Berada Diantaranya

rikeu novia
Karya rikeu novia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 Mei 2018
Berada Diantaranya

Berada Diantaranya

Tanya malam, kapankah ini usai? Atau bahkan baru dimulai?

Tanya malam, bersamanya di tengah rintih yang tak ingin ku sebutnya rintih ataupun ungkap lirih melainkan permohonan kekuatan pada Yang Maha Kuat, kejadian-kejadian mengharukan, langkah ini menapaki tapak waktu, menghantarkanku ke depan pintu, belum masuk, belum duduk. Bak pintu gerbang yang terbuka lebar, bukan ruang kedap suara, bukan pula jeruji yang terkunci.

Allah perlihatkan, bahwa selama ini terlalu jauh aku meneropong hingga lupa bercermin. Entah untuk segala keajaiban-keajaibannya selama ini atau melihat ketidaksempurnaan yang ada. Hingga aku lupa, bahwa arti dari penggalan surah Ar-Rahman itu benar adanya,”Nikmat mana lagi yang kau dustakan?”.

Kala itu, 1 Ramadhan, pukul 04.00 pagi. Ku bersamai seorang ibu yang yang menghantarkan Ibunya (orang tuanyanya) yang terbaring sakit. Ku bawa ke ruang pemeriksaan Radiologi. Tiba-tiba seorang radiografer bertanya,

 “Dek, sudah sahur?”

“Belum teh”, jawabku sambil tersenyum

Pasien malam itu lumayan banyak, hingga seketika kami duduk untuk istirahat seketika itu pula kami dipanggil untuk melaksanakan intruksi yang diminta.

“Ini dek, buat sahur” (diberikannya satu kotak nasi padang)

Nasi padang ini, pernah kusebut dalam hati  beberapa waktu lalu. Aku pun tersenyum. (Kalau dalam bahasa Sunda, nembe dikeretegkeun dina hate, teu acan diucap dina lisan, Allah tos masihan)

“Ini serius teh? Teteh udah makan belum?”

“Sudah, saya sudah makan. Ambil saja”

Setelah penolakan karena tidak mau merepotkan, aku pun dipaksa mengambilnya.

“Saya bingung mau kasih ke siapa, nasinya tadi saya pesan lebih.”

“Alhamdulillah, terimakasih banyak ya teh.. “

Ku ambil kotak nasi itu, sambil berpikir, padahal aku bawa bekal, walau hanya sedikit nasi dan satu buah telur dadar yang digoreng kemarin sore. Tidak-tidak, walau rasa ingin pada nasi padang ini, tapi kembali rasanya mubazir kalau bekal tak ku makan.

Mata ini pun tertuju pada seorang ibu, keluarga pasien yang aku dorong tadi.

“Bu, ibu shaum?”

“InsyaAllah dok, Kenapa dok?”

“Ibu tos tuang bu?”

“Teu acan dok” (ibu sambil tersenyum)

Bu, kaleresan abdi dipasihan nasi box tadi, saurna kalangkungan, ieu kanggo ibu we nya?” (Kebetulan saya diberi nasi box tadi, katanya kelebihan, ini buat ibu saja ya?)

“Eh, teu sawios dok, kanggo dokter we, keun weh ibu mah gampil”.(Jangan dok, buat dokter saja, saya mah gampang)

“Bantosan abdi bu kanggo nyeepkeunna, abdi nyandak bekel oge, ieu bu candak”

“Leres dok ieu teh kanggo abdi?”
“Muhun bu, pami abdi seeur-seeur teuing mah ke kamerkaan
”. Hehe (sambil bercanda)

“Hatur nuhun dok”

“Sawangsulna bu, hapunten bu mung aya 1”.

Karena ku lihat tidak hanya ibu saja, melainkan ada 2 orang keluarganya yang lain.

Mereka bergegas keluar sambil membawa nasi kotak tadi. Tak lama kemudian, aku pun keluar untuk makan sahur.

Keluar dari pintu IGD, terlihat Ibu tadi memberikan nasi itu kepada seorang Bapak. Langkahku terhenti, ku lihat mereka berlima membuat satu lingkaran tanpa alas duduk, tepat dibawah tangga, dimakannya nasi padang tadi.

Satu nasi di dalam box dimakan untuk berlima, ditengah kekhawatiran, ditengah gundah menunggu orang sakit, ditengah rasa takut akan kehilangan orang yang dicintai. Ku mengerti mereka. Jangankan memikirkan makan untuk diri sendiri, yang ada yang menjadi fokus perhatian adalah orang yang sakit.

Rasanya tiba-tiba ada yang melesat dalam dada, membuat air mata ini tak dapat ku tahan. Berkali-kali aku pernah berada di posisi mereka. Tidak enak memang. Semoga Allah menguatkan ibu dan Bapak. Semoga Allah memberikan kesabaran pula dikuatkan kesabarannya. Karena sungguh, yang paling menyakitkan adalah melihat orang yang kita cintai menderita, berbaring tak berdaya. Dilantunkannya do’a sebagai pelabuhan terakhir yang bisa. Sunggguh, berada diantaranya adalah berada diantara kebaikan-kebaikan, seperti penyambung tali yang tadinya putus, perekat yang tadinya terpisah, jembatan sederhana, mempertemukan ketulusan dengan ketulusan yang lain,  hingga mencapai titik keberkahan.

La Tahzan Innallaha Ma’ana

"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita".

(QS At Taubah:40)

Cobalah perhatikan, bila kita belum mampu memberi lebih, siapa tahu Allah takdirkan kita berada diantaranya, untuk mempertemukan suatu kebaikan dengan kebaikan yang lain. Kita mempertemukan sepetak tanah kering dengan sumber air yang Allah beri lebih namun belum ada saluran yang menghubungkannya. Pertemuan termanis hati-hati yang ikhlas, jiwa-jiwa yang tulus.

Segala puji bagi Allah mempertemukan kami yang bukan tanpa alasan.

Jangan-jangan, selama ini kita salah satu diantaranya, kehadiran kita yang Allah takdirkan menjadi jalan pertemuan mereka, namun kita belum sadar saja, belum peka saja.

 

Bandung, Mei 2018

  • view 36