Kemandirian Puan Maharani Dalam Bekerja

Riefqul Hakiem
Karya Riefqul Hakiem Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Maret 2017
Kemandirian Puan Maharani Dalam Bekerja

Barangkali hal seperti inilah yang terus menerus terjadi untuk Puan Maharani. Tentang “bayang-bayang”.

Menjadi anak tokoh dan orang hebat, selalu ada dua kemungkinan, seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Sisi pertama, tentu saja banyak hal yang didapatkan, terutama ilmu dan pengalaman yang secara langsung diturunkan. Banyak dikenal orang, sekaligus mengenal orang. Banyak hal yang tak didapatkan oleh orang-orang sepertinya, tapi ia dapatkan sebagai efek dari ketokohan dan posisi ortunya. Tapi pada sisi yang lain, hidupnya seperti “ditodong” dengan serangkaian ekspektasi besar, atau jika tidak, apatisme yang berlebihan. Ia seperti tak punya kaki untuk berdiri, karena hidupnya, selalu dikaitkan dengan pendahulunya.

Begitu pula yang dialami Puan Maharani. Selalu saja, “anak mama” menjadi kambing hitam untuk menilai, atau mungkin menegasikan seorang Puan, sehingga sosoknya tak lebih dari “Megawati Muda”, bukan Paun Maharani. Tak ayal, simplifikasi “berlebihan” ini mereduksi Puan sebagai sosok yang berpijak dan berdiri di kaki sendiri. Penilaian semacam ini aneh, sekaligus lucu.

Muncullah kemudian apatisme serampangan yang dilakukan oleh banyak orang, terutama mereka yang secara pandangan berbeda, termasuk para haters Megawati. Kerja menjadi anggota DPR RI dengan perolehan suara yang fantastis, “paling itu kerjaan Ibunya”. Puan menjadi Ketua Fraksi PDIP di DPR, “paling kerjaan Ibunya”. Puan menjadi Menteri, “paling juga kerjaan Ibunya”. Lama kita jadi berpikir, kapan Puan bekerja kalau semuanya selalu diasumsikan ibunya?.

Dalam banyak perspektif, sah-sah saja berpandangan seperti itu, tapi jika itu terus-menerus dilakukan, rasanya agak sedikit “gila” juga pikiran seperti itu. Kenapa Puan yang membantu membangun masjid dan korban bencana tidak dikatakan kerjaan ibunya? Kenapa Puan yang berhasil memimpin dan mengoordinasi kementerian-kementerian di bawahnya tidak dikatakan kerjaan ibunya? Kenapa pula, Puan yang secara khusus ditugaskan Jokowi untuk mengawal Revolusi Mental tidak dikatakan kerjaan ibunya? Artinya, kalau hanya mau melihat sesuatu dalam perspektif jelek-buruknya saja, selesai.

Tentu tidak masalah apatisme yang kerap muncul terhadap Puan sebagai “anak mama” yang sering diuntungkan (dianggap mengeruk keuntungan). Dianggap benar, boleh. Dianggap candaan, boleh. Toh, setiap orang punya hak untuk memandang dan memutuskan segala sesuatu dari perspektif yang disukainya. Tapi, yang perlu disadari betul, bahwa memang tidak mudah untuk bisa melepaskan bayang-bayang itu.

Tapi, sepertinya, Puan Maharani justeru tetap tenang-tenang saja. Dalam banyak kesempatan, ia terlihat tak terlalu menarik dengan tema-tema personal yang dipaksakan menjadi kebenaran di depan publik. Puan lebih memilih bekerja, meneruskan cita-cita, mengabdi pada bangsa. Banyak program kerja yang menunggu untuk segera diselesaikan. Kementerian yang dipimpinnya menjadi “senjata utama” untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara memanusiakan.

Bagi Puan, lebih baik membersamai bayang-bayangnya dengan cara yang tepat dan terhormat, dan itu ditunjukkan dengan kamandiriannya dalam bekerja dan membangun bangsa.

  • view 64