Tak perlu ayah, ibu dan kakak tahu

rika Siti Syaadah
Karya rika Siti Syaadah Kategori Puisi
dipublikasikan 01 Desember 2016
Tak perlu ayah, ibu dan kakak tahu

Adakah yang lebih sesak dari menyembunyikan kesakitan dari wajah ibu agar beliau tak bersedih?

Adakah yang lebih menyayat dari berpura-pura baik-baik saja dalam kondisi yang buruk dihadapan pandangan ayah agar beliau tak getir dengan keadaanku?

Adakah yang lebih menakutkan dari bercerita segala hal kepada kakak, namun tidak tentang perihal sakit ini, agar kakak tak cemas?

Bolehkah berbohong demi membeli mata dan mulut orang-orang disekitarku percaya, bahwa aku sehat seperti mereka adanya?

Duhai kesibukan aku teramat rela jika semangat menggerogoti jiwa ragaku hingga capek, lalu aku abai tuk menuruti kemanjaan badan lemah ini

Waktu, ijinkan aku mengukir senyum digaris bibir ayah, ibu dan kakak lewat prestasi (bukan) karena kurangku yang membuatnya simpati. Aku hanya ingin menjadi setitik inspirasi

Dan biarkan hanya lipatan bantal yang tau definisi sakitku, menampung bulir dukaku. Tak perlu ayah, ibu dan kakak tahu

Maka cukuplah dinding kamar yang mendengar setiap jeritan kesakitan ku tiap malam. Tak perlu ayah, ibu dan kakak tahu

Hamparan sajadah abadilah menjadi kurir tempat aku titipkan keluh, resah, sesak, harapan, impian, ketakutan, gundah, suka cita, lara dan nestapa, jua tempat ayah, ibu dan kakak berpadu dalam doa atas keinginannya tentang sehatku. Pastikanlah wahai kurir abadiku semuanya menepi pada Sang  Maha Pemberi Kehidupan.

Yang Maha Kuasa, kau boleh ambil aku karena sakitku. Namun jangan biarkan ayah, ibu dan kakak jatuh sakit karena ku

Yang Maha Pemberi, lebihkanlah karunia bahagia tuk Ayah, ibu dan kakak. Aku rela diri ini pergi, namun aku tak suka jika mereka menderita krisis senyum dan ikhlas ketika aku pergi

Aku hanya ingin Ayah, ibu dan kakak serta sekitarku bahagia dan tumbuh kuat dalam mengenggam keadaan bukan sebaliknya

 

Bandung, 29 November 2016

  • view 226