Puan Maharani dan Sikapnya Terhadap Radikalisme

Riefqul Hakiem
Karya Riefqul Hakiem Kategori Agama
dipublikasikan 04 Mei 2017
Puan Maharani dan Sikapnya Terhadap Radikalisme

Bagi Puan Maharani, salah satu isme yang bisa menggerogoti persaudaraan, persatuan, dan kesatuan bangsa adalah munculnya paham-paham radikalisme dan paham yang ekstrim dalam sebuah pandangan, terutama prinsip dan persepsi keberagamaan. Sebab radikalisme muncul sebagai sosok yang berbahaya karena memungkinkan orang lain selalu salah dan hanya yang dipahaminya yang benar. Radikalisme menghendaki adanya tafsir tunggal atas sesuatu, dan lebih menekankan pada tekstualisme penafsiran yang kaku.

Dimana-mana, radikalisme selalu menjadi ancaman yang membahayakan, terutama di dalam bangsa yang menganut sistem demokrasi karena ia akan merusak sendi-sendi dan nilai-nilai dalam bangsa tersebut. Dalam konteks Indonesia, hadirnya radikalisme menjadi momok tersendiri karena dapat melahirkan sikap intoleran, tertutup, dan apatisme berlebihan. Fenomena radikalisme, pada praktiknya terus berkembang, dan bahkan saat ini, sudah sampai di sekolah-sekolah: yang seharusnya dijadikan tempat untuk menyemai nilai-nilai keterbukaan, kebhinnekaan, toleransi, sikap menghargai, dan menerima perbedaan-perbedaan.

Puan Maharani, dalam posisinya sebagai Kemenko PMK, merasa khawatir munculnya fenomena semacam ini, terutama jika benar terjadi dalam lingkungan sekolah, sekaligus merasa bertanggung jawab untuk ikut menyelesaikan persoalan kebangsaan yang urgen ini. Karena jika tidak, nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi rujukan dalam beiIndonesia, akan tercerabut dan tergantikan oleh nilai-nilai radikalisme dan ekstrimisme yang mengkhawatirkan. Radikalisme akan merusak karakter bangsa yang selama ini konsisten selalu dijaga bersama. “Sekolah adalah tempat anak-anak, generasi penerus bangsa, yang harus disterilkan dari segala bentuk radikalisme”, begitu tegas Puan Maharani.

Sebagai bagian dari tanggung jawabnya, Puan Maharani, melalui Kementerian yang dipimpinnya beserta Kementerian berkaitan yang berada di bawahnya, terutama Kemedikbud dan Kemenag, gencar melakukan langkah pendampingan dan sosialisasi untuk menghadang laju radikalisme di lingkungan masyarakat dan sekolah. Selain itu, Puan Maharani juga meminta kerjasama dengan segenap para guru dan orang tua untuk ikut memantau dan memastikan anak-anaknya, terutama ketika berkaitan dengan paham yang terindikasi berbeda dengan yang selama ini ada. Karena radikalisme hanya bisa dilawan melalui kerjasama dan gotong royong dari semua pihak.

Hadirnya pemerintah melalui pendampingan dan sosialisasi tentang bahaya laten radikalisme serta kepedulian bersama antara para guru dan orang tua, diharapkan dapat mencegah dan mensucikan kembali sekolah dan dunia pendidikan dari paham-paham ekstrim yang akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena seharusnya, di dunia pendidikan, harus diisi dengan materi-materi tentang revolusi mental, sehingga para pelajar dan anak didik siap secara mental untuk menjadi penerus generasi bangsa yang toleran, berintegritas, gotong royong, saling menghargai dan memahami sebagai sebuah bangsa yang berbeda, tapi harus tetap berbhineka.

Kerja dan inisiasi Puan Maharani dalam konteks ini perlu dijadikan sebagai bagian penting dari upaya bangsa ini dalam menolak dan menangkal serangan radikalisme dan ekstrimisme yang mulai meracuni kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

  • view 49