Dialog Kekosongan

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 September 2017
Dialog Kekosongan

Aku bisa memahami, berkata “iya” bukan perkara sederhana. Perlu proses panjang bagimu untuk menentukan pilihan sebelum berakhir dengan penyesalan, perlu pertimbangan matang bagimu untuk memilih tidak atau mengiyakan. Aku bisa memahami, berkata “iya” memang bukan perkara sederhana.

Jangan beranjak, tetaplah dengan pijakan yang kau yakini.

Coba rapikan kembali ingatanmu satu-persatu. Apa yang kau tahu tentang suka, apa yang kau rasa dengan duka, apa yang berharga dari cita, dan apa yang kau harap dari cinta. Coba rapikan kembali ingatanmu. Mungkin suka adalah canda yang kau tangkap dengan senyum tanpa dusta, mungkin duka yang kau rasa adalah dusta yang kau tangkap dengan luka penuh derita, mungkin yang berharga dari cita adalah langkah yang kau nikmati dengan rasa bukan hasil, mungkin cinta yang kau harap adalah hasil yang kau nikmati dari setiap suka, duka, cita dengan langkah beriring bukan siapa yang pantas untuk menggiring. Coba rapikan kembali ingatanmu.  Jangan beranjak, tetaplah dengan pijakan yang benar-benar kau yakini—mengiyakan atau membiarkan.

Sementara kau berpikir, biarkan aku disini dengan kekosongan.

Aku bisa memahami, mengenalmu bukan perkara sederhana. Perlu proses panjang bagiku untuk menentukan pilihan sebelum berakhir dengan penyesalan, perlu pertimbangan matang bagiku untuk memilih mencoba atau menyerah. Aku bisa memahami, mengenalmu memang bukan perkara sederhana.

Aku tidak akan pernah beranjak, tetap disini dengan pijakan yang kuyakini.

Telah kurapikan segala ingatan satu-persatu. Apa yang kutahu tentang suka, apa yang kurasa dengan duka, apa yang berharga dari cita, dan apa yang kuharap dari cinta. Semua tidak lepas dari kata mungkin yang ingin kukatakan padamu. Mungkin yang kukatakan salah, mungkin yang kukatakan benar, karena mungkin hanyalah kemungkinan, bukan kebenaran. Telah kurapikan kembali ingatanku. Aku tidak akan pernah beranjak, tetap disini dengan pijakan yang kuyakini—Menunggumu mengiyakan permintaanku, menunggumu menghempaskan pijakanku.

Sementara kau berpikir, biarkan aku disini berdialog dengan kekosongan.


  • view 139