Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 5 Juni 2018   01:30 WIB
Misteri Dua Mei

1 Mei 2018 – 23.15 WIB

Hujan yang seharusnya turun seolah enggan untuk menampakkan wujudnya, hanya angin dan gemuruh petir bersahutan menjelma nyanyian mantra untuk memanggil arwah-arwah. Matahari sejak dini hari tak mampu menyibak gumpalan awan hitam. Jalanan sepi, tak satupun terdengar bunyi kendaraan yang biasanya berlalu lalang, kecuali gemerisik sampah plastik yang dipermainkan angin tak tentu arah. aku menyaksikan semua yang terjadi diluar dari balik jendela kontrakan lantai dua. Pertanda burukkah? Bisa jadi, tahun kemarin cuaca sama peris dengan hari ini, tepat pada tanggal dan bulan yang sama. Kenapa harus bulan Mei? Ini yang akan aku cari tahu kebenarannya.

Apa yang akan kau lakukan bila duniamu terbagi dua? Separuh duniamu ada di alam nyata, dan separuhnya lagi ada di alam mimpi, mimpi yang terus menghantui hingga kau terbangun dan kau tidak bisa menyadari apakah engkau sudah benar-benar kembali.

Itulah mengapa aku benci untuk tidur. Sudah dua hari aku mencoba untuk membuka mata, se termos kopi dan tumpukan rokok menjadi teman agar aku tidak bertemu dengan mereka.

Satu tahun sudah semenjak aku pindah ke kontrakan ini mimpi itu berkali-kali datang menghantuiku. Ada rahasia yang ingin dipecahkan, ada luka yang ingin disembuhkan, ada kata yang ingin mereka katakan. Ya, dua sosok perempuan yang mengaku namanya Mei, Meira dan Meita.

Namaku Mei, dan ini juga Mei. Sebuah tulisan ia sodorkan padaku.

“Kalian tidak bisa bicara” secara bergantian mereka menulis untuk menjawab pertanyaanku.

Pita suara kami hilang, pacar kami mengambilnya, jantung kami juga.

“Di makan?”

Tidak, mereka mengambil dan membuangnya, satu di laut, satunya lagi di sungai.

“Bagaimana kalian bisa bertemu”

Jantungku memang di sungai, tapi ia mengalir hingga ke laut. Kami kembali bertemu, dan kami ingin balas dendam.

Mimpi pertamaku berakhir dengan kata balas dendam. Tapi kepada siapa, aku tidak tahu pacar mereka tinggal dimana. Dan kalau pun tahu, aku bisa berbuat apa. Pertanyaanku, kenapa tidak mencarinya langsug. Kenapa harus menghantuiku.

Hanya kamu yang bisa membantu kami.

“Kalau aku tidak mau”

Harus mau, jangan salahkan kami bila terus mengganggumu.

“Ini tidak adil”

Hidup memang tidak adil, karena keadilan hanya milik mereka yang mau menerima.

“Ya terima saja, toh kalian tidak akan bisa hidup lagi”

Kami belum mati, hanya jasad kami yang hilang. Tapi jiwa kami masih hidup bersama teman dan keluarga yang tak sempat kami ucapkan maaf.

“Maaf untuk apa lagi?”

Kami pasangan lesbi, mugkin bagi mereka kami ini adalah cela dalam hidupnya. Ketika mereka tahu, kami tidak lagi menemukan senyum dan tawa yang pernah kami lalui dulu.

”Terus buat apa kamu minta maaf, toh mereka juga meninggalkanmu”

Tidak, mereka tetap menyayangi kami. Mereka hanya tidak bisa menerima, tapi mereka tidak pernah meninggalkan kami. Kami sendiri yang memilih pergi.

Mimpi ke dua semakin jelas. Aku banyak tahu tentang permasalahan yang mereka lalui. Tapi mimpi-mimpi selanjutnya membuatku semakin tidak mengerti dengan jalan yang akan mereka lalui. Mereka memintaku untuk membunuh pacar mereka, dua orang sekaligus pada malam di tanggal dan bulan yang sama ketika mereka di bunuh. Gila, aku tidak mau melakukan itu. Itulah mengapa tahun lalu aku bergegas pergi meninggalkan kontrakan ini tepat pada waktu yang mereka inginkan.

***

2 Mei 2018 – 19.17 WIB

Satu tahun berjalan sangat singkat, dan besok adalah waktu yang mereka inginkan. Entah alasan apa yang membuatku kembali ketempat ini. Haruskah aku memenuhi permintaan mereka. Apakah dengan membunuh semuanya akan selesai. Mungkin selesai bagi mereka dan tidak bagiku.

Coba bayangkan kalau posisimu adalah kami berdua.

“Apakah kalian juga bayangkan bagaimana perasaanku. Aku juga punya teman dan keluarga”

Jadilah kami terlebih dahulu, baru kau akan tahu alasan kenapa kami butuh bantuanmu.

Seperti kemarin, angin dan gemuruh petir bersahutan menjelma nyanyian mantra untuk memanggil arwah-arwah. Tapi kali ini hujan turun, dan diluar ada dua orang lelaki yang baru turun dari mobil. Eh, bukan dua tapi empat, dua orang perempuan menyusul dari belakang menaiki mobil yang berbeda. Dan sebuah kertas melayang jatuh tepat di depanku.

Kami yang mengundang mereka

“Apa yang kalian inginkan?”

Membunuhnya. Kertas itu berganti tulisan dan tiba-tiba berwarna merah darah.

“Apa yang harus aku lakukan. Hei, tolong beritahu aku”

Percuma aku berteriak, aku harus segera menemui kedua lelaki itu. Mereka harus pergi dari tempat ini. Aku tidak mau mengikuti permintaan kedua perempuan itu.

Aku segera berlari mencari keberadaan dua lelaki itu, setiap kamar kuperiksa, setiap orang kutanya, dan hasilnya nihil.

Mereka ada di ruang bawah tanah.

“Urungkan niat kalian, maafkan mereka, biar aku yang mengurusnya, aku jamin mereka akan mendapat hukuman yang setimpal”

TERLAMBAT.

Aku berlari mencari letak ruang bawah tanah. Masih sama, tidak ada siapa-siapa. Kontrakan ini tiba-tiba kosong. Tidak satu pun orang kutemui. Apakah aku bermimpi.

“Tolong.......!!!”

Darimana sumber suara itu. Hey, dimana kalian?

Ruang bawah tanah berada di gudang, di belakang lemari.

***

2 Mei 2018 – 23.00 WIB

Pertanda burukkah? Bisa jadi, tahun kemarin cuaca sama peris dengan hari ini, tepat pada tanggal dan bulan yang sama. Kenapa harus bulan Mei? Semua telah terkuak kebenarannya. Dua lelaki itu memang jahat, ia pantas dibunuh, dan aku mau membunuhnya.

Kontrakan ini adalah milik dua lelaki itu, Meita dan Meira hanya sebagian korban kebejatannya. Orang-orang yang kutemui selama ini adalah korban lainnya.

Dua lelaki itu kanibal, bulan Mei adalah bulan ritual untuk mencari korban.

Benar kata Meita dan Meira.

Jadilah kami terlebih dahulu, baru kau akan tahu alasan kenapa kami butuh bantuanmu.

Aku sudah jadi seperti mereka, dan aku harus mencari bantuan untuk bisa membunuh dua lelaki itu.

***

Link Gambar : Klik disini

Karya : Rifki Affandi M