Izinkan Aku Mati Terhoramat, Sayang

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Maret 2016
Izinkan Aku Mati Terhoramat, Sayang

?Bila penderitaan dapat menjerumuskanmu pada lembah kenistaan
Kematianku akan lebih terhormat, sayang
Kembalilah, ambil kebahagiaanmu?

Sebuah surat dengan pesan singkat aku letakkan di lemari baju istriku. Sebelum akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri hidupku. Dan membiarkannya kembali kemasa lalunya.

***

Aku sudah bosan dengan kehidupanku. Hidup bagiku hanya menjadi seonggok benalu yang tidak mau tahu kesengsaraan orang-orang terdekatku. Saban hari aku pergi dari satu tempat ketempat yang lain hanya untuk memberikan motivasi pencerahan untuk menggapai hidup yang bernilai. Decak kagum para peserta dan gemuruh tepuk tangan riuh menghantam kupingku. Pada saat itulah kebahagiaan mulai aku rasakan. Apalagi setelah mendengar pengakuan salah satu peserta yang mengaku mendapat pencerahan dan mulai semangat dalam menjalani hidupnya. Saat itu pula dalam hati aku sering berkata ?Terimkasih Tuhan, Kau telah membuat hiduku lebih bermakna dengan menjadi penerang bagi jiwa yang tersudut dalam keremangan ? Akan tetapi aku tidak pernah memikirkan orang yang paling dekat denganku?lebih tepatnya istriku.

Istriku adalah harta paling berharga yang aku miliki. Namun harta itu hanya bisa aku simpan. Tanpa mau tahu keberadaannya seperti apa. Bahkan aku tidak memikirkan penderitaan apa yang dia rasakan. Aku hanya menjumpainya ketika malam mulai menyapa. Dan kami bercinta dengan perasaan yang tak karuan. Sama sekali aku tidak pernah mendapatkan respon yang baik ketika aku mengajaknya bercinta. Dia hanya diam tanpa suara, dan pasrah terhadap apapun yang aku lakukan.

Semenjak aku menikahinya aku tidak pernah melihatnya tersenyum dan mendengarnya bicara. Pernah suatu ketika aku mencoba memecah suasana dengan mengajaknya berdiskusi seputar persoalan yang tidak terlalu penting tentang dunia politik. Tentang tujuan mereka yang berebut kursi jabatan,dan lain sebagainya. Aku berharap cara itu bisa membuatnya bicara. Karena dia terkenal jago berdiskusi seputar politik di tempat kuliahnya dulu. Akan tetapi tetap saja tak ada respon. Dia hanya diam menatap nyalang mataku. Ketika aku mencoba menyelami tatapannya. Aku melihat gumpalan penderitaan yang selama ini dia simpan dibalik sikap acuhnya.

***

Penderitaannya bermula semenjak dia memutuskan untuk hidup denganku. Hidup yang terlalu ia paksakan. Lantaran desakan orang tuanya. Hidup yang terkekang oleh tuntutan, bukan pilihan. Karena dalam pikiranya saat itu, penderitaan lebih dia pilih asalkan bisa melihat senyum kedua orang tuanya. Dan itu salah satu alasan mengapa aku semakin berharap bisa mendapatkannya. Jarang sekali perempuan seperti itu bisa di jumpai, perempuan yang siap menderita dan merelakan senyum manisnya terbungkam demi senyum kedua orang tuanya. Perempuan yang mengubur kenangan indah bersama lelakinya. Menjadikannya serpisahan kisah yang tercipta di negeri dongeng belaka.

Aku baru sadar kalau ternyata penderitaan telah mengubah kepribadiannya. Sosok perempuan yang menjadi bunga desa dan wanginya banyak diminati banyak orang kini telah layu dan berdebu. Semenjak itulah dia hanya menjadi harta yang bisa aku simpan. Tanpa mau tahu keberadaannya seperti apa. Mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sampai mengabaikan istriku.

Apalagi saat ini usaha bisnis roti yang aku pimpin dalam masa kejayaannya. Aku harus berangkat pagi sebelum para karyawan datang dan pulang setelah para karyawan pulang semua. Untuk memberikan contoh yang baik. Alhasil semua karyawan bisa disiplin waktu, dan bisnisku semakin berkembang. Bahkan setiap kota aku memiliki anak perusahaan. Kepandaianku dalam mengelola bisnis banyak mengundang decak kagum perusahaan lain. Tidak heran bila perusahaanku telah bekerjasama dengan puluhan perusahaan, baik dalam kota maupun luar kota. Dan hal itu pula yang membuatku memiliki pekerjaan baru dengan menjadi motivator dalam urusan bisnis.

Hari demi hari waktuku semakin tersita?pekerjaanku semakin padat. Apalagi semenjak aku dinobatkan sebagai pengusaha tersukses setelah salah satu majalah bisnis mengangkat profilku. Berbagai penghargaanpun mengalir semulus air. Berbagai pujian datang. Akan tetapi ketika aku sudah berada di rumah. Kembali aku menjelma manusia paling bejat. Boleh jadi diluar aku menjadi tokoh inspiratif yang banyak mengundang kekaguman. Tapi semua itu tidak berlaku ketika aku menjumpai istriku yang tak pernah sedikitpun aku melihatnya tersenyum. Akulah mausia munafik yang bisanya memaksakan senyum dihadapan orang banyak. Sedangkan dihadapan istri sendiri aku tidak pernah bisa tersenyum. Akulah manusia paling kejam yang telah merampas kebahagiaannya.

***

?Aku tahu kau tidak bahagia hidup denganku. Tapi izinkanlah aku mencoba untuk belajar membuatmu agar bisa menerimaku sebagai suamimu? Ucapku pada suatu malam sepulang dari kantor. Waktu itu aku melihatnya pura-pura tidur. Setelah beberapa kali aku mengetok pintu dan tak ada jawaban. Sampai akhirnya aku masuk dan seketika dia berbalik badan dan memejamkan matanya.

?Ayolah sayang, ada apa dengan dirimu. Mengapa begitu sulit kau menerimaku sebagai suamimu. Ayolah bicara padaku. Jika kau tetap diam. Kapan aku bisa tahu apa yang kau inginkan?

?Aku tahu kalau kau belum tidur. Aku hanya ingin bilang, kalau aku siap mengabulkan semua keinginanmu. Termasuk jika kau ingin kembali ke lelakimu. Tapi bicaralah padaku, jangan kau buat aku terus-terusan dihantui rasa bersalah? Aku menangis. Dan aku juga melihat dia ikut menangis. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia hanya merasa kasihan kepadaku. Tak ada yang tahu.

?Ok, jika dengan kembali pada lelakimu adalah jawaban yang ingin kau dapatkan. Aku akan mencoba untuk memenuhinya. Sebagimana kau relakan kebahagiaanmu untuk kedua orang tuamu. Tapi aku mohon, berikanlah aku sedikit saja kebahagiaan dengan kau bisa menerimaku sebagai suamimu, atau izinkan aku memberikan satu kebahagian untukmu. Sekali saja. Setelah itu aku akan pergi dan mengikhlaskanmu? Tetap saja tak ada respon. Malam itu aku keluar dari kamar. Membiarkannya sendiri. Dan aku tidur dikamar tamu.

***

Hanya sekali aku mendengar kalau dia tersenyum dan merasa bahagia. Tepatnya semenjak dia melahirkan anak pertamaku. Hari-harinya mulai berwarna. Dia tidak lagi merasa kesepian. Itupun menurut pengakuan Mbok Ati pembantuku setelah aku menanyai keadaan istriku. Karena setiap kali aku menjumpainya. Dia tetaplah istriku yang bisu.

Belum genap tiga bulan usia anakku. Cobaan terberat dan sangat sadis menimpanya, menimpaku, dan istriku. Anakku divonis mengidap penyakit ganas. Di usianya yang masih belia dia harus berurusan dengan maut?dokter menyatakan anakku mengidap penyakit kanker hati. Penyakit yang bisa mengancam nyawanya kapan saja.
Istriku mulai sering menangis. Tidak pernah aku melihatnya sesedih ini. Biasanya ketika dia sedih cukup dengan merenungi penderitaannya. Puasa bicara. Kali ini penderitaannya bertambah?dia harus menyaksikan sendiri bagaimana buah hatinya menghadapi maut.

?Apakah anakku bisa diselamatkan Dok, aku mohon berusahalah semaksimal mungkin. Berapapun biayanya akan kami tanggung. Asalkan anakku bisa selamat? Ucapku dengan perasaan panik.

?Kami dari pihak Rumah sakit hanya bisa berusaha, masalah hasil itu urusan Tuhan?

?Apa rencana Dokter selanjutnya. Apakah masih ada harapan untuk anakku bisa hidup. Katakan Dok, katakan?..?

?Hanya ada satu jalan yang memungkinkan anak anda bisa bertahan hidup. Dia harus menjalani operasi cangkok hati. Dan itupun bila ada pendonornya?

?Apakah sudah ada?

?Itu dia masalahnya pak, sampai saat ini kami telah berusaha mengontak seluruh Rumah Sakit di dunia. Dan sampai saat ini belum ada kabar?
Aku hanya bisa diam terpaku memandangi anakku yang terkapar lemas. Disampingnya istriku masih larut dalam tangis.

?Ambil saja hatiku Dok, aku siap mendonorkannya untuk anakku? Seketika aku terperanjat mendengar ucapan istriku. Baru kali ini aku mendengar suaranya semenjak dia menikah denganku. Entah mengapa dan karena apa aku merasa terpukul dengan ucapan itu.

?Maaf Bu, kami tidak bisa melakukan itu. Sama saja kami telah melakukan pembunuhan terencana?

?Tapi Dok, dia anakku. Dia belum sepenuhnya merasakan kehidupan. Sedangkan aku sudah bosan untuk hidup bila terus menanggung beban derita. Aku tidak mau melihatnya mati Dok?

?Maafkan kami Bu, sekali lagi maaf, kami tidak bisa memenuhi permintaan Ibu?
Itulah yang mendasari mengapa aku memutuskan untuk cepat mengakhiri hidupku. Aku tidak mau terus berlarut-larut dihantui beban dosa yang harus aku tanggung. Sudah cukup aku membuat istriku menderita. Dengan kematianku, setidaknya aku menghilangkan beban derita yang di tanggungnya.

Tapi sampai saat ini aku masih bingung. Bagaimana caranya agar aku bisa cepat mati. Tidak mungkin bila aku harus bunuh diri. Sama saja aku telah memutuskan untuk menjadi penghuni jahannam. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan segera mencabut nyawaku.

Selesai berdoa. Aku berjalan menuju lemari baju istriku. Mengambil surat kecil yang aku selipkan dibawah bajunya, menambahkan dua baris pesan dibawahnya.

?Berikanlah hatiku untuk anakku, sebagai bukti rasa sayangku padamu
Dan izinkan aku mati terhormat, sayang?

Aku pandangi setiap sudut ruangan kamarku. Sebagai salam perpisahan dengan kehidupan duniawi. Istriku masih menunggu di Rumah Sakit. Berharap ada pendonor untuk hati anakku. Sementara di dalam kamar ini aku hanya bisa merenungi setiap kesalahan yang aku perbuat padanya. Dan berharap semoga Tuhan mencabut nyawaku malam ini juga. Mataku terpejam, dan entah apa yang akan terjadi besok pagi. Yang aku harapkan hanya agar aku secepatnya mati. Dan besok pagi istriku bisa tersenyum untukku meskipun aku tidak bisa menyaksikannya. Jemput aku Tuhan.

***

?Jangan sekali-kali kita mengutuk Tuhan dengan kondisi serumit apapun. Setiap yang menimpa kita adalah rencana terindah yang sedang Tuhan berikan untuk kebaikan kita. Semua takdir yang digariskan Tuhan adalah baik. Termasuk rejeki, jodoh, dan mati semuanya telah ditentukan dalam garis kodrat yang tak ada satu mahlukpun mampu mengelak darinya?

?Apakah Ibu akan kembali pada lelaki yang di tuliskan suami Ibu dalam pesannya sebelum meninggal??salah satu peserta seminar mengajukan pertanyaan.

?Dia adalah suami yang belum sempat aku mengabdikan seluruh hidupku sebagai istrinya. Tidak mungkin aku menghianati segala kebaikan yang dia korbankan. Bagiku dia tetaplah suami yang tak tergantikan. Karena hatinya tetap hidup dalam hatiku dan anakku?Ruangan seminar dilumuri linangan air mata. Sang Ibupun melanjutkan perkataannya ?Jangan sampai keegoisan yang aku lakukan dimasa lalu terulang kembali dalam kehidupan kalian. Terimalah segala apa yang ada dihadapan kita. Syukuri dan nikmati. Sebelum kalian merasakan penyesalan seperti yang aku alami saat ini. Cinta bukanlah apa yang harus sesuai dengan yang kita inginkan, itu hanya nafsu belaka. Karena cinta itu suci, dan nafsu seringkali menutup mata kita untuk menerima cinta yang hakiki. Tuhan telah menciptakan cinta dengan takaran yang pas, manusia yang baik hanya untuk yang baik. Raihlah cinta kalian dengan menggunakan mata hati, bukan nafsu birahi.?

***

Gambar Link : Klik disini

?

  • view 365

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Melihat cinta dengan mata hati bukan nafsu birahi..bagus sekali..karena apa yang kita cari itulah yang akan kita dapatkan