Profesi ?

Rini Kukuh
Karya Rini Kukuh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juni 2016
Profesi ?

A : " Istri kamu kerja dimana ?"

B : " Tidak kerja".

Jawaban singkat yang terdengar tidak membanggakan, tidak greget, tidak sesuatu.

Jawaban yang hambar yang bisa menutup semua bentuk komunikasi dua arah.

Jawaban yang seharusnya tidak sesingkat itu.

Jawaban yang sebenarnya BETUL BANGET, tapi alangkah lebih menyenangkan, lebih bagus, lebih bijaksana, lebih "adem" didengar telinga dan dirasakan oleh hati, terlebih lagi jawaban itu keluar dari mulut sang suaminya sendiri. 

Misalnya : 

"Istri kamu kerja dimana ?"

Dan sang suamipun menjawab seperti ini : "Istri saya tidak berkarier dikantor. Saya yang meminta beliau untuk berkarier dirumah saja mengurus saya dan anak-anak dengan baik."

Bukannya malah dengan jawaban singkat "Tidak kerja", ditambah lagi dengan mengungkit-ungkit karier istri dimasa lalu. Misalnya :

"Istri kamu kerja dimana ?"

Dan sang suaminya pun menjawab panjang seperti ini :

"Tidak kerja, tapi dia sempat kerja di beberapa bank terkenal, seperti bank A dua tahun, bank B dua tahun, bank C dua tahun, trus pernah jadi penyiar radio selama dua tahun, pernah kerja diperusahaan properti selama 2 tahun juga, pernah jadi kepala sekolah disebuah sekolah taman kanak-kanak cuman setahun, etc".

Jawaban yang begitu itu sama sekali tidak perlu, tidak penting, norak, kuno, jadul, gak up to date !, karena orang yang bertanya itu sesungguhnya cuman (basa-basi) ingin mengetahui kegiatan sang istri yang terbaru. Bukan mau mengisi CV untuk kolom pengalaman kerja yang istri punya.

Dari situ aku jadi berpikir, betapa tidak membanggakannya jika seorang suami ditanya oleh teman-temannya tentang profesi istrinya yang "hanya" sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Lain halnta jika sang istri memiliki karier yang mapan, pasti akan terdengar lebih keren. Misalnya :

"Istri kamu kerja dimana ?"

Dan sang suamipun akan menjawabnya dengan suara yang mantap dan penuh dengan kebanggaan :

"Istriku pengacara/dokter kulit/apoteker/sekreraris/wakil pimpinan/ dosen/ kabag, etc"

"Istriku njalanin bisnisnya sendiri, sudah ada beberapa cabang dikota-kota besar di Indonesia".

 

Hampir tidak pernah aku jumpai, seseorang yang begitu terlihat bangga dan bersemangat jika sudah menjawab profesi istrinya yang "cuman" seorang Ibu Rumah Tangga biasa, yang tidak memiliki penghasilan tetapnya sendiri, kecuali hanya dari pemberian sang suaminya saja.

 

Perlu diketahui, (menurutku) bahwa Ibu Rumah Tangga itu bukan profesi, bukan jabatan karier, bukan pekerjaan yang mendapatkan gaji, bonus atau tunjangan. Tapi Ibu Rumah Tangga itu sebutan untuk seorang perempuan yang sudah menikah dengan seorang pria sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang yang berlaku, dan membentuk sebuah keluarga.

 

Jadi, jika ada yang menanyakan perihal profesi istri, jawab saja pertanyaan tersebut dengan kalimat yang lebih "menghargai" kondisi psikis sang istri yang bukan seorang wanita karier, seperti : "Istri saya tidak berkarir di kantor. Saya yang meminta kesediaan beliau untuk berkarier dirumah saja mengurus saya dan anak-anak dengan baik."

Bukan jawaban singkat "Tidak kerja", karena jawaban tersebut memberi kesan ketus dan malu untuk mengakui kebenarannya seperti apa.

Atau jawaban " mengurus rumah tangga" seperti halnya tulisan dikolom pekerjaan yang ada di KTP atau SIM, karena untyk mengurus rumah tangga itu sebenarnya bukan hanya tanggung jawab seorang istri saja, tapi suamipun harus ikut terlibat didalamnya. Apakah karena suami itu seorang kepala rumah tangga, lantas istri "ditempatkan" sebagai staf/karyawan/bawahan/pesuruh, hingga harus ada sebutan "mengurus rumah tangga"?. Tidak begitu kan maksudnya? (RZ3, 21/06/2016, 11:10 wib)

  • view 50