Puan Maharani dan Kerja Revolusi Mental

Riefqul Hakiem
Karya Riefqul Hakiem Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Maret 2017
Puan Maharani dan Kerja Revolusi Mental

Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) sebagai upaya percepatan restorasi sosial bangsa melalui Instruksi Presiden No. 12 Tahun 2016. Melalui Inpres itu juga, Puan Maharani, ditunjukan secara langsung oleh Presiden untuk menjadi “panglima” dari gerakan nasional tersebut. Sehingga, tidak aneh ketika dalam banyak kesempatan, Puan Maharani tidak alpa untuk selalu “menyelipkan” pesan-pesan yang menjadi nilai dari revolusi mental, seperti gotong royong, etos kerja yang tinggi, berintegritas, dan lain sebagainya.
Termasuk apa yang disampaikannya kemarin ketika menjadi pembicara kunci dalam Sosialisasi Gerakan Indonesia Melayani dengan tema “Gerakan Nasional Revolusi Mental sebagai Gerakan Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Maju, Modern, Makmur Sejahtera, dan Bermartabat” di Gedung serbaguna Kemenpan RB, Kamis (23/3). Puan Maharani menyampaikan, bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) harus menjadi lokomotif penggerak kesuksesan gerakan revolusi mental melalui gerakan melayani, bukan dilayani.
Perubahan itu menjadi penting sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep revolusi mental dalam konteks pelayanan, karena sejatinya para aparatur sipil negara-lah yang paling bersentuhan langsung dan secara dekat berada bersama dengan masyarakat.
Sebagaimana kita ketahui, Gerakan Nasional Revolusi Mental ini bukanlah gerakan biasa karena selain menjadi cara untuk merubah pola pikir dan kerja bangsa, juga menjadi jargon penting dari pemerintahan saat ini. Revolusi mental bukanlah gerakan main-main, karena menjadi bagian tak terpisahkan untuk memperbaiki kehidupan bangsa ini.
Secara lebih teknis, seluruh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan segenap masyarakat diajak untuk aktif mengimplementasikan 5 (lima) gerakan Revolusi Mental melalui wujud perubahan nyata dalam konteks Indonesia Melayani (dikoordinir oleh Kemenpan RB), Indonesia Bersih (dikoordinir oleh Menko Kemaritiman), Indonesia Tertib (dikoordinir oleh Menkopolhukam), Indonesia Mandiri (dikoordinir oleh Menko Bidang Perekonomian), dan Indonesia Bersatu (dikoordinir oleh Mendagri). Kelima gerakan itu menjadi penting untuk digalakkan sehingga revolusi mental menjadi semakin nyata dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Puan Maharani menjadi panglima, yang bertanggung jawab secara langsung atas keberhasilan dan suksesnya agenda revolusi mental. Artinya, tugas besar yang diemban oleh Puan Maharani, adalah representasi dan kemampuannya dalam konteks koordinasi dan diplomasi. Puan Maharani pandai mengatur dan mengoordinasikan, sehingga kita bisa melihat banyak kementerian yang berada di bawah tanggung jawabnya diapresiasi kinerjanya oleh masyarakat dengan sangat baik.
Tentu bukan tanpa alasan, bahwa Presiden Jokowi memilih Puan Maharani untuk mengawal gerakan revolusi mental. Bukan hanya karena posisinya berkaitan dengan pembangunan manusia dan kebudayaan, tapi juga kemampuan dan “darah revolusi” yang mengalir dalam dirinya. Artinya, Puan Maharani adalah sosok yang berada di balik gerakan revolusi mental, meski secara sadar ia mengatakan, bahwa kerja revolusi mental ini harus didukung oleh semua pihak dan kalangan. Mulai dari atas hingga bawah. Karena tidak bisa kerja ini hanya dilakukan oleh dirinya dan beberapa kementerian tanpa dukungan yang penuh oleh masyarakat Indonesia.
Jadi, perlu kita dukung bersama apa yang menjadi harapan Puan Maharani, terutama tentang Revolusi Mental yang sangat strategis dalam konteks kehidupan berbangsa kita.

  • view 72