Kau Tak Boleh Tidur Bersamaku

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Maret 2016
Kau Tak Boleh Tidur Bersamaku

?

Kota ini banyak menyimpan kenangan. Saat mekar bunga masih berupa tangkai tanpa daun. Saat kumbang belum bisa menghasilkan madu. Saat pertemuan belum mengenal kata perpisahan.

Aku terlahir dari kota tetangga. Sengaja pergi merantau ke kota ini hanya untuk memenuhi satu tekad, mengejar impian masa kecil. Dari dulu aku dijuluki anak yang suka tidur, bukan tidur beneran, temanku bilang hayalanku terlalu tinggi. Tak apalah, mereka memang benar, tapi aku suka. Aku selalu bermimpi yang bukan-bukan, mimpi yang tak bisa diterima oleh akal sehat. Orang miskin yang bermimpi menjadi lulusan terbaik disalah satu universitas ternama. Tapi karena mimpi itulah aku bisa menamatkan pendidikan sampai perguruan tinggi, sekalipun bukan yang terbaik.

Berbicara tentang tidur, ada banyak versi yang mengartikan tidur itu apa. Ada yang bilang kalau tidur adalah ruang peritirahatan dimana segala aktifitas dihentikan, dimana tidak ada lagi yang namanya persoalan, semua menghilang begitu saja. Apakah itu benar, boleh saja kita berpendapat, dan versi itu juga tidak salah. Versi yang lain mengatakan kalau tidur itu adalah simbol, jadi tergantung bagaimana kita memandang dan mengartikan simbol itu apa. Untuk versi kedua ini tidak perlu di pertanyakan lagi. Bertanya hanya akan membuang-buang waktu saja, karena semua jawaban akan dibenarkan, termasuk jika tidak menjawabnya adalah bagian dari jawaban itu sendiri.

Akupun punya versi sendiri tentang tidur, tidur menurut versiku adalah keindahan sekaligus kesedihan. Aku mendapatkan versi itu dari kehidupanku dengan seorang lelaki yang aku cintai. Jika belum mengerti, mari dengarkan ceritaku ini. Tapi aku tidak berjanji apakah kalian bisa mengerti atau tidak tentang tidur menurut versiku ini.

Tepatnya pada hari pertama aku masuk kuliah, seperti biasa, sebelum kegitan kuliah berjalan, kita harus melewati tahap pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru. Saat itulah aku mendapatkan teman-teman baru, kehidupan baru, dan serba baru lainnya, salah satunya adalah tentang cinta yang baru. Eh, maksudnya cinta yang sungguh-sungguh. Karena menurut informasi yang berkembang hanya tiga persen prosentase orang yang menikah dengan pacar SMP-SMA nya, sisanya terjadi dibangku kuliah, teman satu kantor, dan berumur kisaran dua puluh keatas. Benar tidaknya bisa dicari sendiri.

Perkenalanku dengannya terjadi karena kebetulan kami satu kelompok dalam penugasan. Kebetulan, ia tidak pernah mau kalau aku bilang kebetulan, katanya semua kejadian tidaklah terjadi atas kebetulan, semua sudah diatur dalam skenario Tuhan. Ah, dia memang pandai dalam segala hal, termasuk kata-katanya yang selalu berujung dengan simbol-simbol. Darinya pula aku belajar tentang simbol, katanya lagi kehidupan ini banyak sekali simbol yang perlu diambil pelajaran darinya. Kehidupan terdiri atas rangkaian simbol, ribet pokoknya bila bersama dia, tapi aku suka.

Perkenalan itu berlanjut dengan persahabatan, kami resmi menjadi sahabat yang saling membantu dalam menghadapi persoalan. Persoalan pelajaran kuliah maupun persoalan kehidupan. Waktu itu aku belum menaruh rasa cinta padanya, kecuali cinta dalam konteks persahabatan, itu saja.

Suatu hari ia mengajakku pada satu tempat yang sepi, katanya ia punya kejutan sekaligus hadiah untuk merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh. Tempat itu adalah kuburan, dan aku belum mengetahuinya saat itu. Mataku tertutup kain, ia membawaku tanpa memberi tahu akan kemana. Aku hanya mengiyakan saja.

?Bolehkah aku membukanya sekarang?

?Boleh, tapi setelah kau menghitung mundur dengan suara keras dari angka dua puluh sampai nol?

Aku mulai menghitung, menuruti kemauannya. Sampai pada hitungan angka nol, aku buka kain penutup mataku. Tahukah kalian mengapa ia menyuruhku menghitung dengan keras. Tentu saja agar aku tidak mendengar langkah kakinya yang berlalu pergi. Aku berteriak ketakutan, memanggil namanya, ia belum juga keluar dari persembunyiannya.

Sampai dua puluh menit berlalu, saat aku benar-benar ketakutan, jeritanku tak lagi bisa keras, tertutup tangisan. Coba saja bayangkan bila kalian menggantikan posisiku, seorang wanita yang dibiarkan sendirian ditengah-tengah kuburan yang tak dikenal, kuburan yang terletak jauh ditengah hutan. Sial, itulah pertamakalinya ulang tahunku dirayakan, sekaligus pertamakalinya mendapat kejutan yang mengerikan. Dalam hatiku namanya adalah kebencian, ia telah mempermainkanku, ia telah tega meninggalkanku, ia adalah sahabat yang tidak akan pernah lagi aku anggap. Meskipun aku membencinya, aku tetap memnaggil namanya, berharap ia datang dan mengakhiri tingkah gilanya. Tak ada respon, setengah jam sudah aku dibiarkan sendiri.

Kusebut nama Tuhan, meminta pertolongan-Nya, berdoa agar ada orang yang bisa membawaku keluar dari kuburan. Aku berjalan sambil berteriak minta tolong, berjalan berputar-putar tanpa tujuan, aku tidak tahu arah jalan pulang.

Aku sudah pasrah, apapun yang akan terjadi denganku, duduk bersandar dibawah pohon, memandangi deretan kuburan yang berbaris rapi. Aku juga tidak peduli jika memang nantinya ada kuburan yang retak, kemudian muncul dari dalamnya setan yang akan membunuhku. Buat apa takut, takut tidak akan bisa membantuku. Jika setan itu memang ada, dan berniat membunuhku, aku sudah siap. Dan jika aku sudah terbunuh, lelaki yang akan selalu aku ganggu adalah dia, sahabat yang paling aku benci seumur hidupku, sahabat yang membuat aku ketakutan, sahabat yang meninggalkanku sendirian ditengah kuburan.

?Hahahaha?.. aku disini, kemarilah? dia tertawa, bertepuk tangan, memuji-mujiku, katanya aku hebat.

?Bawa aku pulang, dan jangan menemuiku lagi? jawabku singkat, dahiku mengernyit, aku marah, membencinya.

?Hey?. tunggu dulu, ada apa ini? aneh, dia malah tersenyum, dasar lelaki gila.

Gila, aku lupa kalau tingkah dia memang gila, sulit dimengerti. Awalanya aku benci, tapi setelah ingat kegilaannya, aku ikut tertawa. Seperti biasa, aku suka dengan kegilaannya, apalagi kalau membuat orang disuruh mengartikan sendiri simbol yang ia perlihatkan, setelah menyerah, barulah ia menjelaskan. Dan kejutan yang aku dapat dihari ulang tahunku, aku dijadikan bahan peragaan dari simbol yang ingin ia berikan padaku, simbol meninggalkanku sendirian ditengah kuburan.

?Apa yang kau rasakan ketika melepas kain penutup matamu? dia mulai membahas simbol lagi.

?Tentu saja takut, aku sendirian, ditengah kuburan lagi?

?Kuburan ini ibarat dunia, ketakutan adalah segala persoalan. Ketika kau sendiri menjalani kehidupan, membiarkan orang lain mati, kau akan mendapatkan beragam persoalan dan terpuruk didalamnya? dia mulai lagi.

?Tapi kan ada kamu, mengapa kau pergi, itu artinya kamu egois, tidak mau membantu temanmu yang ketakutan? ?aku tak mau kalah, baru kali ini aku membantah setiap argumennya.

?Pergi, itu menurutmu. Kadang kita menganggap orang yang kita percayai sudah melupakan kita, padahal ia memantau dari jauh, tetap menjagamu, membiarkan kamu berusaha menghadapi persoalan yang kau hadapi, agar kau kuat, menjadi pemberani. Bisa saja orang itu langsung membantumu, tapi hanya akan membuat dirimu terus bergantung padanya. Kau tidak akan bisa berdiri tanpa dirinya, setelah ia pergi, kau akan terjatuh, karena kau lemah?

Aku mulai tersenyum, kegilaan mengartikan simbol-simbol kehidupan memberikanku banyak pelajaran berharga yang tidak aku dapatkan dibangku sekolah maupun kuliah. Aku membiarkan ia terus menjelaskan, aku tidak lagi membantah.

?Aku membiarkanmu menjerit ketakutan, sampai menangispun tetap kubiarkan. Mengapa, biar kau sadar, hidup di dunia sama halnya dengan hidup di bangku sekolah atau kuliah. Untuk membuat kita lulus dan meraih gelar sarjana, kita harus melewati berbagai rintangan dan ujian. Menjerit dan menangis tidak akan bisa membantu kita terlepas dari persoalan.?

Dia memang lelaki hebat, aku mulai mengaguminya, bahkan diatas kata teman. Dia setara dengan orang tua dan guruku.

?Kau pun mulai menyadari semua itu, kau mulai melangkah mencari jalan keluar, sekalipun kau tetap menjerit dan menagis. Dan kau memanggil nama Tuhanmu, dan nama orang yang kau anggap sahabatmu. Kau menyebutnya, meskipun kau membencinya?

Dia menarik napas, suasana hening. Aku masih menyimak dan menunggu kata-kata selanjutnya.

?Artinya, untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Kuncinya hanya satu, usaha. Dan seringkali kita lupa pada Tuhan yang menciptakan kita, Tuhan yang bersedia menerima keluh-kesah dan permintaan hambanya. Dan kita baru mengingat-Nya saat dalam kesulitan, itulah kesalahan yang selama ini banyak diabaikan.?

?Kau juga memanggil kembali sahabatmu yang terlanjur kau benci, karena kau mearasa hanya dia yang bisa mengantarmu menemukan jalan keluar. Janganlah kau benci siapapun, termasuk setan sekalipun. Karena yang kau benci, belum tentu selamanya akan membuat hidupmu tersesat. Jadikan semua sebagai pembelajaran, tanpa kesalahan kita tidak akan pernah belajar arti kebenaran?

Aku mendapatkan kado paling istimewa dalam hidupku, nasehat dan simbol yang ia ajarkan, semakin membuatku mengerti hakikat kehidupan.

?Satu lagi, aku menemukan satu pelajaran dari peristiwa yang baru kamu alami. Untuk itulah aku ingin kau tahu, aku mencintaimu, aku menyayangimu, pantaskah bila aku menjadi pendamping hidupmu?

Jantungku berdegup tak karuan. Aku tidak pernah berpikir kalau ia akan mengatakan itu padaku. Tapi aku mulai menyukainya, aku merasa damai bila disampingnya. Tapi aku ingin mengujinya.

?Maaf, aku tidak mau kau tersinggung, atau marah dengan jawabanku ini.?

Ia tersenyum, sama sekali tidak merasa canggung mengungkapkan isi hatinya.

?Apapun jawabanmu, itu adalah jawaban terbaik dalam hidupku?

?Kau adalah sahabat paling baik yang pernah aku temui. Sebaiknya kau tetap menjadi sahabatku?

?Terimakasih sudah menjawab. Dari kemarin aku takut untuk mengungkapkan isi hatiku ini, takut kalau aku ditolak, takut kalau aku tiba-tiba membencimu?

Tidak ada suara, kami saling memandang. Ia tersenyum lagi, melanjutkan perkataannya.

?Tapi dari peristiwa yang kau alami tadi, aku menemukan pelajaran tentang kepasrahan, ada kekuatan dahsyat dalam pasrah. Aku melihatmu pasrah dengan apapun yang akan terjadi denganmu, saat itulah kau berhenti menjerit, kau berhenti menangis. Mungkin kau berpikir, takut adalah kesia-siaan, untuk apa kita takut kalau yang terjadi akan tetap terjadi. Pasrah bukan berarti kita lemah, karena pasrah adalah menyerahkan segala urusan kepada yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa berusaha, dan hasil adalah urusan-Nya. Terimaksih atas jawabanmu, mungkin inilah jalan terbaik untuk kita?

Kami pulang, dia tetaplah menjadi sahabatku. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami. Dan aku bangga padanya, sebenarnya aku sudah mulai bisa menyukainya, tapi aku ingin lebih tahu seperti apa sikapnya dalam menghadapi persoalan. Ternyata ia lelaki yang tegar, selalu tersenyum. Tidak bisa membedakan kalau dirinya tengah menghadapi persoalan atau tidak. Aku benar-benar yakin kalau aku menyukainya, menyayanginya, mencintainya. Sekali lagi, aku ingin mengujinya.

Pada keesokan harinya ia mengajakku pada kuburan kedua orang tuanya. Aku baru tahu kalau ia tinggal bersama neneknya. Itulah pertamakalinya aku melihat ia menangis, tapi masih tetap bisa tersenyum. Katanya tangisan bukan berarti kelemahan. Menangis adalah sebuah kewajaran, tapi jika tidak diringi dengan senyuman tangisan akan membawa kita dalam jurang keterpurukan.

?Waktu kecil kami kecelakaan, mobil yang kami tumpangi masuk jurang. Kedua orang tuaku meninggal, sedangkan aku masih diselamatkan oleh Tuhan?

Dia bercerita banyak tentang kejadian masa kecilnya. Dan satu nasehat yang diajarkan oleh neneknya. Mengambil pelajaran dari setiap kejadian, mengambil pesan berharga dari simbol yang ditunjukkan Tuhan. Neneknya bilang kalau kedua orang tuanya tertidur untuk waktu yang lama, dan ia dilarang untuk ikut tidur bersamanya.

?Aku mencintaimu, tapi kau tak boleh tidur bersamaku?

Ucapannya membuatku tak mengerti. Apakah ia akan mati, atau ia akan pergi menjauh karena aku menolak cintanya. Simbol penuh misteri yang tak mudah aku pahami. Simbol bisa diartikan apa saja, tergantung bagaimana kita bisa mengambil pesan dan pelajaran darinya. Begitulah ia mengajariku. Setiap orang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang berbeda, begitu juga simbol, memiliki makna sesuai dengan perputaran zaman.

?Apa maksud dari ucapanmu? aku mencoba menanyaknnya.

?Untuk apa kuberi tahu, nanti pada saatnya kau akan mengerti sendiri?

?Buat apa menunggu kalau sekarang aku bisa mengetahuinya? aku tak mau kalah. Aku harus tahu secepatnya.

?Kalau kau tahu sekarang, kau tidak akan pernah belajar menerima, pasrah?

?Apakah kau akan pergi meninggalkanku?

?Mungkin? jawabnya datar, matanya menerawang jauh menatap langit.

?Mengapa kau setega itu padaku, aku mencintaimu, aku tidak mau berpisah denganmu. Kemarin aku hanya mengujimu, aku ingin tahu seberapa tangguh kau dalam menghadapi persoalan?

?Aku juga tidak ingin berpisah darimu, tapi aku lelah, aku ingin tidur. Dan aku tak mau kau ikut tidur bersamaku.?

Kata itu adalah kata terakhir yang berbentuk simbol darinya, hari-hari selanjutnya kami tidak lagi membicarakan simbol itu. Kami terlalu sibuk dengan kebahagian, sibuk merencanakan pertunangan, sibuk membicarakan hari pernikahan, sibuk membangun bahtera rumah tangga, sibuk mengurus keperluan anak. Dan kami tinggal bersama jauh dari kebisingan kota, aku, dia, dan anak kami. Kesibukan membuat kami melupakan simbol itu, tentang ia yang ingin tidur.

Hari ini aku sudah tahu semuanya, simbol terakhir yang ia ucapkan di depan pusara kedua orang tuanya. Saat ia bilang lelah, aku tahu kalau ternyata ia tidak ingin menghabiskan hidupnya sendirian. Ia butuh pendamping yang mau saling mengerti dalam menjalani kehidupan. Mengerti akan ketidak sempurnaan, mengerti akan setiap persoalan pasti datang, menjalaninya bersama-sama.

Saat ia berkata tidak mau tidur bersamaku, ia sudah paham dan pernah mengalami waktu ditinggal pergi kedua orang tuanya. Suatu hari nanti orang yang kita sayang pasti akan pergi, ia hanya ingin agar aku bisa belajar menerima, menerima kenyataan kalau suatu hari nanti aku harus rela membiarkannya tertidur sendirian, ia tidak mau aku ikut bersamanya.

Kota ini memang banyak menyimpan kenangan. Saat mekar bunga masih berupa tangkai tanpa daun. Saat kumbang belum bisa menghasilkan madu. Saat pertemuan belum mengenal kata perpisahan. Saat ia belum tertidur disamping pusara kedua orang tuanya.

Aku dan anakku menaburkan bunga tujuh rupa. Menangis sambil tersenyum.

Malang, 2015

?

Gambar Link : Klik disini

?

  • view 294