Bahkan Puan Maharani Peduli Saksi dan Korban

Riefqul Hakiem
Karya Riefqul Hakiem Kategori Tokoh
dipublikasikan 10 Desember 2017
Bahkan Puan Maharani Peduli Saksi dan Korban

Kenapa saksi dan korban harus dilindungi? Karena korban adalah orang yang sedang “tertimpa” dan butuh perlindungan karena “lemah”, sementara seorang saksi adalah kunci. Itulah pandangan sederhana Puan Maharani tentang pentingnya melindungi saksi dan korban dalam sebuah kasus.

Maka, dalam konteks ini, wajar sekali Puan Maharani memiliki kepedulian terhadap Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Terlebih, Puan Maharani menyadari, bahwa kerjanya adalah kerja kemanusiaan. Untuk memperjelas setiap hak dan kewajiban warga negara dalam konteks pembangunan.

Keberadaan LPSK sebagai sebuah lembaga diakui masih jauh panggang dari apinya, tapi usaha dan komitmen untuk menjadikan LPSK sebagai lembaga yang lebih “terasa” dan kredibel disuarakan oleh Puan Maharani dalam sebuah seminar bertajuk “Mendorong Implementasi Penanganan Korban Kejahatan di Indonesia yang Terintegrasi”.

Sederhana, bahwa menurut Puan Maharani memberikan perlindungan kepada saksi dan korban merubakan tugas yang mulia, meski tidak mudah dan penuh tantangan. Terutama menghadapi kompleksitas kejahatan yang semakin “bervariasi”. Sehingga Puan Maharani mendorong penguatan LPSK dengan kapasitas yang lebih besar sehingga akses layanan lebih luas. Dengan kata lain, memperkuat dan memajukan LPSK adalah bagian dari memajukan bangsa melalui semakin meluasnya tugas-tugas mulia.

Atas dasar itulah, Puan Maharani mempunyai komitmen dan berjanji untuk mendorong semua kementerian dan lembaga yang ada di bawah tanggung jawabnya untuk ikut serta berperan memajukan dan membantu LPSK.

Puan Maharani menyadari pentingnya peran LPSK, yang dalam perkembangannya masih jauh panggang dari apinya. Tapi Puan Maharani memberikan apresiasi yang besar, terutama ketika baru pada pemerintahan ini korban kejahatan diberikan bantuan oleh negara melalui LPSK, yaitu terkait bantuan untuk tujuh korban tindak pidana terorisme kasus bom Molotov Gereja Samarinda sebesar Rp.237,87 juta (Kompas.com). Kedepan, Puan Maharani berharap akan ada kerja-kerja luar biasa sebagai apresiasi dan kepedulian terhadap para korban dan saksi.

Artinya, Puan Maharani peduli terhadap para saksi dan korban. Peduli terhadap saksi adalah bagian dari penyelesaian masalah secara lebih terbuka dan rinci, sementara peduli terhadap korban adalah upaya untuk menjaga survivalitas dan meningkatkan resiliensi mereka dalam menjalani hidup selanjutnya. Komitmen Puan Maharani jelas dalam konteks ini.

Sebagai bentuk kepedulian itu, Puan Maharani menyerukan pentingnya melakukan gotong royong antar Kementerian dan Lembaga serta membangun kerjasama lintas sektoral sehingga penanganannya lebih komprehensif. Puan Maharani sebagai menteri bertugas untuk melakukan koordinasi, dan posisinya yang strategis memungkinkan untuk menjadikan LPSK lebih maju dengan peran, tugas, serta kapasitas yang lebih besar dan luas. Termasuk akses untuk menggunakan anggaran sesuai dengan kebutuhan, dengan tanpa prosedur dan mekanisme yang “berlebihan”, tanpa melupakan akuntabilitas dan transparansi.

Puan Maharani mempunyai rasa kepedulian yang tinggi untuk para saksi dan korban, dan itu dilakukan dengan upaya koordinatif untuk menggerakkan semua pihak sehingga treatment yang diberikan lebih komprehensif.

  • view 45