Timnas Kalah Lagi

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Maret 2016
Timnas Kalah Lagi

Kalah dalam peperangan adalah hal yang pasti, itulah sebab mengapa aku tak takut lagi
Jika ditanya apa yang aku takutkan, aku hanya takut jika dilupakan
?
Mario anak yang terlahir dari keluarga serba kurang itu menuliskan surat kecil untuk kedua orang tuanya. Sekalipun ia sadar bahwa surat itu tidak akan pernah dibaca. Tapi bukan Mario namanya, lelaki berusia 19 tahun itu berjanji untuk tetap bangga pernah dilahirkan oleh kedua orang tua yang tak sempat ia mengenalnya. Kedua orang tua yang tidak ia ketahui dimana keberadaannya.
?
Terlahir tanpa mengetahui siapa yang melahirkan telah membuat pribadi Mario menjadi kuat. Semangat dalam menjalani kehidupan, terus berlari, pantang mundur, tetap yakin akan jalan yang ia pilih. Selalu tegar menghadapi segala cobaan, dan segala rintangan apapun yang diberikan Tuhan.
?
?Tega benar kedua orang tuanya yang telah membuang anak secerdas dan sebaik Mario?

Suara yang ia dengar dengan tidak sengaja, suara yang membuat hatinya menangis, sekaligus suara yang menyingkap rahasia tentang kehidupannya. Tapi sekali lagi, Mario selalu tegar, dalam pikirannya ia menangkap satu pesan bagaimana cara Tuhan memberitahu segala rahasia bagi hambanya yang ingin tahu. Rahasia kehidupan. Rahasia yang diketahui bukan untuk dicaci, dibenci, tapi untuk diambil pelajaran.
?
?Tahukan kalian dimana kedua orang tua kandungku?
?
Sepasang kekasih bingung dengan pertanyaan yang diajukan Mario. Mereka sadar kalau mereka bukanlah kedua orangtua kandungnya, tapi mereka tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang mereka tidak ketahui.
?
Sepuluh menit tak ada suara, ruang sempit dirumah bambu menjelma gubuk kosong tanpa penghuni. Hanya ada adegan saling pandang, dan air mata yang mengembang.
?
?Kau memang bukan anak kandung kami, tapi kamu adalah bagian dari kehidupan kami?
?
Jawaban sepasang kekasih yang telah memberikan segala yang dimilikinya untuk anak yang ditinggal pergi kedua orang tuanya.
Mario memeluk keduanya, melupakan pertanyaan yang baru saja diajukan.
?
***
?
Untuk kedua orang tuaku:
Terimaksih telah melahirkanku kedunia ini
?
Hanya itu isi suratnya. Surat itu ia lipat, membungkusnya dengan kain, dikasih benang untuk dijadikan kalung.
Setiap hari ia mencium kalung yang dibuatnya, ia bayangkan kalau kalung itu adalah kedua orangtua kandungnya.
?
***
?
Tumbuh dikeluarga serba kurang dan mengetahui rahasia hidupnya tidak menjadikan Mario berkecil hati dalam menjalani kehidupan. Ia terus berlari mengejar mimpi-mimpinya, mimpi yang silih berganti sesuai irama jaman. Siapa yang tahu rahasia mimpi, tidak ada. Setidaknya Mario telah berani bermimpi, sekalipun mimpi-mimpi itu tidak bisa ia dapatkan.
?
Siapa yang bisa menyangka, hobi main sepak bola telah mengantarnya pada mimpi baru. Ia boleh gagal menjadi apa yang ia inginkan sebelumnya. Tapi keyakinan akan takdir Tuhan selalu ia pegang, keyakinan akan pilihan terbaik selalu ada sesuai kebutuhan, sesuai dengan rencana paling indah, rencana Tuhan.
?
***
?
Berkostum Timnas, membela negara dalam pertarungan sepak bola. Itulah yang saat ini Mario emban. Dipercaya memimpin teman-temannya, dipercaya untuk memenangkan permainan, dipuja-puja sporter yang berjiwa nasionalisme, katanya.
Itu tidak bertahan lama.
?
?Timnas kalah lagi?
?
Seribu kata, berjuta keluh, bermilyaran keraguan mulai menjadi virus yang tak bisa dibendung. Tapi Mario selalu tersenyum, senyum yang menjadi tanda tanya, senyum yang tersorot media, senyum yang membuat dirinya tidak lagi dipercaya. Katanya, Mario lemah, ia harus disingkirkan, jangan lagi dimainkan. Meskipun media mengabarkan dengan bahasa mengasikkan ?Mario Harus Belajar Lagi?.
?
Berita dimedia massa buming dengan headline yang maknanya sama. Mario bukan diberhentikan, melainkan disuruh menimba ilmu dinegeri orang.
?
Mario tetap saja tersenyum, senyum yang membuat dirinya tidak lagi dipercaya. Tapi Mario masih sempat berpesan kepada rekan timnya.
?
?Tugas kita adalah berusaha dan memberikan yang terbaik. Kita telah buktikan dengan nyata, bukan hanya menyimak apalagi bersuara.?
?
?Jangan takut kalah, jangan takut dicela, jangan takut bermimpi, jangan takut untuk menjadi juara. Takutlah jika kalian dilupakan?
Mario mencium kalung yang ia buat, sambil berucap;Terimakasih telah melahirkanku kedunia ini.
?

Malang, 19 Januari 2015

?

Gambar Link : Klik disini

  • view 103