Tisu

rika Siti Syaadah
Karya rika Siti Syaadah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 November 2016
Tisu

Sekilas tidak ada yang tabu dengan gambar tisu.  Cerita ini  bukan tentang tisu ataupun merk tisunya namun tentang bagaimana memiliki jiwa seputih lembaran tisu. Tepatnya pada hari kamis kemarin sekitar jam 13.00 saat Alya bersama dengan teman-teman keluar dari kelas perkuliahan dengan kepala masih kleyengan karena baru saja Alya beserta teman-temannya melewati UTS. Saat mereka keluar gedung, didepan gedung ada seorang kakek tua renta yang bicarapun sudah tak jelas sedang menjajakan tisu. 

Kala itu hari telah mendung, hampir semua orang terlihat terburu-buru pergi menuju tujuannya masing-masing dan mengabaikan si kakek ini, mungkin mereka takut hujan turun sebelum mereka tiba ditempat tujuannya. Karena cuaca Bandung akhir-akhir ini sedang tak bersahabat dan terkesan menakutkan.

Alya dengan kepala masih jelimet terlihat menarik diri dari kerumunan teman-temannya  seraya berkata "duluan aja, nanti aku nyusul guys" tak lama setelah  itu ia  kemudian menghampiri bapak yang menjajakan tisu tersebut.

Alya: berapa harganya pa?

Bapak: wa ribu neng  (dua ribu) dengan intonasi dan pelafalan kata yang tak karuan

Alya: ini pa uangnya (menyodorkan uang  selembar biru). gausah dikembaliin pa, semoga bapa selalu sehat dan Allah mudahkan rizkinya

Bapak: tur nuun (hatur nuhun=terimakasih) seraya menitikan air mata

Alya pamit pada bapa tua itu dan bergegas untuk menemui teman-temannya yang lebih dulu jalan ke perpustakaan. Dalam setiap langkah perjalanan di hari itu sukmanya menjerit dan jua kagum dalam waktu yang bersamaan.  Tak henti-hentinya tanya muncul dalam kepala Alya 'kemana anak-anak dari bapa ini, mengapa tega menelantarkan orangtuanya seperti ini?'

Jika soal kimia pada UTS tadi siang dibilang sulit, sungguh menjajakan tisu dari rumahnya yang berjarak puluhan kilometer ke gedung perkulihan dengan kondisi fisik yang sudah renta ditengah cuaca yang tak menentu pasti jauh lebih sulit. Tak pantas setitik keluhpun layak  aku keluarkan dari mulut, sungguh tak layak!

Jika ada warna lain selain putih yang dapat menggambarkan ketulusan, mungkin itulah warna yang mampu mencerminkan jiwa bapa penjual tisu.  Tidak mengeluh dengan keadaan, tetap berjuang sepenuh jiwa ditengah keadaan yang teramat sulit, begitu tulus menjalani segala suratan takdir.

"Terimakasih Tuhan, atas nikmat universitas kehidupan disamping sekolah formalku", mungkin surga lebih layak bagi kakek tua itu dibanding shalat dan sabarku yang masih sekedar, itulah akhir dari gumaman Alya tepat sebelum hujan turun lebat pada siang itu.

  • view 100