Mekahnya Indonesia

rika Siti Syaadah
Karya rika Siti Syaadah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Desember 2016
Mekahnya Indonesia

Lama sekali berpikir untuk menuliskan tentang demo lanjutan ini, mengingat sensitifitas orang akhir-akhir ini sedang mengangkasa. Tentang demo sebelumnya yakni  411  saya tidak mengikutinya dari siaran TV  karena saya terlalu muak dengan media yang telampau hiperbola, maka saya putuskan mengikuti demo 411 lewat live report teman-teman yang saya kenal betul dan kredibilitas beritanya bisa dipertanggung jawabkan. Lalu bagaimana dengan demo 212, jujur nalar saya hingga sehari sebelum demo ini berlangsung tidak bisa mencerna dengan utuh apa maksud demo lanjutan, jika tuntutan pada demo 411 adalah ingin Yth. Bapak Ahok diproses bukankah proses hukum terhadapnya sedang berlangsung?  Percakapan tentang pro-kontra ini pun tak luput dari bahasan pengajian keluarga hingga larut malam. 

Rabu, 30 November 2016. Ketika warga Ciamis melintas dijalanan Rancaekek dan membuat jalanan tersendat hingga parakanmuncang. Ketika sebagian warga dan anak sekolah membanjiri jalanan dan memberikan makanan serta minuman untuk pasokan energi, sementara sebagian lainnya sibuk mencaci masih terngiang di telingga saya ''aksi wiro sableng'' ''aksi ini bayarannya pasti lebih mahal dari kemarin'' ''ngaheurinan jalan'' ''ngamacetkeun'' dan cibiran lainnya. Marah kah saya dengan semua perkataan miring tersebut, ingin sih marah tapi logika saya lagi bening tanpa noda hingga saya hanya mampu menyungingkan senyum pada mereka tanpa berkomentar apapun sementara dalam hati berkata ''untuk apa membuang energi dengan berbincang pada orang-orang yang tak faham, buang-buang energi. Energi negatif dari siapapun hanya perlu diabaikan terlebih dari orang-orang yang kurang mafhum.''

Jumat, 2 Desember 2016. Hp saya penuh dengan notif dari beberapa teman yang sudah mengikuti demo 411 dan kini mereka tak mau melewatkan demo 212, mereka meminta doa agar demo 212 berjalan sebagaimana mestinya membuahkan hasil seharusnya. Hati saya masih normal waktu membalas chat-chat teman saya, beberapa menit kemudian setelah menengok kolom group lainnya waras saya mulai luntur, air ludah tecekat dihulu kerongkongan, sontak bulir air mata berkumpul menjadi sungai aliran kedunguan yang berubah menjadi pengakuan atas kemaluan dan kelemahan. Begitu banyak manusia yang terketuk pintu hatinya mengikuti demo ini, bukan hanya santri saja tetapi berbagai lapisan masyarakat hadir disana hingga artis dan kaum intelek lainnya pun turut duduk menjadi saksi damai tersebut. Bahkan nenek dan kakek tua renta yang keadaan fisiknya sudah tak sekuat kebayakan lainnya, yang tenaganya hanya tinggal sisa pun tak urung tuk andil dalam aksi tersebut.

Lagi dan lagi saya tak sudi melihat siaran TV, saya hanya mengikuti  demo 212 ini sama halnya dengan 411 yaitu melalui live report teman-teman saya. Ketika menerima live report dari teman-teman, haru saya begitu membuncah terlebih ketika hujan menguyur ibu kota sementara barisan shalat jumat tetap kokoh dalam shaf-shafnya yang begitu rapih tak goyah walau sejengkal. Syahdunya lantunan suara imam seolah mengutarakan luka hati segenap makmunya bahwa kepedihan yang menancap di ulu hati harus tetap mereka balas dengan segala kebaikan yang sempurna. Bacaan qunut yang panjang dan tak difahami dengan jelas artinya bagi sebagian besar orang terkecuali para ulama namun entah bagaimana mampu membuat derai air mata jatuh disetiap pelupuk mata, seolah-olah qunut tersebut adalah sajak cinta tentang patah hati yang begitu romantis mampu membuat siapa saja terlarut didalamnya.

Sebentar, dari atas tadi saya menyebutnya demo?. Bukan, ini bukan demo. Jauh sekali dengan  label ''demo'' yang identik dengan drama karena saya pernah muda dan menjadi mahasiswa bahwa demo biasanya identik dengan drama. Bagaimana bisa disebut drama, 212 dihadiri jutaan manusia. Jika itu demo, jika itu drama, siapa yang mampu membayar manusia sebanyak itu? yang notabenenya beberapa peserta dari 212 dalam kesehariannya bayarannya tak murah, seperti ulama ternama, para intelek, artis, pengusaha, dll. Sungguh ini bukan tentang demo berbuah rupiah apalagi nasi bungkus, ini tentang manusia yang rindu dengan kedamaian. Aksi 212 demo kah? Jelas bukan. 212 adalah ayunan sejarah tentang kedamaian, betapa islam adalah rahmatan lil 'alamin bagi seluruh penduduk bumi. 212 adalah ayunan sejarah tentang persatuan dalam mengetuk pintu langit lewat doa-doa syahdu. 

Saya berpikir dahulu menjadi tamu Allah itu hanya ketika kita berpijak di Tanah Suci mendekap makam Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad dengan doa-doa dan kerinduan yang tak terdefinisikan kata-kata. Hari ini saya melihat, ternyata Jakarta telah menjadi Mekahnya Indonesia yang mengundang sekitar 7 juta tamu Allah. Mekah dan Medinah itu ternyata perihal jarak, haji itu ternyata hanya tentang sebutan. Sejatinya semuanya itu ada di langit Jakarta jumat kemarin. Dalam ayunan sejarah yang begitu mesra diiringi tetes air hujan, Jakarta menjadi saksi bahwa kedamaian hanya bisa diraih ketika jiwa berpasrah hanya kepada Sang Maha. Dalam ayunan sejarah yang begitu syahdu, menghajikan diri terlampau sulit dibanding mengumpulkan rupiah tuk tiba di Mekah dan Medinah. Selamat mendapati gelar haji para peserta aksi 212, segala niat baiknya Allah yang balas. Terimakasih tak hingga untuk doa-doa tulus yang membelah langit tentang negri ini. 

Bandung, 4 Desember 2016

  • view 154