Puan Maharani Memaknai Kurban

Riefqul Hakiem
Karya Riefqul Hakiem Kategori Agama
dipublikasikan 07 September 2017
Puan Maharani Memaknai Kurban

Idul Adha tak bisa dilepaskan dari peyembelihan hewan kurban, dan karena itulah, ia juga disebut dengan Hari Raya Kurban. Ritual penyembelihan ini, tidak hanya bisa dimaknai sebagai bentuk ibadah kepada Allah semata, tapi sekaligus mempunyai dimensi spiritual, emosional, dan sosial yang luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.

Berkurban, memang dilakukan sebagai wujud ikhlas seseorang untuk melaksanakan perintah Allah sebagai apresiasi dan renungan terhadap sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, putranya. Bahwa setetes darah yang jatuh ke tanah dari hewan yang dikurbankan akan dibalas dengan pahala yang luar biasa oleh Allah. Tapi tidak hanya itu saja, bahwa ada dimensi lain yang menjadikan berkurban menjadi istimewa.

Itulah yang menjadi kesadaran spiritual dan sosial Puan Maharani, ketika melaksanakan ibadah kurban dengan memberikan seekor sapi jumbo untuk DPC PDIP Sukoharjo.

Bagi Puan Maharani, berkurban bukan saja sebagai ibadah ikhlas dan kepatuhan kepada Allah SWT, tapi sekaligus sebagai momentum untuk menguatkan dimensi sosial melalui asas kebermanfaatan dengan memberikan daging kurban kepada penduduk sekitar yang membutuhkan. Sederhana, bahwa yang diberi lebih haruslah berbagi, dan Puan Maharani melakukannya dengan ikhlas hati.

Selain itu, Puan Maharani memaknai momentum Idul Adha sebagai pembelajaran penting, bahwa membangun kesejahteraan itu tidak bisa dilakukan dan dimonopoli oleh sosok atau pihak tertentu, melainkan melalui prinsip kebersamaan. Semakin banyak yang berkurban, akan semakin banyak pula yang mendapatkan dagingnya, sekaligus jangkauannya akan lebih luas.

Begitu pun dengan membangun dan memajukan bangsa ini, bahwa semua orang harus terlibat. Membangun bukan hanya urusan pemerintah, tapi harus menjadi gerakan kebersamaan. Semakin banyak kebersamaan, akan semakin meringankan, terlebih, karena tidak saling menyalahkan. Semua perbedaan dan kritik berada dalam jalur konstruksi yang tepat.

Terpenting bagi Puan Maharani dalam konteks berkurban adalah, bahwa sejatinya ia harus dijadikan momentum untuk membunuh nafsu hewani, kebinatangan, dan nafsu syaitan. Berkurban adalah jalan untuk semakin memanusiakan diri dengan membuang segala nafsu yang merusak yang bersemayam dalam diri. Kembali suci, menjalankan segala perintah ilahi.

Artinya, Puan Maharani, melalui sumbangan hewan kurbannya pada Hari Raya Idul Adha kemarin, ingin menjadikan ketiga hal itu sebagai kesadaran bersama, bahwa berkurban, selain untuk kepatuhan, tapi juga untuk kebermanfaat, kebersamaan, dan sekaligus untuk membunuh nafsu-nafsu kebinatangan.

Begitulah cara cerdas Puan Maharani memaknai Idul Adha dan berkurban.

  • view 87