Rumah Sunyi

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Maret 2016
Catatan Waktu Senggang

Catatan Waktu Senggang


Sebuah catatan sederhana, mengambil pelajaran dari setiap apa yang dilihat, di dengar, dan dibaca.

Kategori Acak

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Rumah Sunyi

Jauh dari kebisingan rutinitas, aku sempatkan mengunjungi rumah kecil yang menyimpan rahasia resah. Seorang ibu telah tinggal bertahun-tahun di dalamnya. Ibu yang telah beranjak dari tidur mudanya. Keriput menyembul menjelma goresan sejarah, garis-garisnya menyimpan rapi perjalanan waktu. Sosoknya dipuja-puja dibelahan dunia manapun, namun ceritanya tak ada yang mampu mengisahkan.

?Rumah ini kehilangan suara?

Ucapan ibu itu aku tangkap dengan diam. Membiarkan ia terus bercerita, membuang segala resah, bahkan memuntahkannya di depan wajahku.

Rumah ini banyak berubah, bentuknya tetap kecil, namun lebih bagus daripada sebelum-sebelumnya. Dulu aku pernah singgah untuk beberapa hari, dindingnya terbalut dengan tumpukan kayu, atapnya retak, tidak mampu menahan kucuran air pada musim hujan.

Aku menyaksikan bagaimana kucuran air membentuk not nada ketika Ibu itu menadahnya dengan ember. Tapi itu dulu, sekarang tumpukan kayu telah berubah menjadi tumpukan batako, rumah ini tambah gagah, atapnya tersusun rapi, segala celah telah tertutupi.

Setiap pagi ia selalu duduk termenung di depan pintu rumahnya, memandangi langit, kedua lututnya ditekuk, tak menghiraukan sapaan tetangga yang terkadang lewat di depannya.

?Mereka telah pergi dalam dunianya sendiri?

Aku tak tahu harus berbicara apa, aku takut melukai perasaannya, Ibu itu aku biarkan tetap berbicara sesuka hatinya. Mereka telah pergi dari kehidupannya, mereka itu adalah permata hati yang beranjak dewasa, mereka sudah bisa berjalan sendiri, makan sendiri, membangun kehidupan barunya, dan tidak lagi memerlukan bantuannya.

?Kemarin ia datang kerumah ini, hanya menanyakan keadaanku, kemudian pergi lagi?

Ada perasaan yang masih ia tutupi, nada bicaranya tak bisa membohongiku. Ia berusaha agar bibirnya tetap tersenyum dihadapanku, dan tertawa yang menurutku terlalu dipaksakan.

?Seandainya mereka tetap disini, mungkin rumah ini sesak dengan suara, dan tawa riang dari keturunan mereka?

Aku beranjak dari tempat dudukku, menghampirinya, duduk bersebelahan dengannya.

?Dulu waktu kau masih kecil, kau selalu mengajak Ibumu agar cepat pulang, padahal aku sangat berharap agar kau tetap tinggal, tapi ternyata kau tidak betah berlama-lama disini, berbagai alasan kau lontarkan, bilang kalau rumah ini terlalu sempit, dan banyak hantu berkeliaran. Kau memang nakal, tapi kenakalanmulah yang membuatku senang?

Itulah sebabnya mengapa aku diam, aku tak mau mengingatkan masa-masa itu.

?Kau tidak salah, itu adalah hal yang wajar, kenakalan masa kecilmu bukanlah suatu alasan untuk dibenci, kau terlalu polos, berbicarapun terlalu jujur?

Apa yang sudah aku lakukan, tak ada sedikitpun maksudku untuk membuatnya kecewa.

?Sekarang kau sudah besar, sebentar lagi berkeluarga, membangun kehidupan yang baru, semoga saja nasib Ibumu tidak sama denganku?

Ya Tuhan, akankah aku berbuat salah untuk kedua kalinya.

?

Banyuwangi, januari 2015

(Catatan untuk seorang Ibu yang ditinggal pergi anaknya, percayalah mereka tetap menyayangimu)

?

Link Gambar : Klik disini

?

  • view 207