KENAL BANYAK

Rifqi Azhar Nugraha
Karya Rifqi Azhar Nugraha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2016
KENAL BANYAK

Kegiatan Cerdas Ramadhan ini sangat bermanfaat, terutama untuk para peserta. Mereka mulai ngeuh bagaimana seharusnya menikmati bulan suci ini dengan benar, hadits yang diterima dari Abu Hurairah nyatanya memang bukan angan angan belaka.

Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin 'Ala' bin Kuraib] telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin 'Ayasy] dari [A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: " Pada malam pertama bulan Ramadlan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan". (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abdurrahman bin 'Auf dan Ibnu Ma'ud serta Salman. (HR. Tirmidzi No 618)

Nyatanya ibadah memang menjadi trend di bulan Ramadhan; Buka Bersama, Baju Lebaran, Tarawih menjadi trending topic yang hangat dibincangkan. Sembari menerangkan apa saja yang dianggap salah kaprah dalam menghabiskan waktu di bulan Ramadhan tanpa sengaja saya bertemu pandang dengan salah satu akhwat yang menjadi peserta, dia begitu fokus mendengarkan, matanya tak pernah lepas dari saya. Namun ia tak pernah menyanggah ataupun bertanya, hanya mendengar dan mencatat. Saya pikir ia tipe visual dan auditorial dalam belajar, sedangkan saya tipe kinestetik dan visual.

Otak jail saya bekerja, saya minta ia untuk memberikan pendapat tentang materi yang saya sampaikan denagan dalih bahwa ini forum diskusi, dan saya suka diskusi yang hidup. Menakjubkan! Tidak hanya menjelaskan apa yang sudah saya jelaskan, ia mampu mengeksplorasi kembali materi yang dibahas, bahkan ia memberikan referensi baru bagi saya. Seusai acara saya minta no handphone nya kepada panitia.

“Bismillah, selamat pagi ukh. Ana Rifqi yang kemarin mengisi materi pada Seminar Cerdas Ramadhan. Boleh Tanya sesuatu?” ucapku dalam history chat di whatsapp.

“Masya Allah, ustadz Rifqi? Ada yang bisa ana bantu?”

“Innalillahi, tolong panggil saja ana akang, jangan ustadz. Boleh ana minta alamat rumah ukhti? Ana ingin mengobrol dengan ayahnya”

Aplikasi WhatsApp dalam History Chat dengannya hanya menampilkan icon ceklis dua berwarna biru, menunjukan ia telah membaca chat saya tanpa membalasnya.

Saya tunggu terus balasannya, setiap mengecek smartphone saya lihat history chat dengannya. Setelah satu hari lewat, malamnya ia membalas pesan saya itu dengan melampirkan alamat lengkap rumahnya tanpa memberikan sapaan apapun.

Hari Ahad, saya meminta izin tidak hadir pada rapat mingguan, saya ceritakan niatan hari Ahad itu untuk pergi ke rumah seorang akhwat yang saya kagumi. Dengan bekal do’a dari orang tua dan kawan-kawan saya beranikan diri mengucap salam tepat di depan pintu masuk rumahnya.

“Silahkan masuk kang, ayah sudah menunggu” Ucap wanita cantik itu.

Hanya dengan duduk di ruang tamu hati saya bergetar hebat, nuansa ruangan sang intelektual sangat terasa. Puluhan kitab keagamaan berjejer rapih dalam rak berukuran besar, hiasan kaligrafi semakin mempercantik ruangan ini.

“Kitab-kitab ini bukan untuk pamer, ruangan ini bukan sekedar untuk tamu. Beberapa murid ana sering datang kemari untuk belajar membacanya. Seharusnya hari ini mereka datang, namun ana liburkan dulu mengingat antum akan bertamu” Ucap seorang pria dewasa, sambil menghampiri saya. Sontak saja saya langsung menyalami tangannya.

“Afwan ustadz, ana hanya kagum melihatnya. Ana ingin punya semua ini di rumah, namun hanya baru bisa meminjamnya dari perpustakaan atau asatadiz ana di pesantren. Afwan sudah mengganggu aktivitasnya” Sambil terbata-bata karena begitu salah tingkahnya saya hari ini.

“Anak ana sudah cerita tentang antum, ana sudah kenal antum lewat media sosial” Sambil tersenyum melihat tingkah saya yang entah seperti apa.

Akhirnya saya hanya bisa diam sambil tersenyum mengamini setiap yang ia ceritakan, banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari beliau hingga akhirnya ia bertanya seberapa siap dan seriusnya saya pada anaknya.

“Ustadz, maaf atas kelancangan ana. Ana meminta amanah yang berat, ana meminta titipan Allah dari ustadz. Sejujurnya ana sekarang menginjak semester 7, belum mempunyai penghasilan tetap, kegiatan ana hanya belajar di siang hari, dan mengajar diniyyah di sore hari. Jiwa raga ana sudah diwakafkan demi kepentingan jami’iyyah, tentu ana belum punya harta benda yang dapat dibanggakan”

Sang ayah hanya tersenyum mendengarkan penjelasan saya, sambil ia menunggu kembali apa yang hendak saya jelaskan.

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar-Rad [13]: 26) Hanya karena ayat ini ustadz ana berani datang kemari, karena ana yakin apa yang telah ana lakukan ini senantiasa hanya untuk mengharap ridla Allah SWT, walaupun diitolak ana sudah ikhlas setidaknya ana dapat bersilaturahmi dengan ustadz”

“Antum datang kesini selain ayat itu, karena antum menilai anak ana ini cerdas. Ana pikir antum paham kenapa anak ana bersedia memberikan alamat rumah ini, silahkan kapan saja antum sudah lebih siap dari sekarang datanglah kembali, ana dan keluarga akan sangat menantikan keluarga antum”

Hati saya seakan ingin meledak, karena rasa bahagia yang sudah tak bisa ditampung. Sesaat setelah saya sampai di rumah, ada notifikasi pesan masuk lewat WhatsApp dari wanita ini “Barakallah…” begitu katanya.

TAMAT.

  • view 266