Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 10 Agustus 2018   15:34 WIB
Ia Mengelusmu dengan Lembut, sungguh Ia Merindukanmu

Repost

Lakalhamdu, Ya Rabbi, Kamaa Yan Baghii li Jalaali Wajhika Wa Azhiimi sulthaanika

Ya Tuhanku, kepunyaan-Mu lah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluhuran-Mu
 
Cinta-Mu melebihi cintaku pada-Mu, menyayangimu adalah sebuah nikmat yang ku peluk erat ku genggam hangat dan kerap kali ku do’akan semoga ia akan terus tumbuh kuat mengakar, kokoh batangnya pula semakin hari semakin tumbuh, semakin hari semakin menjulang tinggi ke langit. Hingga dengan begitu, mungkin aku dapat semakin dekat dengan-Mu, hingga dengan begitu Engkau mendengar semua bisikku, gumamku dan apa yang aku semogakan yang tiadalah lagi selain Ridha dari-Mu.
Walaupun ku tahu, bila ku berada di dasar bumi sekalipun atau sedang menyelam di dasar lautan, tanpa ku minta kau pasti mendengar. Namun, ku tahu Engkau suka jika ku mendekat dan aku tahu Engkau merindukanku hingga Kau membangangunkanku dengan penuh kelembutan. Teguranmu dan peringatanmu yang bersamanya Engkau tetap menyayangiku sungguh membuatku semakin terjatuh pada lautan nikmat yang membuatku terisak.
 “ ..Dan hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah, sampai Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengannya. Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan dimana ia bertindak dengannya. Dan aku akan menjadi kaki yang mana ia berjalan dengannya...” (H.R. Al Bukhari dari Abu Haurairah)
Aku tersenyum membacanya dan membayangkan sebegitu sayangnya Engkau kepada hamba-hamba-Mu. Ku kta level tak terhingganya rasa cinta-Mu kepada hamba-Mu.

Lalu apakabarmu jiwa-jiwa yang masih tertidur lelap, terperangkap dalam khayalan dan ketiadaan?
Bagaimana tidak, beberapa pekan, eh bulan, eh tahun bahkan lebih lama dari itu aku merasa lelap tanpa rasa, bangun tapi tertidur, ramai namun seringkali merasa sendiri dan hidup tapi seolah-olah diri ini mati. Tiada rasa, tiada hati ini peka. Jenuh, penuh, peluh, seluruh. Serat dan sesak tiada lagi perduli. Bahagia tertawa sama saja, rasa tetap stagnan, tetap pada tempatnya. Semua sama, alias aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan sampai berkata apapun dan bagaimana pun terserah Allah, terserah apapun yang terjadi, aku tak tahu ujung perjalanan ini dimana. (Saking tidak tahunya arah kemana, tidak mengerti inginnya diri seperti apa dan tidak tahu apa tujuan dari semua ini). Kalau kata seorang sahabat, rasanya tetap saja asistol.
Hingga setiap saat terasa seperti robot yang menjalani hari-harinya tanpa rasa tanpa kehadiran pada tiap-tiapnya. Jiwa yang melayang entah kemana. Entahlah, aku tak mengerti dengan perasaan demikian yang membuatku merasa hidup segan mati tak mau. Pernahkah engkau merasakan? Ya, ketika tertawa hanya di bibir saja, untuk sedih pun ku rasa tidak. Mata ini tak bisa menangis, tak bisa lagi mengeluarkan air mata.  Mendengar kalam-kalam Allah atau mendengar nasihat tentang orang tua yang biasanya terenyuh dengan itu, mengapa saat itu menjadi biasa saja, hambar tak ada rasa. Sekeras itukah hati, bagai batu yang hanya dengan air ia bisa melekuk.

Terbayang, Allah menegurku sedemikian lembutnya. Ternyata Ia merindukanku, sangat merindukanku.
Ia rindu mungkin berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, aku begitu jauh. Iman yang naik turun, kesetiaan yang telah, sedang dan akan mengujiku untuk tetap mengingat-Nya, untuk mendekap erat iman saat ramai apalagi dalam kesendirian.

Ia rindu pada anak kecil yang selalu berpangku tangan memohon, yang meminta diberi curahan kasih sayang untuknya dan untuk orang-orang yang dikasihinya. Ia rindu kepadaku yang setiap harinya terlalu sibuk memikirkan target jangka panjang dalam hidupku sedangkan jangka pendek yang pasti terjadi selalu aku abaikan. Ia adalah deadline untuk berhenti, pertanda untukku harus pulang dan mencukupkan semua dosa-dosaku. Ia adalah deadline untuk kesempatanku memperbaiki, mengumpulkan kunci-kunci yang suatu saat nanti dengan kunci itu ku bisa memilih pintu mana yang aku mau dan aku ingin rasakan kenikmatannya yang tak tertandingi, syurga-syurga yang kata orang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan banyak berbagai macam buah-buahan.

Namun sebetulnya, bukan masalah manisnya syurga atau pahitnya neraka. Ia adalah deadline untuk berusaha mencari ridha dari Nya yang seluruh hidup disemogakan untuk Ia perkenankan.
Ia rindu, ia menegurku dengan lembut dengan cara membuat hatiku menjadi mati, tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bergetar, tidak bisa mengeluarkan air mata, hampa, pasrah dan berserah. Ia rindu padaku, dengan begitu ia membangunkanku.
Bila engkau pernah atau sedang merasakan perasaan demikian, mungkin kekasih-Mu, ia yang menganggapmu kekasih-Nya, ia yang ingin sekali dianggap kekasih oleh-Mu, sedang merindukanmu. Bayangkan engkau diusap lembut oleh–Nya. Temui ia segera dalam istirahatmu dari hidup ini. Apalagi, Ia senang sekali ditemui olehmu setiap saat. Setiap engkau bernafas, setiap matamu berkedip, setiap kaki melangkah, setiap engkau mengorbankan hidupmu demi kebermanfaatan sesama makhluk-Nya. Ia senang ditemui olehmu dan apapun yang engkau lakukan atas nama-Nya. 

Berlaku pula itu untukku, jiwa yang sempat menemui kehampaan dalam hidup.
Maukah engkau segera menemui kekasihmu? Kekasih kita yang setiap saanya selalu menunggu kita kembali bertaubat dan kembali menjadi kekasih-Nya.
Ia mengelusmu dengan lembut, sungguh Ia merindukanmu.

Karya : rikeu novia