Negeri Orang Baik

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Negeri Orang Baik

Tak bisa di pungkiri lagi kebenaran perkataan Nyi Markonah pada Indra kecil, bahwa setiap ucapan adalah doa yang ditangguhkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat doa itu akan jadi kenyataan.

Indra bahkan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini. Dari balik jendela ia melihat ribuan manusia berdiri di depan rumahnya. Ada yang membawa spanduk, bendera Negara, dan alat pengeras suara. Sepuluh dari mereka masih ia kenali, siapa lagi kalau bukan teman-temannya. Diantaranya para politisi, budayawan, tukang ojek langganan, dan beberapa rekan kerjanya di salah satu media ternama di kota itu.

?Keluarlah kawan, kami membutuhkan jasamu?

?Mengabdilah untuk Negeri ini?

?Kami percaya kau bisa?

?Buktikan kalau pilihan kami tidak salah?

Suara orang-orang diluar sahut menyahut, mereka memohon pada Indra agar mau menjadi orang nomor satu di Negerinya.

?Bagaimana ini Nek, Indra belum siap jadi presiden, Indra takut? ucap Indra pada Nyi Markonah. Sedari tadi ia hanya memandangi cucunya dari kursi goyangnya, mengunyah daun sirih, dan geleng-geleng kepala.

?Bukankah ini keinginanmu sejak kecil, apa yang kau takutkan?

?Indra takut tidak bisa menjaga kepercayaan rakyat, lagi pula kapan Indra bilang kalau ingin jadi presiden?

?Hehehe? kau lupa ya, dulu nenek pernah bertanya padamu, kalau besar nanti ingin jadi apa, dan kau bilang ingin jadi presiden. Ya sudah, nenek tinggal mengamini saja. Mau bagaimana lagi, setiap ucapan adalah doa yang di tangguhkan. Bukankah nenek sering berkata seperti itu?

?Ah nenek, aku bahkan tidak ingat pernah berkata seperti itu?

?Sudahlah, mereka percaya pada kemampuanmu. Nenek yakin kau mampu?

?Tapi??

?Tapi apalagi, Negeri ini butuh pemimpin. Mau tidak mau mereka sudah mempercayaimu, pesan nenek hanya satu. Berikan yang terbaik, jangan buat mereka kecewa. Dan satu lagi, jangan biarkan mereka lama menunggu, kasihan diluar mereka kepanasan?

Indra mengambil kursi, duduk bersebelahan dengan Nyi Markonah.

?Indra, Indra, boleh aku masuk?

?Siapa?

?Sutarman?

?Sebentar, sendiri atau ada lagi?

?Sendiri kawan, ayolah?., masak kau tak percaya dengan kawanmu ini?

Indra mengintip dari balik jendela, memastikan kalau Sutarman memang sendirian. Tidak lama ia buka pintu belakang rumahnya, setelah Sutarman masuk dengan cepat ia kunci pintu itu kembali.

?Kau ini bagaimana? suara Sutaraman tak beraturan. Ia sengaja diam-diam menjauh dari barisan. Sembunyi-sembunyi menyelinap kerumah Indra melewati pintu belakang tanpa sepengetahuan mereka.

?Apanya yang bagaimana?

?Kami membutuhkanmu kawan?

?Apa yang bisa aku lakukan, aku tidak punya pengalaman politik, tidak punya wawasan luas, bahkan tidak punya kemampuan menjadi pemimpin?

?Tapi mereka percaya kamu pasti bisa?

?Gila, mengapa mereka memilihku. Apa yang bisa mereka banggakan, prestasipun aku tak punya?

?Mereka tak memerlukan pemimpin yang pintar kawan, sudah banyak dari dulu pemimpin pintar, tapi apa. Rakyat tetap sengsara. Mereka membutuhkan orang jujur dan baik sepertimu.?

Beberapa hari yang lalu media memang buming dengan nama Indra. Wartawan media yang mengembalikan cek milyaran rupiah milik pengusaha luar negeri. Tidak hanya di Negeri ini, bahkan di berbagai Negara mengekspos kejadian itu.

?Hanya gara-gara kebaikan itu aku di tunjuk menggantikan presiden. Gila, mereka masih waras tidak?

?Ayolah kawan, Negeri ini butuh pemimpin yang baik, biar rakyatnya ketularan?

Nyi Markonah hanya diam saja melihat perbincangan dua sekawan sekaligus rekan kerja di salah satu media itu.

?Aku yakin nenekmu pasti setuju, ya kan nek?? Sutarman mendekati kursi Nyi Markonah, berdiri di belakang sambil memijit pundaknya.

?Nenek sudah berkata seperti itu sama cucu kesayangan nenek ini, tapi ia masih ragu?

?Ayolah kawan, nenekmu saja setuju?

Ruangan dirumah itu hening tanpa percakapan. Nyi Markonah masih dengan kesibukannya mengunyah daun sirih, Sutarman memijit pundak Nyi Markonah, dan Indra, ia sibuk memikirkan antara iya atau tidak.

?Baiklah, aku akan menerima tawaran itu. Tapi kau harus janji untuk mengingatkanku, kalau dalam setahun tidak ada perubahan di Negeri ini, aku akan mngundurkan diri.?

?Tidak perlu setahun kawan, satu hari saja kau membuat kami kecewa, tanggung sendiri akibatnya?

Sutarman dan Indra saling tatap. ?Sepakat? ucap Indra dengan sunggingan senyum. Mereka tertawa bersama.

***

Matahari semakin meninggi, orang-orang di luar rumah Indra banyak yang memilih berteduh. Ada yang membeli es degan, cari makan di warung terdekat, dan kasak-kusuk berbicara satu sama lain. Mereka menunggu kepastian apakah Indra bersedia menjadi presiden atau tidak.

Tidak lama dari itu, pintu rumah Indra terbuka. Semua orang serempak berdiri berharap Indra mengamini permintaan mereka. Namun Sutarman lah yang keluar pertamakali, orang-orang sempat kecewa. Tapi tidak lama Indra menyusul Sutarman dari belakang. Harapan mereka tumbuh lagi. Keduanya berjalan menghampiri orang-orang itu.

?Saudara, Saudari setanah air. Mari kita sambut pemimpin baru kita. Ia bersedia menjadi orang nomor satu di Negeri ini. Hari baru akan segera tiba, perubahan yang kita tunggu sudah di depan mata?

Suara Sutarman meninggi, memperkenalkan pemimpin mereka.

?Hidup Pak Indra, hidup Negeri kita?

?Nasib Negeri ini ditanganmu pak?

?Jangan kecewakan kami?

?Buktikan kalau Negeri ini bisa bangkit?

?Tegakkan keadilan?

?Hidup Pak Indra, hidup Negeri kita?

***

Malam hari setelah pelantikan presiden, Indra pulang kerumah neneknya. Percaya atau tidak, sekarang ia resmi menjadi orang nomor satu di Negerinya.

?Doakan Indra ya Nek, besok hari pertama Indra bekerja?

?Mengapa harus menunggu besok, sejak kau di lantik, sejak itulah kau mulai bekerja?

?Indra kan butuh istirahat juga Nek?

?Tapi setidaknya kau sudah memikirkan kebijakan apa saja yang akan kau buat?

?Indra masih butuh belajar tentang politik?

?Politik itu seni, sama halnya dengan tugasmu sebagai wartawan. Gunakan kemampuan yang kau miliki saat ini, sambil proses belajar kemampuan yang lainnya?

?Maksud Nenek?

?Nasib Negeri ini tidak hanya tergantung pada siapa yang memimpin. Dan kau harus sadar, sebagai manusia biasa kita tidak mungkin mampu dalam segala bidang?

?Indra belum paham nek?

?Ah, ucapan nenek-nenek memang sulit di mengerti?

?Indra tidak mau bercanda nek, Indra butuh solusi?

?Begitulah sifat manusia, saat di beri satu tanggung jawab, ia mengabaikan kepentingan yang sederhana. Jangan siksa dirimu hanya dengan memikirkan tanggung jawabmu. Buatlah sesantai mungkin, kerjakan sesuai kemampuanmu. Pemimpin tidak harus ahli dalam segala bidang.?

?Nenek bisa aja, ada nasehat yang lebih ringan untuk dicerna gak?

?Posisikan dirimu sebagai rakyat?

?Caranya?

?Masih belum ngerti juga?

?Nenek bicaranya susah dimengerti?

?Saat kau jadi rakyat kau pasti punya keinginan kan?

?Pastinya begitu?

?Nah, saat kau jadi orang nomor satu, kau punya hak mewujudkan keinginan itu?

?Nenek memang Pintar, seharusnya nenek yang pantas jadi presiden?

?Sepertinya begitu?

?Hahahaha?..?

?Jadi, akan menjadi siapa kamu besok?

?Pastinya wartawan, lebih umumnya media?

?Wujudkan keinginanmu, selama itu baik, semua akan baik-baik saja?

***

Hari pertama kerja, Indra mengumpulkan para mentri dan perwakilan dari berbagai media. Semalam ia sudah memikirkan tentang kebijakan yang akan di ambilnya. Para menteri masih bingung dengan cara pemimpin barunya, tidak ada sebelum-sebelumnya kalau rapat harus di hadiri perwakilan semua media.

?Baiklah, mari kita mulai rapat kali ini? Indra membuka percakapan.

?Apa yang akan kita bahas kali ini pak? Wakil presiden mengajukan pertanyaan.

?Ada satu peraturan baru yang harus kita jalankan?

?Apa itu pak, sebelumnya maaf. Mengapa harus ada perwakilan media dalam rapat ini?

?Karena ini ada sangkut pautnya dengan kinerja mereka kedepan?

?Maksudnya?

?Sebaiknya dengarkan saja dulu, nanti kalian semua akan mengerti?

Untuk beberapa menit ruangan istana sepi dari percakapan. Para mentri dan perwakilan media menunggu pemimpin barunya bicara.

?Langsung saja, perlu diberitahukan sebelumnya, kalau rapat hari ini kita akan membahas tentang satu peraturan baru, disetujui atau tidak, peraturan ini harus tetap berjalan?

Indra menatap orang-orang dalam ruangan rapat. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala, ada yang matanya melotot memperhatikan setiap ucapannya. Salah satu perwakilan media terlihat antusias sekali, ia bersiap-siap mencatat peraturan baru yang akan disampaikan presiden.

?Sebagai suatu negara, kita harus memiliki icon atau ciri khas yang mencerminkan kehidupan bangsanya. Maka dari itu, saya akan memberikan satu trobosan yang mungkin masih tabu dalam pikiran kalian. Yaitu, larangan keras bagi semua media menyajikan berita buruk. Media harus mengangkat tema kebaikan, sekecil apapun itu. Tidak ada lagi berita gosip, pejabat jadi tersangka koruptor, pemerkosaan, narkoba, pengaturan skor bola, cicak Vs buaya, kasus serba palsu, dan berita-berita buruk lainnya. Sekalipun itu berita nyata, tetap dilarang untuk disebar luaskan. Bisa di pahami?

?Maaf pak presiden, kami bisa tahu alasan mengapa peraturan ini harus dijalankan? salah satu perwakilan media mengajukan pertanyaan.

?Alasannya sederhana, biar Negeri kita ini mendapat julukan Negeri Orang Baik?

?Hanya itu, apa tidak terkesan berpura-pura pak. Bagaimana jika ada pemeriksaan dari Negeri tetangga. Siapa tahu mereka penasaran, mengapa semua media di Negeri kita beritanya tentang orang baik semua?

?Tidak usah pedulikan mereka, jalankan dulu peraturan ini. Nanti kita lihat hasilnya."

Rapat berlangsung singkat. Tidak ada bantahan lagi, semua sepakat dengan peraturan baru itu.

Pada hari itu juga semua media menyajikan berita orang baik. Anak SD membantu temannya yang jatuh dari speda, tukang ojek membantu nenek buta menyebrang jalan, Bu Mariam pembantu rumah tangga yang mengasuh sepuluh anak jalanan, TNI membersihkan sampah di sungai, Polisi menertibkan jalan lalu lintas, dan berita baik lainnya.

***

Satu bulan roda pemerintahan yang di pandu oleh Presiden Indra berjalan. Korupsi masih meraja lela, narkoba, pemerkosaan, dan tawuran terjadi di berbagai tempat. Anehnya tidak ada satu pun media yang meliputnya, itulah yang menyebabkan para Mahasiswa dari berbagai Universitas bertanya-tanya, apa yang terjadi di Negerinya. Mereka sepakat akan mengadakan demonstrasi besar-besaran di gedung istana.

Setiap Universitas mengirim paling sedikit dua puluh perwakilan mahasiswa, dan tercatat kurang lebih yang hadir sekitar tiga puluh ribu mahasiswa. Mereka berdiri di depan istana, Polisi dan TNI siap siaga mengawal demonstrasi itu. Bendera setiap Universitas dikibarakan, termasuk bendera Negerinya. Lagu wajib nasional satu persatu dinyanyikan. Satu orang mahasiswa mengambil pengeras suara, berdiri paling depan dengan bendera Negara di tangan kirinya.

"Wahai bapak presiden yang terhormat, kami datang dengan perdamaian. Kami hanya ingin kepastian, tentang kinerja yang telah dijalankan. Kami butuh bukti, bukan diam-diam tak ada kabar. Kemana kau selama ini, kami mahasiswa ingin menuntut jawaban"

Sementara itu, di dalam istana para mentri mendatangi ruang kerja presiden. Mereka bertanya tentang tindakan apa yang akan di ambil.

"Sudahlah, jangan kau hiraukan mereka. Biarkan mereka bersuara, kita masih banyak kerjaan yang harus di lakukan. Mereka pantas bertanya, karena mereka belum tahu maksud kita apa" Indra dengan santai menjelaskan pada mentri-mentrinya.

"Jujur, saya juga belum tahu maksud bapak apa" Satu mentri menyanggah ucapan Indra.

"Sebaiknya kamu keluar terlebih dahulu, katakan pada mereka. Kami sedang bekerja, dan mereka akan mengetahuinya satu minggu lagi. Termasuk kamu"

"Hanya itu"

"Ya"

"Kalau mereka memaksa ingin bertemu dengan bapak"

"Saya akan keluar"

"Siap pak"

Hari itu Mahasiswa tidak berontak, mereka memilih menunggu. Keesokan harinya mereka membeli koran, menongkrong di depan TV, mencari informasi di internet, dan berbagai media yang ada. Mereka ingin melihat berita tentang demonstrasi kemarin, akan tetapi hasilnya nihil. Tak ada satu pun media yang meliputnya.

Satu minggu pun berlalu, dengan sendirinya mahasiswa dan masyarakat tahu, kalau media memiliki peraturan baru--hanya bisa memberikan informasi tentang orang-orang baik.

Sejak itulah Negeri itu mendapat julukan Negeri orang baik, semua Negara mengakuinya. Tak ada lagi pelaku koruptor, pemerkosaan, narkoba, preman, demonstrasi, dan orang-orang jahat lainnya. Negeri itu sudah terjangkit virus narsis, semua orang berlomba-lomba menjadi orang baik. Biar wajahnya terpampang di media massa, dan namanya menjadi buming di Negeri tercintanya.

"Orang jahat sudah tidak eksis lagi, buat apa jadi orang jahat, kalau nama kita tidak ada yang menegenal"

"Hahahaha....."

Begitulah obrolan di warung kopi, mereka sibuk memikirkan tindakan-tindakan baik. Sebab menjadi jahat tak lagi sebuming tahun-tahun sebelumnya.

***

"Indra nanti kalau sudah gede pengen jadi presiden, biar bisa seperti Indra yang nenek ceritakan"

"Amin, ya sudah, Nenek kan sudah selesai bercerita, sekarang Indra harus tidur"

"Ya, nek"

Indra kecil terlelap dengan sunggingan senyum, terbawa ke alam jauh, di mana ia larut dalam impiannya menjadi presiden.

?

Sumenep, 4 Juni 2015

?

Catatan :

Gambar Link :Klik disini

?


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Cerpen dengan ide brilian, menggelitik namun satir. Gaya bahasa yang tegas dengan alur cerita enak untuk diikuti. Fantasi politik yang cukup ?nendang? untuk menyindir kondisi bangsa ini. Di sini, si penulis berusaha menciptakan mimpi dunia yang bisa Indra pimpin andai dia menjadi orang nomor satu di Negeri Orang Baik ini. Beberapa hal yang cukup kami sorot di antaranya mulai tak masuk akalnya alasan orang memilih pemimpin mungkin saking jenuhnya rakyat dengan pemimpin terdahulu yang pintar namun gagal membawa negara itu menuju kemakmuran. Akhirnya Indra terpilih hanya karena bertingkah jujur mengembalikan uang miliaran rupiah. Hal lain yang bisa menimbulkan pertanyaan adalah bagaimana jika istilah ?baik? malah justru berbuah kemunafikan? Korupsi dan peristiwa kriminal ditutup-tutupi hanya dengan dalih status ?negara baik?. Karya yang penuh dengan kritik tajam tak hanya bagi kaum pengusaha tetapi juga warganya. Cerdas!

  • Fyan Walnuttree
    Fyan Walnuttree
    1 tahun yang lalu.
    Megalomaniac Indonesia ! Yang dipikirin hanya bagaimana berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Kepentingan rakyat itu nomor 5.

    1. Berkuasa
    2. Pertahankan kekuasaan
    3. Bagi2 kekuasaan demi dukungan
    4. Perkaya citra (popularitas)
    5. Rakyat

  • Rifki Affandi M
    Rifki Affandi M
    1 tahun yang lalu.
    Terimakasih semuanya, saya tidak menyangka tulisan ini bisa mendapatkan respon yang banyak. Saya sempat menganggap tulisan ini produk gagal, karena berapa kali saya kirimkan ke media tak ada satupun yang mau memuatnya. terimakasih inspirasi.co terimakasih untuk kalian semua.

  • Rezzphoria Indonesia
    Rezzphoria Indonesia
    1 tahun yang lalu.
    keren,

  • Farrah Hanum
    Farrah Hanum
    1 tahun yang lalu.
    kereeen