Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 32127
            [type_id] => 1
            [user_id] => 16242
            [status_id] => 1
            [category_id] => 11
            [project_id] => 0
            [title] => Cara Cerdas Puan Maharani Memaknai "Beban Sejarah"
            [content] => 

Puan Maharani Menghargai “Beban Sejarah”

Manusia, tak ada yang bisa memilih akan lahir dimana dan dilahirkan oleh siapa. Seseorang yang lahir, ya lahir saja, tak ada kuasa untuk menentukan pilihan. Maka, apapun takdirnya, tak ada yang bisa mengelak. Tinggal menerima sebagaimana seharusnya atau, pada orang-orang tertentu, justeru menjadikannya sebagai beban yang tak semestinya.

Bagi Puan Maharani, ditakdirkan menjadi cucu dari Soekarno, anak dari Megawati, adalah suatu hal yang harus disyukuri karena keistimewaan sejarah yang ditakdirkan secara genetis. Namun, keistimewaan itu sejatinya bisa menjadi beban, dalam konteks dan situasi tertentu, karena pasti akan dihadapkan pada berbagai perbandingan dengan para pendahulunya. Terlebih lagi, ketika para pendahulunya telah meletakkan standard yang tinggi.

Misalnya, Soekarno adalah Sang Proklamator dan Presiden pertama yang jejaknya tetap manis hingga sekarang. Begitu pula dengan Megawati, sebagai Presiden ke-5, yang mempunyai ketokohan yang mengakar. Lalu bagaimana dengan Puan Maharani?

Puan Maharani, selalu mensyukuri bahwa dirinya dilahirkan dari orang-orang hebat yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Suatu keistimewaan yang tak semua orang miliki. Tapi meski begitu, tak lantas membuat Puan Maharani berbangga diri. Justeru, hal itu dijadikan Puan Maharani untuk menempa diri, memperbanyak ilmu dan pengalaman melalui pembelajaran terhadap kemampuan dan kapabilitas diri.

Tentu ada “beban sejarah” yang ditinggalkan oleh semua tokoh bangsa terhadap para generasi penerusnya (yang genetis maupun tidak), tapi Puan Maharani bisa menjadi contoh bagaimana beban tersebut tak semestinya dijadikan sebagai penghalang untuk berkembang, justeru menjadi pelecut semangat untuk, setidaknya, menapaki jejak yang sama, atau mungkin dengan pencapaian yang lebih terasa.

Penghargaan Puan Maharani terhadap “beban sejarah” itu ditunjukkannya dengan konsistensi dalam dunia politik melalui karir yang cemerlang. Mulai dari politisi yang secara berjenjang mengikuti alur partai, menjadi anggota DPR RI dan Ketua Fraksi, hingga terpilih menjadi menteri. Semua itu dilalui Puan Maharani tidak dengan cara yang instrant, dengan memanfaatkan “sejarah manis” yang dimilikinya.

Tentu Puan Maharani tak bisa disamakan dengan Soekarno maupun Megawati, tapi Puan Maharani menghargai “beban sejarah” yang dimilikinya melalui usaha dan kerja keras. Ketika menjadi Ketua Fraksi di DPR RI, peran dan kemampuan lobi Puan Maharani mulai tampak. Begitu pula ketika menjabat sebagai Menteri Koordinator, Puan Maharani berhasil melakukan kerja koordinatif sehingga beberapa Kementerian yang berada di bawah garis koordinasinya mendapatkan apresiasi oleh masyarakat karena kerja yang mumpuni.

Begitulah cara Puan Maharani menghargai “beban sejarah” yang selalu disyukuri.

[slug] => cara-cerdas-puan-maharani-memaknai-beban-sejarah [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1499085636.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 191 [issued] => 0 [author] => Riefqul Hakiem [username] => RifqulHakim21 [avatar] => file_1496680485.png [status_name] => published [category_name] => Politik [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2017-07-03T19:40:36+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T22:31:10+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.835297ms [status] => 200 )