HATIMU, NEK :)

HATIMU, NEK :)

rikeu novia
Karya rikeu novia Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 11 Juni 2018
HATIMU, NEK :)

 

Sebelum berceritra, ku lantunkan do’a semoga Allah membersamai orang-orang yang sedang berjuang, untuk mereka yang memiliki hati satu dari seribu, hati yang jarang ku temui. Hati yang sungguh membuat iri terhadap rasa yang ia miliki.

Entah mengapa, memang dari dulu suka sekali orang tua (yang sudah sepuh) siapapun itu. Mengapa? Karena bersama mereka, kita hanya tinggal duduk manis dan menjadi pendengar yang baik. Sesekali tertawa, sesekali juga berlinang air mata.

Tanpa kita minta mereka akan berceritra, ketika kita bertanya satu pertanyaan. Mereka menjawab berhalaman-halaman perjalan hidup mereka. Bagaimana mereka berjuang untuk mencari makan, menyekolahkan anak-anak, sampai yang membuat tersenyum adalah bertemu pasangan namun ceritra berakhir dengan rasa kehilangan karena ia yang ditinggal lebih dulu oleh sang suami. Kembali, ia harus berjuang sendirian.

Ku panggil ia nenek, ia membahasakannya sendiri ia ingin dipanggil nenek. Benar ketika ada yang mengatakan “Aku hanya butuh waktu sedetik saja untuk mencintai sedangkan aku butuh waktu sepanjang hidupku untuk melupakan.” (asiik). Eits jangan baper!

Lebih dari itu, kali ini aku berbicara tentang rasa sayang karena pada dasarnya yang ku hadapi adalah sosok istimewa yang juga rasa sayangnya lebih dari yang ku kira, rasa sayang dan ketulusan yang ia miliki yang berkali-kali menampar diri.

Rasanya baru satu kali bertemu saja, sudah seperti nenek sendiri. Aku bertemu dengan sosok seperti ini berkali-kali, berkali-kali pula banyak sekali pelajaran ku dapati.

Nenek ini adalah nenek yang ku lihat setiap hari ketika aku berangkat atau pulang dari Rumah Sakit. Bersama kantong kresek yang berisikan tissue, dengan penuh senyum ia menyapa.

Lagi-lagi berbicara kekuatan. Ya, ia sosok yang kuat dan justru aku yang tidak kuat mendengar ceritranya. Berkali-kali ku bertemu beliau, berkali-kali pula aku tertegun. Aku pun bertanya, Malaikatkah yang sedang berada di hadapanku? Duduk di pinggir sambil menawarkan tissue. Ketulusan hatinya, ketegaran, ketangguhan. Semua itu menggambarkan sosok beliau.

Ia berceritra, dan aku menjadi pendengar sambil menganggukan kepala, sesekali menggunakan tissuenya untuk mengusap air mata.

Awal pertemuan, ketika aku mendekat ia berkata sambil menjaga jarak denganku,

Neng, jangan dekat-dekat nenek, nenek mah bau, jarang mandi, neng mah rapi mau bekerja, mau dinas neng”

Aku tambah mendekat dan merangkulnya, “Tidak bu , tidak bau.. mau beli tissue nya ya bu”

Singkat cerita, ku lupa pertemuan ke berapa ia berceritra..

“Neng, nenek jadi jualan di sini, kemarin ada orang yang menyangka nenek orang gila. Memang nenek sedang berobat gula neng, tapi nenek mah bukan orang gila.” (ia perlihatkan kartu berobat dari tahun 199.. aku tak ingat persis angka nya)

Ia berceritra ini sambil menangis, aku pun tak kuat mendengarnya. Setelah selesai membeli tissue, ku pamit pulang lebih dulu, bukan bermaksud meninggalkan nenek. Hanya saja ku tak mau berkali-kali menangis di hadapannya.

Pertemuan berikutnya, aku pun bertanya “Nenek tinggal dimana nek?”

“Nenek tinggal di Cimahi neng, dulu waktu masih ada Bapak (suami nenek), nenek tinggal di kontrakan, kami sewa rumah kecil.”

“Oh iya nek, lalu sekarang nenek tinggal dimana?”

“Nenek tinggal di Cimahi neng, di Masjid. Neng dokter, nanti kalau misalnya nenek sudah sewa rumah, walaupun kecil, neng main ya ke rumah nenek. Do’akan nenek neng, mudah-mudahan ada rezekinya, mudah-mudahan nenek bisa nyediain makanan juga buat neng”.

Aku hanya terdiam, aku tak berniat memperpanjang percakapan karena tidak kuat rasanya. Biar ceritra nenek disimpan untuk pertemuan selanjutnya. Ku pikir.

Tapi nenek melanjutkan percakapannya kembali,

Waktu itu sedang deras-derasnya hujan, ia kedinginan “Neng, kalau punya baju bekas, rok yang sudah tidak neng pakai boleh dikasih ke nenek, jangan yang baru neng, kalau yang baru nenek ga mau, yang baru mah buat neng aja, nenek maunya yang bekas saja neng. Nenek cuma punya satu, jadi kalau hujan, roknya basah dan nenek kedinginan”. (Baru kali ini ia berani berceritra sepanjang ini setelah sekian lama aku mengenalnya, dari zaman ambil data ketika skripsi sampai sekarang ketika sudah mau lulus jadi dokter).

Memang, nenek berhati malaikat itu tidak mau diberi, tidak mau merepotkan orang lain. Jika aku membeli tissue, seringkali ada kembalian, niatku memberikan kembalianya itu, tapi kembali, nenek bukan orang yang mudah menerima, karena ia tahu setiap orang pasti punya kebutuhan katanya.

Ku bilang, “Kembaliannya buat nenek saja”. 

Nenek menjawab, “Eh jangan neng, nenek mah ada. Buat neng aja, buat parkir di depan”

Padahal mah di dalam hati,

“Kami jalan kaki nek, tidak sama sekali menggunakan kendaraan”

Berkali-kali aku dan temanku yang sering beli tissue ditolak nenek. Lagi dan lagi, aku berkata ya Allah  ada ya orang seperti ini. Mulia sekali hati nenek. Akhirnya aku hanya bisa melantunkan do’a.

Kejadian ini membuat kami mencari cara lain, kami beli tissue nenek lebih banyak dan mungkin menurut beliau lumayan sering. Padahal mah memang akhir-akhir ini, beli tissue dari nenek saja untuk keperluan di kost an hingga sering habis, atau sebelum habis kami pasti menemui nenek.

Ia pun berkata, “Neng, eneng belinya jangan banyak-banyak. Memang tissue neng yang kemarin sudah habis? Belinya cukup 2 aja neng, nanti kalau habis neng beli ke nenek lagi”.

(Di dalam hati, lagi! MasyaAllah, ada ya sosok seperti ini)

Bertemu nenek seperti bertemu dengan sosok teladan bagaimana sikapnya mewakili ketulusan hatinya. Ia sosok yang tidak mau dikasihani, bahkan ia mau memberi. Lupa-lupa ingat, pernah lihat nenek di angkot. Nenek memberi uang logam pada pengamen yang menghampirinya saat itu.

Untaian do’a ku panjatkan. Semoga Allah memberikan kesehatan pada nenek. Semoga Allah membersamai nenek dimanapun nenek berada. Semoga didekatkan dengan orang-orang yang menyayangi nenek. Nenek orang baik, Allah pasti akan mempertemukan nenek dengan orang baik pula. Hati nenek jauh sangat jauh untuk dilampaui. Melihat diri yang masih begini-begini saja, kurang bersyukur, sering kali mengeluh. Banyak nikmat yang tidak disadari, banyak hal kecil yang dijadikan alasan untuk mengeluh. Lalu apa? Penyesalan yang dirasa di akhir.

Melihat nenek, malu sungguh malu. Matanya yang sudah buram kemungkinan karena kompilkasi dari penyakit gulanya, postur tubuhnya yang sudah membungkuk dan semua keterbatasannya. Tidak sama sekali menjadi alasan untuk tidak berusaha. Lalu apa? Kita yang masih berdiri tegak, masih diberikan kesehatan, masih diberikan nikmat oleh Allah berbagai macam aspek kehidupan, keluarga yang sayang, teman yang baik, pekerjaan yang layak, rezeki yang selalu ada saja dimana kita butuh. Sempat-sempatnya kita mengeluh, merasa lelah dengan semua ini, berat hati menghadapi hari senin, terbuai dengan rutinitas hingga lupa sumber semua ini dari mana, malas yang terus saja ada, masih saja bertanya “Mengapa ya Allah?”  Betapa malunya melihat nenek.

Ketika dalam hidupnya keadaan semakin sulit, nenek terus berusaha dan berdo’a. Nenek bilang  masih ada Allah, bagaimana pun kita, Allah tetap menyayangi kita.

Seperti kita tahu do’a adalah muara terakhir dari usaha, yang langsung sampai pada langit dan akan kembali kepada kita. Do’a adalah kekuatan. Seperti yang Ust Hanan katakan dalam kajiannya, kira-kira seperti ini, “Walaupun pena telah tertulis dan tintanya sudah kering, artinya Allah sudah menggariskan, do’a bisa merubah nasib seseorang, tinggal kembalikan lagi sama Allah, percaya sama Allah bahwa Allah punya rencana terbaik buat kita”.

Segala puji bagi Allah telah menciptakan sosok seperti nenek.

 

 

  • view 39