Tujuan & Jembatan

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Februari 2016
Catatan Waktu Senggang

Catatan Waktu Senggang


Sebuah catatan sederhana, mengambil pelajaran dari setiap apa yang dilihat, di dengar, dan dibaca.

Kategori Acak

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Tujuan & Jembatan

???????????????????????????? :percakapan dengan Ibu JWA & Ansori Jamil

Dua gelas teh hangat dan tumpukan uang tercecer di meja ruang tamu, seorang ibu duduk dengan senyumnya yang teduh. Ia memanggil lelaki yang sedari tadi berdiri di luar pintu, mengajaknya untuk duduk, dan sedikit perbincangan yang terekam oleh waktu.

? jika uang mampu menjawab segalanya, lantas apa yang berharga dari sebuah kedamaian, dan apa yang menarik dari surga?

Ucapan pertama membuat si lelaki menundukkan kepala, tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mendengarkan ucapannya.

?Uang hanyalah alat, iya adalah jembatan. Ibarat orang kelaparan, jembatan adalah makanan?

Lelaki itu mulai berani mengangkat kepalanya, ia menatap tajam mata sang ibu, mencoba menyelami kedalamannya, yang ia temukan rona ketulusan, pancaran suci melebihi putih.

?Kau tahu mana yang baik dan mana yang terbaik, kau bukan anak kecil yang perlu berkali-kali penjelasan untuk memahaminya. Sudahlah, tak usah kau pikir bagaimana cara mengembalikannya, kelak kau akan tahu sendiri, Tuhan tidak pernah tidur. Dan kau tidak mungkin kabur, aku yakin itu?.

?Bagaimana kalau aku kabur?.

Lantang sekali jawaban lelaki itu, tetapi sang ibu menanggapinya dengan senyum.

?Aku memang tidak bisa memprediksi masa depan, tetapi aku punya keyakinan dan Tuhan. Aku mengenalmu hari ini, bisa saja kau tak mengenalku hari esok, tapi aku percaya kalau itu tidak akan pernah terjadi?

?Bisa saja aku lari, dan kau tak punya bukti kuat untuk mengejarku?

?Tapi rasa sayang tak akan pernah ternoda oleh penghianatan. Sekalipun itu terjadi, aku tak pernah menyesal telah menganggapmu sebagai anak?.

Lelaki itu diam, ruang tamu hening, hanya detak jarum jam yang tetap berbunyi. Di susul suara gelas yang di angkat oleh sang ibu, dan seruputan teh yang tidak lama di ikuti lelaki itu.

? Aku tidak akan bicara lagi, hanya jembatan ini yang bisa aku berikan, jika kau mau silahkan ambil, semua keputusan ada pada dirimu sendiri?

Lelaki itu kembali menatap kedalaman mata sang ibu, rona ketulusan dan pancaran suci yang melebihi putih masih ia temukan. Masih sama dengan yang ia lihat ketika pertama kali mengenalnya. Sosok perempuan perkasa yang hampir setara dengan ibu kandungnya.

Dengan hati-hati lelaki itu mengambil tumpukan uang di meja, menghitungnya, kemudian menaruhnya di dalam tas. Sesekali ia? melihat sang ibu yang lagi tersenyum. Sebenarnya ada yang ingin ia ceritakan, tapi ia tak sanggup, ia takut kalau nanti mengecewakannya. Kepada dirinya ia pernah berjanji, ia tidak akan pernah membuatnya kecewa, sebagaimana janji kepada kedua orang tuanya.

Berkali-kali lelaki itu memiliki rencana berhenti kuliah, karena tak mampu membayar. Tetapi selalu digagalkan oleh sang ibu, dialah manusia berhati malaikat yang di utus Tuhan untuk membantunya, sebagai jembatan untuk lelaki yang selalu putus asa.

Kini lelaki itu menjelma sosok yang tangguh, mulai berani mengambil keputusan. Lelaki yang punya keinginan untuk mengharumkan negerinya, dan mengubah dunia dengan kemampuan menulisnya. Ia yakin kalau kata-kata akan meruncing, menjelma propaganda yang akan di amini oleh semesta dan Tuhannya.

Untuk sementara keyakinan itu ia simpan, kata-kata yang pernah sang ibu ucapkan selalu mengiang di setiap detak jantungnya.

?Yang terpenting kamu lulus, tak usah kau pikirkan berapa IPK mu. Ijazah memang tak penting untukmu, tapi kelulusanmu adalah kado istimewa buat kedua orang tuamu?

?Terimakasih? hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, segera pergi ke kampus untuk membayar uang kuliah.

***

Setiap tujuan tidak akan pernah lepas dari rintangan, dan setiap rintangan selalu memiliki jembatan untuk melaluinya.

Jika tujuan bisa mengubah dunia, maka jembatan bisa menjadi kado istimewa untuk kedua orang tua.

Tentukan sendiri jembatan apa yang ingin kau berikan padanya.

?

Malang, 4 Februari 2016

?

Link Gambar :?Klik di sini

  • view 296