Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 49644
            [type_id] => 1
            [user_id] => 22182
            [status_id] => 1
            [category_id] => 76
            [project_id] => 0
            [title] => Yang Asing Akan Kembali Asing
            [content] => 

Tapak waktu yang kita lewati mempertemukan kita dengan seseorang sekaligus memisahkan kita dengan seseorang yang lain. Apakah waktu sedang bermain-main dengan kita? Atau justru keadaan yang sudah berbeda? Namun, mengapa diri masih percaya bahwa puisi Sapardi benar adanya bahwa “Yang fana adalah waktu, sedangkan kita abadi”.

Kemanapun, sejauh apapun atau selama apapun. Tiadalah berbeda seseorang yang kita kenal. Hatinya tiadalah berbeda, karakternya tiadalah berbeda, sifat dan sikapnya tiadalah jua berbeda. Ada ikatan kuat yang simpul menyimpul, saling menguatkan, lalu bagaimana bisa waktu atau jarak mengalahkannya? Sudahlah, mereka hanya sedang bermain-main dengan kita J

Lelah rasanya, berbicara tentang ini. Tentang bagaimana menghadapi hal yang tak mengenakkan. Sungguh, ada yang lebih mendidik kesabaran dari rindu, pun yang lebih menyakitkan dari sebuah perpisahan. Yakni ia, hadir di hadapan. Namun rasanya bak orang asing yang berlalu lalang. Yakni ia, yang sudah dilontarkan sapaan, tiada berbalas jawaban. Tahukah engkau? Ada yang diam-diam memelankan pekerjaan dan melambatkan jalan. Untuk menunggu, berharap bisa beriringan. Namun nyatanya engkau melewatkan.

Tentang harap yang hanya sebatas ingin, masih berusaha untuk diwujudkan, ia adalah harap akan kembalinya waktu pada kehangatan yang tercipta tanpa harus diusahakan. Dulu, ya dulu. Kini rasanya kita sudah masing-masing menggigil kedinginan dan hanya bisa menyalakan sebuah korek api yang nyatanya mudah patah. Sebatang korek api yang benci akan kesendirian karena sendiri itu jauh lebih mengerikan. Sebuah nyala yang ia harus pertahankan ditengah angin yang bertiup kencang membuatnya membatin lebih banyak, yang bahkan tertatih melawan dirinya sendiri, yang jatuh bangun mempertahankan kedamaian dengan dirinya sendiri. Yang ketika berpura-pura tersenyum di hadapan orang banyak tidak lebih menantang dibanding harus menahan air mata dalam sebuah ruang yaitu kesendirian.

Jangan salahkan waktu, karena mutiara indah selama apapun tersimpan akan tetap jadi mutiara. Jangan pula salahkan keadaan, bila ia berada di tempat tertinggi, di atas mahkota raja atau berada di tanah berlumpur sekalipun, ia tetaplah mutiara. Mutiara yang dirubah segala bentuknya dan bagaimana rupanya, tetap pada dasarnya ia adalah mutiara. Keindahahannya adalah keindahan yang Allah ciptakan istimewa.

Kembali, tentang waktu.  Waktu adalah kesempatan yang bisa disiasati. Ia bukan dicari luangnya tapi justru untuk diluangkan kesempatannya. Bertemu hanya sebatas jasad yang dipertemukan. Maka, mungkin itu bukan alasan jiwa yang ikut merasa berjauhan. Bila kedekatan itu kembali menjadi asing Jangan sekali-kali menyalahkan jarak maupun waktu. Tapi mungkin iman kita yang sedang diuji. Iman kita yang sedang menciut dan jiwa-jiwa kita yang mengerdil. Iman yang menghantarkan kesamaan dan memberikan pemakluman adanya perbedaan. Iman yang menemukan berbagai cara untuk bertemu, bukan kedua mata yang sama-sama melihat atau tangan yang sama-sama menggenggam. Namun do’a-do’a, ingatan dan hal-hal sederhana yang dapat membuat kita sama-sama saling memiliki. Iman yang menemukan jalan persahabatan. Bila ia persahabatan itu mulai goyah, artinya iman kita sedang digetarkan Allah sedikit saja. Akankah bertahan? Ialah yang kusemogakan.

Bila mengingat lagi, sebetulnya kita sadar , awalnya kita asing dan akan kembali asing.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf [43]: 67)

Pula kita tahu setiap pertemuan, disanalah Allah berperan atas alasan saling menguatkan iman. Kasih-mengasihi, cinta-mencintai dan sayang menyayangi bukan atas dasar sama-sama satu sekolah, satu kuliah, satu hobi dan lain-lainya. Pada hakikatnya semua karena satu alasan. Ialah dibawah payung iman yang mempersatukan manusia dengan manusia lainnya tetap untuk dikembalikan agar persaudaraan yang tercipta dapat membuat Allah ridha dan membuat kita mengingat Allah lebih banyak atau meluruskan ketika kita sedang lupa. Alasannya tetap dikembalikan.  Kita sama sekali tidak tahu seseorang, jangan-jangan dia adalah wali Allah yang Allah sembunyikan. Ialah yang Allah kasihi setiap waktunya. Bagaimana bisa kita menyakiti hamba yang Allah sayang? Masihkah kuasa untuk menyakitinya? Sebagai hamba yang juga Allah kasihi, kurasa tidak demikian. Bukan?

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah perkasa lagi Maha-bijaksana. (QS. 8:63)

Wallahualam

Bandung, 27 Juni 2018

 

 

(Tulisan ini dibuat ketika orang lain sibuk memikirkan UKMPPD, ini masih berdamai dengan diri sendiri untuk kembali bangkit. Ayo Rikeu Bangun!! Apa yang terjadi dengan dirimu? Tak tahulah akuuu )

 

 

 

[slug] => yang-asing-akan-kembali-asing [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1530107661.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 48 [issued] => 0 [author] => rikeu novia [username] => rikeunovia [avatar] => avatar.png [status_name] => published [category_name] => Catatan Harian [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-06-27T20:54:21+07:00 [updated_at] => 2018-09-25T14:20:51+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.066904ms [status] => 200 )