Akhir-akhir ini....

rika Siti Syaadah
Karya rika Siti Syaadah Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Januari 2017
Akhir-akhir ini....

 

Akhir-akhir ini saya suka merasa ngeri, merinding dan begitu ketakutan melihat negri ini dan seisinya yang sedikit-sedikit emosinya tersulut, sebentar-sebentar ototnya mengencang, dari jam ke jam kolom media masa dibanjiri aksi saling hujat. Hari ke hari layar kaca dipenuhi berita saling lapor. Terlepas dari siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang merasa (selalu) benar sungguh hal-hal seperti ini lebih menakutkan dibanding menyaksikan film horor digedung bioskop seorang diri.

Akhir-akhir ini saya lebih sering melihat orang memilih diam sebagai pilihan yang maha baik, padahal tentu saja tidak selamanya diam adalah baik. Semuanya lahir dari ketakutan dan ancaman yang maha dahsyat, muncul dari perasaan yang akan menimbulkan dampak serba salah. Karena dihari-hari penghujung zaman seperti ini kebenaran selalu tampak begitu semu tabu dan ditutupi hampir sempurna oleh benda-benda hitam legam. Sementara keburukan selalu tampak memesona dengan hiasan yang menarik mata.

Akhir-akhir ini, saya seperti menyaksikan diri ini sedang berada dalam miniatur keluarga broken home. Keluarga yang sesungguhnya sangat potensial untuk hidup rukun, hidup bahagia dan sejahtera karena keluarga tersebut memiliki paras yang rupawan, pengetahuan yang cukup tinggi, kekayaan yang cukup banyak sebagai bekal hidupnya namun sayang.....dibalik itu semua ego dari mereka juga sangat tinggi. Sehingga tingginya ego inilah yang membuat sebuah keluarga porak-poranda. Tingginya ego jua lah yang menjadi sebab terlantarnya nasib anak-anak, putusnya harapan masa depan anak-anak.

Akhir-akhir ini, saya merasa negri ini bak keluarga broken home. Negri yang sesungguhnya sangat potensial untuk hidup rukun, bahagia dan sejahtera. Negri yang memiliki kekayaan alam nyaris sempurna, negri yang memiliki penduduk yang terpelajar dan berwawasan luas, negri indah dengan modal lebih dari cukup yang  semestinya mampu menjadi surga asia atau dunia. Seolah-olah keindahan negri tersebut rontok terkoyak dicabik-cabik oleh runcingnya ego. Hanya carut marut yang tersisa, hanya air mata yang mampu berkata-kata, tinggalah manusia-manusia tak berdosa yang menanggung segala lara.

Seperti anak dari keluarga broken home, yang selalu merasa serba salah untuk membenci mana yang benar mana yang salah atas taqdir pilu yang menyapanya karena seburuk apapun keduanya adalah orangtua. Seperti anak dari keluarga broken home itulah mungkin kita, merasa tak berdaya untuk menerka, untuk membenci siapa yang dominan menciptakan ketidak nyamanan ini. Karena dibalik rasa kecewa yang mendalam kita masih menyimpan hormat pada siapapun mereka yang usianya lebih tua

Anak-anak seperti kita hanya punya pilihan menerima semua ini dengan lapang dada sambil mencuri ilmu dari berbagai guru, tempat dan kejadian untuk hidup dimasa yang akan datang lebih baik.

Atau....

Melawan semua ini dengan ketidak relaan, berontak sehingga menciptakan kekacauan yang baru.

 

Bandung, 28 Januari 2017

  • view 99