Mungkinkah Kita Sama?

Rihlatul Adni
Karya Rihlatul Adni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juli 2017
Mungkinkah Kita Sama?

Jujur, aku senang bertemu denganmu.

Waktu dimana aku bisa duduk satu tempat denganmu adalah hal indah yang aku tunggu. Aneh. Padahal aku hanya mendengar suaramu saja dibalik tirai kala itu. Kau pimpinannya. Dan aku hanya prajurit yang mungkin ada pada list kesekian yang akan kau hubungi setelah sekjend dan jajaran koordinator dibawah mu. Walaah, apalah aku ini. Jomplang sekali. Belum lagi jika jajaranmu itu akhwat-akhwat yang anggung nan sholehah. Bidadari syurga pisan.

Begitulah.

Aku mungkin bukan orang pertama yang kagum atas setiap komando yang kau sampaikan. Jarak satu angkatan denganmu, membuatku harus ‘bersaing’ dengan rekan akhwatmu yang lain. Yang juga punya kekaguman terhadap mu.

Pernah satu ketika, pada hari musyawarah kerja. Aku maju. Aku harus mempresentasikan rencana kerja tim ku. Agak menyebalkan. “kau kemana, bapak koordinator?” pikir ku. Aku sebetulnya tidak mempermasalahkan presentasinya. Karena kau belum hadir saat itu dan aku tidak perlu bersusahpayah untuk mengatur ritme jantung ku yang nyatanya sangat cepat saat berhadapan denganmu.

Tak lama setelah aku selesai presentasi, kau datang. Bercengkrama dengan yang lainnya. Dan mulai kembali ke pembahasan musyawarah hingga acara penutupan. Hal tak terduga saat itu adalah ketika kau mengucapkan barisan kalimat, yang membuat semua orang menoleh ke arah ku. Kalimat dan deret makna yang sama persis dengan apa yang aku sampaikan saat aku menutup presentasi ku beberapa jam tadi. Padahal kau tidak ada saat itu.

Mungkinkah, kita sama?

  • view 52