang ibu tanyakan tadi. Pasti mereka akan langsung menjawab. Aku lihat dengan mudahnya mereka mengenal seseorang, berganti lagi, dan mengenal yang lain lagi. Sepertinya mereka lebih menarik yah bu?" tanyaku pada ibu.

"Menarik bagaimana maksudmu nak?"

“Iya bu, secara kan mereka cantik, sedangkan aku bu, mana bisa aku berdandan seperti itu. Berlama-lama depan cermin aja paling hanya untuk sekedar bercermin, bukan berdandan bu. Tapi mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, bedakan sampai tiga tahap, poles sana poles sini, bahkan alis pun sampai terlihat bagus gitu bu coba laki-laki mana yang tidak tertarik, dengan kecantikan dandanannya. Sedangkan aku jangankan menggambar alis di dahi, menggambar alis dibuku saja gak bisa bu. Mana ada laki-laki yang tertarik padaku” sahutku pada ibu.

"Anaku sayang, kecantikan itu tidak nilai dari bagusnya rupa, cantik rupa akan sirna seiring berjalannya waktu. Jangan jadikan alasan bahwa sampai saat ini kamu belum bertemu jodoh karena kamu tidak pandai berdandan. Itu sebuah alasan yang keliru, nak. Jodoh itu sesuai dengan kualitas, jika kita berusaha mencari jodoh dengan modal kecantikan kita, maka yang didapat hanyalah laki-laki yang hanya sebatas menyukai penampilan fisik kita. Lalu setelah itu, satu tahun, dua tahun, ketika kecantikan kita pudar, maka pudar pulalah cintanya." 

"Ibu melihat, harga perempuan hari ini telah terkomelsilkan oleh produk kecantikan, kosmetik dan trend pakaian. Seorang perempuan akan merasa cantik, apabila ia telah dipoles make up. Kita memang sebagai perempuan yang menyukai keindahan namun standar kecantikan kita jangan sampai didasarkan kepada barang-barang itu agar kita terlihat indah, apalagi sampai mengubah bentuk dari apa yang telah dibuat sang pencipata. Nak, tidak semua kecantikan itu harus dipamerkan. Berdandanlah pada waktunya nanti. Karena keindahan yang sesungguhnya itu justru akan sulit diraih. Jika kita ingin melihat indahnya gunung, maka kita harus mendakinya terlebih dahulu. Begitu juga dengan keindahan dirimu nak."

Mendengar ibu berbicara seperti itu, aku jadi berfikir bahwa aku tidak seharusnya menjadikan alasan bahwa aku tidak bisa dandan,tidak bisa beralis, itu sebagai alasan bahwa aku belum bertemu jodohku. Aku justru akan bersyukur jika ada laki-laki yang mau kepadaku, itu tidak melihat kecantikan fisik sebagai standar kualitas terbaik. Karena aku khawatir pada saat polesan kosmetik itu hilang, maka dia akan kehilangan alasan untuk mencintaiku. Jangan sampai harga diri ditentukan oleh trend pasar. Dengan tidak mengubah apa yang telah Allah kasih, itu berati kita tidak meragukan Sang Pencipta, dan kita tau apa artinya bersyukur.

Malam semakin larut, dan kini aku mendapatkan pembelajaran dari wanita sederhana yang bernama ibu.

Dilihat 282