Belajar Hidup Damai dari Bumi Pancasila

Rinaldi Oktavianto
Karya Rinaldi Oktavianto Kategori Budaya
dipublikasikan 16 November 2016
Belajar Hidup Damai dari Bumi Pancasila

"Amamangun Karyenak Tiyasing Sasama, Mamangun Tuntang Mahaga Lewu."

"Membangun kerukunan antar sesama guna terciptanya peradaban yang lebih baik."

Indonesia merupakan negara yang besar dengan penuh keanekaragaman, mulai dari sosial hingga budaya. Bagaimana tidak? Indonesia memiliki sekitar 17 ribu pulau dengan lebih dari 75 suku bangsa dan 726 bahasa daerah. Kekayaan yang terkadung di dalamnya sangatlah luar biasa, baik secara sumber daya alam, maupun sumber daya manusia. Keanekaragaman tersebut telah disatukan dengan satu semboyan jitu yakni "Bhineka Tunggal Ika" yang bermakna berbeda-beda namun tetap satu jua, Indonesia Jaya.

Semboyan tersebut benar-benar harus diilhami dan direalisasikan guna mencapai tujuan bangsa. Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia juga disatukan oleh Pancasila sebagai jati diri bangsa, cerminan karakteristik dan budi pekerti bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bumi Pancasila. Banyak orang yang belum mengetahui secara pasti makna atau arti serta maksud dari Bumi Pancasila. Kebanyakan orang menganggap Bumi Pancasila adalah Indonesia itu sendiri, akan tetapipada dasarnya Bumi Pancasila telah dicerminkan oleh tanah Kalimantan, tanah yang kaya lingkungan, emas, dan intan.

Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan kondisi masyarakat yang sangat mengilhami nilai-nilai Pancasila, mulai dari semangat juang, kesamaan tujuan, sikap toleransi dan sebagainya.

Hampir semua penduduk di seluruh bagian wilayah dari pulau Kalimantan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Jiwa persatuan mereka sangatlah kuat dan jika kita mengungkit kembali permasalahan yang hadir, maka kita akan membahas mengenai Perang Sampit, perang antara Suku Madura dengan Suku Dayak Sampit.

Memang tragis, peperangan tersebut menyebabkan ratusan hingga ribuan nyawa melayang secara sia-sia, mulai dari lansia hingga balita, bahkan pihak tak bersalahpun menjadi korban kesalahpahaman antar kedua belah pihak.

Terlepas dari cerita mengerikan tersebut, saat ini di Indonesia masih banyak perselisihan karena kesalahpahaman. Seiring perkembangan peradaban, jiwa persatuan mulai luntur dengan sendirinya. Ibarat cat, cat tersebut sedikit demi sedikit mengelupas karena terpaan air, dan angin yang melanda. Persatuan tersebut kini muai terancam sirna, tergerus arus globalisasi yang meningkatkan sikap egoisme masing-masing individu, hingga permasalahan terbesar yakni sikap intoleransi antar individu.

Setelah 14 tahun masa reformasi, toleransi dan kerukunan kehidupan beragama masyarakat masih terdapat hambatan. Salah satu faktor intoleransi dalam kehidupan beragama adalah lemahnya penegakan hukum.

Atas dasar tersebut, Dr. Albert Hasibuan, S.H, Anggota WANTIMPRES Bidang Hukum dan HAM beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Tengah dan mengadakan pertemuan di Aula Jayang Tigang Kantor Gubernur Palangka Raya dan Istana Isen Mulang guna membahas mengenai pluralisme dan toleransi antar umat beragama di Provinsi Kalimantan Tengah.

Dalam kunjungannya, Dr. Albert Hasibuan diterima oleh Bapak Agustin Teras Narang, Gubernur Palangka Raya beserta jajarannya, Danrem 102/Pjg, Wakapolda Kalimantan Tengah, dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah.

Belajar dari Bumi Pancasila, tepatnya Kota Cantik Palangkaraya Kalimantan Tengah, terdapat satu konsep kehidupan bermasyarakat yang termatup dalam satu konsep 4 Pilar Huma Betang. Huma Betang atau Rumah Betang merupakan rumah tradisional masyarakat suku Dayak Ngaju dengan bentuk memanjang layaknya hotel tradisional.

Huma Betang dihuni oleh belasan atau puluhan keluarga yang memiliki tabiat serta kepercayaan berbeda-beda. Sungguh luar biasa, masyarakat yang menghuni rumah tersebut memegang teguh semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Mereka hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan penuh kedamaian dan toleransi.

Mengapa mereka mampu? Individu yang menetap di Huma Betang sangat menjunjung tinggi prinsip 4 Pilar Huma Betang. Layaknya 4 Pilar bangsa Indonesia, 4 Pilar Huma Betang merupakan prinsip atau dasar pedoman dalam hidup bermasyarakat.  4 Pilar tersebut sangat menjunjung tinggi nilai persatuan, persatuan, kepatuhan, dan toleransi. Berikut ulasan mengenai 4 Pilar Huma Betang :

  1. Kejujuran

Prinsip hidup pertama adalah kejujuran. Masyarakat yang menghuni Huma Betang sangat menjunjug tinggi nilai kejujuran. Dalam bersosialisasi, mereka mengedepankan kejujuran, mereka bertanggung jawab juga berani mengakui kesalahannya. Layaknya individu yang polos, mereka mengatakan yang sebenarnya, jika mereka melanggar maka akan mendapat hukuman, jika mereka benar maka itu sebuah kebaikan.

  1. Kebersamaan

Kebersamaan, merupakan prinsip kedua. Kebersamaan menjadika hal sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Kebersamaan dalam bermasyarakat menjadikan mereka kuat, saling menjaga satu sama lain, saling mengerti dan memahami. Kebersamaan membawa mereka kedalam kehangatan. Mereka membuat makanan bersama dan dibagi kepada semua penghuni Huma Betang. Kebersamaan yang kuat menciptakan persatuan yang kuat.

  1. Kerukunan (Toleransi)

Kerukunan / Toleransi, menjadi prinsip ketiga dalam Huma Betang. Penghuni yang berjumlah belasan kepala keluarga, memunculkan keberagaman baru, mulai dari tabiat hingga kepercayaan. Kebersamaan menciptakan kerukunan diantara mereka. Meskipun berbeda keyakinan mereka menghargai satu sama lain, mereka saling menghargai, memberikan toleransi baik secara keyakinan hingga makanan.

  1. Taat Hukum dan Agama

Ketaatan terhadap hukum dan agama menjadi prinsip terakhir dalam hidup bermasyarakat di Hum Betang. Kejujuran yang mereka junjung menciptakan ketaatan terhadap hukum yang berlaku. Mulai dari kesalahan kecil hingga suatu kesalahan yang besar, mereka bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Ketaatan yang sungguh luar biasa bahkan masalah terkait agama dan keyakinan tiap individu.

Kejujuran menciptakan kebenaran, kebenaran mendorong terciptanya kebersamaan, kebersamaan tumbuh menciptakan persatuan, persatuan tumbuh dengan penuh rasa toleransi dan kerukunan. Kerukunan menciptakan kemenangan dalam menghadapi perbedaan. Ketaatan dan kepatuhan memperkuat jiwa untuk terus melaju dalam jalan yang lurus.

Kejujuran, kebersamaan, kerukunan, dan ketaatan dicerminkan oleh masyarakat suku Dayak yang menjunjung tinggi semboyan "Bhineka Tunggal Ika" guna mencapai cita - cita "Mamangun Tuntang Mahaga Lewu" demi menciptakan Indonesia yang sejahtera.

"Amamangun Karyenak Tiyasing Sasama, Mamangun Tuntang Mahaga Lewu."

"Membangun kerukunan antar sesama guna terciptanya peradaban yang lebih baik."

Indonesia merupakan negara yang besar dengan penuh keanekaragaman, mulai dari sosial hingga budaya. Bagaimana tidak? Indonesia memiliki sekitar 17 ribu pulau dengan lebih dari 75 suku bangsa dan 726 bahasa daerah. Kekayaan yang terkadung di dalamnya sangatlah luar biasa, baik secara sumber daya alam, maupun sumber daya manusia. Keanekaragaman tersebut telah disatukan dengan satu semboyan jitu yakni "Bhineka Tunggal Ika" yang bermakna berbeda-beda namun tetap satu jua, Indonesia Jaya.

Semboyan tersebut benar-benar harus diilhami dan direalisasikan guna mencapai tujuan bangsa. Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia juga disatukan oleh Pancasila sebagai jati diri bangsa, cerminan karakteristik dan budi pekerti bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bumi Pancasila. Banyak orang yang belum mengetahui secara pasti makna atau arti serta maksud dari Bumi Pancasila. Kebanyakan orang menganggap Bumi Pancasila adalah Indonesia itu sendiri, akan tetapipada dasarnya Bumi Pancasila telah dicerminkan oleh tanah Kalimantan, tanah yang kaya lingkungan, emas, dan intan.

Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan kondisi masyarakat yang sangat mengilhami nilai-nilai Pancasila, mulai dari semangat juang, kesamaan tujuan, sikap toleransi dan sebagainya.

Hampir semua penduduk di seluruh bagian wilayah dari pulau Kalimantan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Jiwa persatuan mereka sangatlah kuat dan jika kita mengungkit kembali permasalahan yang hadir, maka kita akan membahas mengenai Perang Sampit, perang antara Suku Madura dengan Suku Dayak Sampit.

Memang tragis, peperangan tersebut menyebabkan ratusan hingga ribuan nyawa melayang secara sia-sia, mulai dari lansia hingga balita, bahkan pihak tak bersalahpun menjadi korban kesalahpahaman antar kedua belah pihak.

Terlepas dari cerita mengerikan tersebut, saat ini di Indonesia masih banyak perselisihan karena kesalahpahaman. Seiring perkembangan peradaban, jiwa persatuan mulai luntur dengan sendirinya. Ibarat cat, cat tersebut sedikit demi sedikit mengelupas karena terpaan air, dan angin yang melanda. Persatuan tersebut kini muai terancam sirna, tergerus arus globalisasi yang meningkatkan sikap egoisme masing-masing individu, hingga permasalahan terbesar yakni sikap intoleransi antar individu.

Setelah 14 tahun masa reformasi, toleransi dan kerukunan kehidupan beragama masyarakat masih terdapat hambatan. Salah satu faktor intoleransi dalam kehidupan beragama adalah lemahnya penegakan hukum.

Atas dasar tersebut, Dr. Albert Hasibuan, S.H, Anggota WANTIMPRES Bidang Hukum dan HAM beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Tengah dan mengadakan pertemuan di Aula Jayang Tigang Kantor Gubernur Palangka Raya dan Istana Isen Mulang guna membahas mengenai pluralisme dan toleransi antar umat beragama di Provinsi Kalimantan Tengah.

Dalam kunjungannya, Dr. Albert Hasibuan diterima oleh Bapak Agustin Teras Narang, Gubernur Palangka Raya beserta jajarannya, Danrem 102/Pjg, Wakapolda Kalimantan Tengah, dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah.

Belajar dari Bumi Pancasila, tepatnya Kota Cantik Palangkaraya Kalimantan Tengah, terdapat satu konsep kehidupan bermasyarakat yang termatup dalam satu konsep 4 Pilar Huma Betang. Huma Betang atau Rumah Betang merupakan rumah tradisional masyarakat suku Dayak Ngaju dengan bentuk memanjang layaknya hotel tradisional.

Huma Betang dihuni oleh belasan atau puluhan keluarga yang memiliki tabiat serta kepercayaan berbeda-beda. Sungguh luar biasa, masyarakat yang menghuni rumah tersebut memegang teguh semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Mereka hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan penuh kedamaian dan toleransi.

Mengapa mereka mampu? Individu yang menetap di Huma Betang sangat menjunjung tinggi prinsip 4 Pilar Huma Betang. Layaknya 4 Pilar bangsa Indonesia, 4 Pilar Huma Betang merupakan prinsip atau dasar pedoman dalam hidup bermasyarakat.  4 Pilar tersebut sangat menjunjung tinggi nilai persatuan, persatuan, kepatuhan, dan toleransi. Berikut ulasan mengenai 4 Pilar Huma Betang :

  1. Kejujuran

Prinsip hidup pertama adalah kejujuran. Masyarakat yang menghuni Huma Betang sangat menjunjug tinggi nilai kejujuran. Dalam bersosialisasi, mereka mengedepankan kejujuran, mereka bertanggung jawab juga berani mengakui kesalahannya. Layaknya individu yang polos, mereka mengatakan yang sebenarnya, jika mereka melanggar maka akan mendapat hukuman, jika mereka benar maka itu sebuah kebaikan.

  1. Kebersamaan

Kebersamaan, merupakan prinsip kedua. Kebersamaan menjadika hal sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Kebersamaan dalam bermasyarakat menjadikan mereka kuat, saling menjaga satu sama lain, saling mengerti dan memahami. Kebersamaan membawa mereka kedalam kehangatan. Mereka membuat makanan bersama dan dibagi kepada semua penghuni Huma Betang. Kebersamaan yang kuat menciptakan persatuan yang kuat.

  1. Kerukunan (Toleransi)

Kerukunan / Toleransi, menjadi prinsip ketiga dalam Huma Betang. Penghuni yang berjumlah belasan kepala keluarga, memunculkan keberagaman baru, mulai dari tabiat hingga kepercayaan. Kebersamaan menciptakan kerukunan diantara mereka. Meskipun berbeda keyakinan mereka menghargai satu sama lain, mereka saling menghargai, memberikan toleransi baik secara keyakinan hingga makanan.

  1. Taat Hukum dan Agama

Ketaatan terhadap hukum dan agama menjadi prinsip terakhir dalam hidup bermasyarakat di Hum Betang. Kejujuran yang mereka junjung menciptakan ketaatan terhadap hukum yang berlaku. Mulai dari kesalahan kecil hingga suatu kesalahan yang besar, mereka bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Ketaatan yang sungguh luar biasa bahkan masalah terkait agama dan keyakinan tiap individu.

Kejujuran menciptakan kebenaran, kebenaran mendorong terciptanya kebersamaan, kebersamaan tumbuh menciptakan persatuan, persatuan tumbuh dengan penuh rasa toleransi dan kerukunan. Kerukunan menciptakan kemenangan dalam menghadapi perbedaan. Ketaatan dan kepatuhan memperkuat jiwa untuk terus melaju dalam jalan yang lurus.

Kejujuran, kebersamaan, kerukunan, dan ketaatan dicerminkan oleh masyarakat suku Dayak yang menjunjung tinggi semboyan "Bhineka Tunggal Ika" guna mencapai cita - cita "Mamangun Tuntang Mahaga Lewu" demi menciptakan Indonesia yang sejahtera.

  • view 327