Surat untuk Calon Koruptor

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Surat untuk Calon Koruptor

Dengan segala hormat, surat ini untuk di baca para calon koruptor:
?
Lelaki berumur dua puluh tahun itu mulai menuliskan keresahannya. Ayahnya yang mengajari lelaki itu menulis, katanya dengan menulis segala persoalan akan terasa mudah untuk diselesaikan. Matanya memerah, air mata menetes satu persatu, kertas yang baru berisi tulisan pembuka basah tanpa disadarinya. Kertas itu ia robek, mengambil kertas yang baru, dan menuliskan kembali kalimat pembuka yang sama.
?
Diluar kilat menyambar, hujan turun tidak terlalu deras, hanya gerimis. Lelaki itu tidak melanjutkan kalimat selanjutnya. Ia duduk merenung di meja milik ayahnya. Lampu sengaja tidak ia hidupkan??sinar dari lilin lebih bagus untuk penerangan??itu kata ayahnya. Sejak kecil lelaki itu selalu menemani ayahnya ketika menulis. Ia melakukan hal yang sama meniru ayahnya. Tapi kalimat selanjutnya belum juga ia tulis.
?
***
?
Usia 5 Tahun.
?
?Nak, jangan sekali-kali kau benci para koruptor itu? lelaki berambut gondrong mengelus kepala anaknya.
?
?Koruptor itu apa sih?? kepala anak kecil itu geleng-geleng, tak mengerti apa yang baru saja diucapkan ayahnya.
?
?Nanti kau akan mengerti dengan sendirinya?
?
Percakapan selesai, lelaki berambut gondrong menggendong anaknya ketempat tidur, menceritakan tokoh kancil yang cerdik. Anak itu tertidur, si gondrong kembali menulis.
?
***
?
Lelaki gondrong itu hampir lupa bagaimana mengurus rambutnya. Urusan rambut tidak terlalu penting baginya. Banyak orang tidak mengenal siapa lelaki gondrong itu, tapi banyak orang yang mengagumi tulisannya. Hampir setiap hari orang-orang bisa membaca tulisannya diberbagai media massa koran, mulai lokal sampai nasional. Yang paling ditunggu oleh banyak orang adalah tulisan pada hari minggu, hari khusus bagi satu koran nasional dimana tulisannya selalu ada disana. Yang ia tulis beragam, kadang esai, kadang cerpen, puisi, artikel, opini, sesuai keinginannya. Tapi khusus hari minggu yang ia tulis adalah cerpen, temanya tidak pernah berubah, segala persoalan yang menimpa negerinya. Apalagi kalau bukan kebebasan para koruptor yang hidupnya serba tertawa. Tertawa diatas kesengsaraan negerinya sendiri.
Banyak orang penasaran siapakah penulis misterius itu. Lelaki gondrong hanya meninggalkan satu jejak diakhir tulisannya, sebuah nama pena, Gondrong, beralamat di Negeri Tikus. Hanya itu.
?
Negeri Tikus adalah Negeri yang saat ini ia tempati. Dalam satu cerpennya ia kembali menjelaskan tentang Negeri Tikus. Di Negeri itu sedang menyebar banyak virus, masyarakatnya terinfeksi penyakit akut kelas teratas, penyakit terlalu, serba terlalu, salah satunya terlalu mengagung-agungkan sebuah kekuasaan. Apa hubungannya dengan Negeri Tikus, tentu ada. Untuk memenuhi hasrat kuasanya, masyarakat di Negeri itu tidak lagi tahu rupa, mereka semua buta. Buta akan kebaikan moral, buta akan aksara kesederhanaan, buta akan Negerinya sendiri. Tikusnya dimana. Tikusnya ada pada sifat masyarakatnya.
?
Di akhir tulisannya selalu diakhiri dengan tanda tanya, membiarkan pembaca menafsirkan kembali maksud yang disampaikan. Meskipun kadang pembaca tidak bisa memahami, mereka tetap senang membaca tulisannya. Dalam salah satu tulisannya ia juga menjelaskan, tanda tanya itu adalah bentuk ajakan. Mengajak pembaca merenungi setiap persoalan, agar bisa bersama-sama mencari jalan keluar.
?
Katanya lagi, mungkin aku hanya bisa menulis apa yang ingin aku tulis, tapi kalian lebih tahu bagaimana cara mengatasi. Aku malu dengan mengangkat sebuah persoalan, karena belum bisa mengetuk mereka yang tidak mau sadar. Tulisan ini hanya sebuah peringatan, bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah formalitas, kemerdekaan bukan hanya memperingati harinya, memperingati jasa pahlawan, mengibarkan bendera setengah tiang, atau kebiasaan yang selama ini telah kita lakukan. Kemerdekaan itu hanya satu, menjaga keharuman Negeri ini dari segala tindak tak bermoral. Itu salah satu kata-kata dalam tulisannya.
?
***
?
Usia 10 Tahun.
?
?Nak, jangan sekali-kali kau benci para koruptor itu? lelaki berambut gondrong mengelus kepala anaknya.
?
?Tapi kata Ibu Guru, koruptor itu jahat? sang anak mulai mebantah.
Lelaki gondrong hanya tersenyum. Tangannya tetap mengelus kepala anaknya.
?
?Ayo kita tidur, sudah malam?
?
?Tapi ayah harus bercerita?
?
Lelaki gondrong mengangguk, mulai bercerita tentang para pemimpin yang hidupnya tetap sederhana. Setelah anaknya tertidur, ia kembali pada aktifitasnya.
?
***
?
Lelaki berumur dua puluh tahun masih duduk termenung. Ia belum bisa meneruskan kalimatnya. Bukannya tidak tahu kalimata apa yang akan ia tulis. Ia hanya menunggu hatinya kembali damai, menulis tidak boleh dengan kebencian, pesan ayahnya dulu.
?
***
?
Misteri penulis gondrong banyak memikat para partai politik untuk mengetahui dimana keberadaannya. Mereka kagum dengan ide gilanya, ide dalam tulisannya bersahabat dengan rakyat yang tertindas, bersahabat dengan perkembangan Negerinya.
?
?Kita harus menemukan penulis gondrong itu, bagaimanapun caranya? salah satu ketua partai memimpin rapat dadakan. Mereka membutuhkan pemikiran penulis gondrong.
?
?Ini demi mengangkat kepercayaan masyarakat terhadap partai ini? ucapan ketua partai berapi-api, seperti mahasiswa yang berorasi.
?
?Siap pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin? perwakilan ketua detektif mengiyakan permintaan ketua partai. Pencarian dimulai, sembunyi-sembunyi.
?
***
?
Usia 15 Tahun
?
?Nak, jangan sekali-kali kau benci para koruptor itu? lelaki berambut gondrong mengelus kepala anaknya.
?
?Tapi tulisan ayah mengkritik para koruptor? anak itu telah beranjak dewasa, ia sudah mengerti siapa koruptor itu.
?
?Kita boleh mengkritik, tapi tidak boleh membencinya. Mengkritik itu lewat hati bukan emosi?
Anak berumur lima belas tahun itu mengangguk paham. Bernjak pamit ketempat tidur. Lelaki gondrong memanggilnya kembali, memberikan kumpulan tulisannya, menyuruh anaknya agar membacanya.
?
?Kamu harus bisa menulis. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian ?? pesan lelaki gondrong sebelum anaknya tertidur. Pesan yang ia pinjam dari Pramoedya Ananta Toer.
?
***
?
Berbahagialah kalian saat ini, karena kalian belum tahu nikmatnya mencicipi uang Negara
?
Lelaki berusia dua puluh tahun sudah melanjutkan tulisannya, tapi kembali berhenti. Ia merindukan ayahnya.
?
***
?
Usia 18 Tahun.
?
?Nak, jangan sekali-kali kau benci para koruptor itu? lelaki yang mencukur rambut gondrongnya, mengelus kepala anaknya.
?
Lelaki berumur delapan belas tahun terus menulis, ia hanya mendengarkan nasehat ayahnya. Ayahnya yang tidak lagi menulis, ayahnya yang saat ini menjadi pemberitaan di media massa
?
***.
?
Penulis gondrong ditemukan, ia diangkat menjadi bagian partai. Berhasil mendapatkan dukungan menjadi bagian ketua pemerintahan. Terpaksa rambutnya dicukur rapi. Ia terlihat tampan, gagah dengan pakaian jas berdasi.
?
***
?
Usia 19 Tahun.
?
?Nak, jangan sekali-kali kau benci para koruptor itu?
?
Lelaki berusia sembilan belas tahun sibuk dengan tulisannya. Rambutnya dibiarkan gondrong seperti ayahnya, dulu.
?
***
?
Lelaki berumur dua puluh tahun itu mulai menuliskan keresahannya. Ayahnya yang mengajari lelaki itu menulis, katanya dengan menulis segala persoalan akan terasa mudah untuk diselesaikan. Matanya memerah, air mata menetes satu persatu, kertas yang baru berisi tulisan pembuka dan beberap kata lanjutan basah lagi. Kertas itu ia robek, mengambil kertas yang baru, dan menuliskan kembali kalimatnya.
?
Dengan segala hormat, surat ini untuk dibaca para calon koruptor:
?
Berbahagialah kalian saat ini, karena kalian belum tahu nikmatnya mencicipi uang Negara
Beruntunglah kalian saat ini, karena kalian belum mendapatkan kesempatan yang sama
Berjanjilah kalian saat ini, untuk tidak membenci mereka
Mereka adalah bagian dari kita, mereka hanya lupa asal usulnya
Mereka bukan untuk dibenci, tapi jangan pula di ikuti
Mereka hanya lupa.
?
Ttd
?
Anak Koruptor
?
***
?
Link Gambar : Klik di sini


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Tulisan dengan teknik seperti ini sukses membuat kami penasaran dan mencari makna karya ini hingga baris terakhir. Teknik penggabungan penceritaan masa kini lalu flashback ke masa silam yang dipakai terbukti efektif dalam menyampaikan pesan serius dengan cara sopan tetapi tetap berbunyi nyaring. Secara pesan, tulisan ini sangatlah kuat sebab berbalut ironi dimana sang ayah yang awalnya penolak keras korupsi dan pendamba negara makmur tanpa keserakahan justru tak bisa menolak bisikan yang akhirnya membuatnya menjadi bagian dari mereka yang pernah ia sindir. Kata "lupa" di akhir tulisan bisa menjadi pengingat, penampar bahwa manusia bisa saja menelan ludahnya sendiri.

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Gaya kendi, kecil dan ringan di atas, berat di bawah, menggelitik. Suka... ^_

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sudah sepuluh kali aku membaca tulisanmu mas Rifki, aku tak pernah bosan. Rajin berkarya mas, aku sangat suka tulisanmu. Mendamaikan dan sedikit menggelitik ketimpangan sosial.

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sudah sepuluh kali aku membaca tulisanmu mas Rifki, aku tak pernah bosan. Rajin berkarya mas, aku sangat suka tulisanmu. Mendamaikan dan sedikit menggelitik ketimpangan sosial.

  • Ibad Nafisah
    Ibad Nafisah
    1 tahun yang lalu.
    Ini keren banget dan redaksi hebat bisa menemukan tulisan sekeren ini,,, Mas Rifki ini kerenn...