Pencuri Singkong yang Mati Terhormat

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 02 Februari 2016
Pencuri Singkong yang Mati Terhormat

jika kesalahan kau letakkan di pundakku
Lantas, dengan apa kupertanggungjawabkan kesalahanmu.

(RAM)
?
Malam yang dilumuri dengan hujaman air hujan deras membasahi perkampungan yang terletak jauh dari keramaian kota. Lelaki tua dengan gemetar berjalan dengan pelan, matanya celingukan ke kanan dan kekiri. Dilihatnya keadaan cukup aman, tidak ada siapa-siapa, pikirnya.
?
Lelaki itu mulai memasuki area perkebunan singkong milik pengusaha kripik terbesar dikampung itu. Sekujur tubuhnya terbalut kain sarug, sengaja ia kenakan agar tidak dikenali ketika ia ketahuan, tentunya kalau tidak tertangkap. Sarung itu sekaligus akan jadi wadah untuk menampung singkong yang ia ambil.
?
?Hamba terpaksa melakukan ini Tuhan, jika nanti kau mau menghukum, hukumlah aku saja, asalkan jangan kau libatkan keluargaku?
?
Satu persatu singkong ia kumpulkan. Air mata mengembang, kemudian tumpah membasahi pipinya. Ada kegundahan dalam hatinya, hati yang tidak mengijinkan ia melakukan perbuatan yang dilarang. Perbuatan keji yang dua hari lalu ia pesankan pada anak kecilnya.
?
?Ingat ya nak, kamu jangan sampai jadi pencuri, itu perbuatan tidak baik?
?
Lihatlah, bagaimana hati seorang pencuri ketika menasehati anaknya agar tidak menjadi pencuri, sedangkan ia melakukannya sendiri.
?
Lima singkong sudah terkumpul, ia rasa sudah cukup untuk dipersembahkan pada keluarga kecilnya. Sarung yang membalut tubuhnya ia lepaskan, mengikat dengan erat salah satu ujungnya, dan sarung itu kini sudah menjelma karung.?Dimasukkannya singkong itu satu-persatu. Lelaki itu berdiri, matanya kembali celingukan menatap segala arah.
?
?Ini untuk pertama dan terakhir? ucapnya dengan hati yang berkecamuk.
?
Lelaki itu mengendap-ngendap lagi, irama kakinya berjalan pelan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Pikirannya tidak lagi terpusat kalau ia akan ketahuan, yang terbayang hanya senyum anaknya yang berhenti menangis, senyum istrinya yang memeluknya bangga.
?
?Hey, siapa disana?
?
Suara itu seketika membuyarkan lamunan lelaki pencuri singkong. Penjaga kebun yang tadinya pulas tertidur kini terbangun. Mencoba memastikan kalau suara berisik ditengah perkebunan itu hewan atau pencuri.
Lelaki itu ketakutan, bukan takut dihukum karena tertangkap. Ia takut kalau keluarga kecilnya kecewa dengan apa yang ia lakukan.
?
Penjaga kebun berjalan dengan membawa kentungan ditagan kiri, dan obor ditangan kanan. Lelaki pencuri singkong sudah pasrah pada nasibnya nanti, ia berlari sekencang-kencangnya, tidak memperdulikan kakinya yang berdarah akibat menginjak kerikil tajam. Penjaga kebun memukul kentungan, melantangkan suara sekuat-kuatnya.
?
?Maling?..maling, ada pencuri singkong?
?
Suara kentungan dan teriakan penjaga kebun membangunkan para warga. Perwakilan kepala keluarga berdatangan mendatangi perkebunan singkong. Bertanya-tanya siapa pencurinya, sudah tertangkap apa belum.
Lelaki pencuri singkong memang beruntung, ia tidak ketahuan, ia bebas dari kejaran penjaga kebun.

?Pencuri itu sudah kabur, tapi ia meninggalkan sarung ini? ucap penjaga kebun sambil menunjukkan sarung pencuri kepada warga.
?
Malam itu perkampungan riuh dengan tanda tanya, siapa pelakunya. Sekalipun lelaki pencuri singkong bebas dari kejaran, tapi ia belum bebas dari tuduhan. Satu bukti yang mereka temukan, satu bukti yang akan mereka perdebatkan keesokan harinyaa.
?
***
?
?Nak, bangun. Ayo makan, ayahmu sudah pulang?
?
Seorang ibu menggendong anaknya dari tempat tidur, matanya masih sembab, dua hari sudah ia menangis. Menangis melihat anaknya yang kelaparan, tapi lebih menagis saat anaknya tidak mengaduh kelaparan, anaknya mengaduh merindukan ayahnya yang tak kunjung pulang.
?
?Ayah mana Bu, aku rindu ayah?
?
?Selamat pagi anakku? lelaki pencuri singkong menyusul istrinya. Ia mengambil anak kecil itu dari pangkuan ibunya.
?
?Hore, ayah datang? anak kecil itu kegirangan.
?
?Ayo makan dulu, pagi ini kita sarapan singkong rebus?
?
?Tapi aku disuapin ayah? ucap anak kecil itu dengan manja.
?
***
?
Sementara itu para warga masih sibuk mempertanyakan kejadian pencurian singkong tadi malam. Pak lurah juga ikut hadir dalam perbincangan itu.
?
?Adakah diantara kalian yang tahu siapa pemilik sarung ini? Pak Lurah mengacungkan tangan kanannya sambil memperlihatkan sarung si pencuri singkong kepada warga.
?
Kampung itu riuh dengan suara tanda tanya. Siapa yang telah berani menjadi pencuri dikampung yang damai itu. Selama ini kampung itu aman dari pencurian, bahkan tidak pernah ada.
?
?Kalau tidak salah itu milik pak Agus? salah satu warga mencoba berpendapat.
?
?Oh iya benar, setiap ke masjid Pak Agus selalu bawa sarung itu? satu lagi ambil suara.
?
?Bukankah kita semua tahu kalau Pak Agus orang yang baik, tidak mungkin dia melakukannya? warga yang lain mencoba membela.
?
?Siapa tahu itu kedoknya saja, sok alim, sok baik. Biar kita tidak curiga kalau dia adalah pencuri?
?
?Betul juga, Pak Agus itu kan orang baru disini, siapa tahu dia buronan yang melarikan diri?
?
?Dan sudah dua hari kami tidak melihatnya di masjid lagi?
?
?Betul itu?
?
?Ayo kita kerumah Pak Agus sekarang?
?
Kampung itu makin riuh dengan tanda tanya, siapa pencurinya.
?
***
?
Sial benar nasib lelaki pencuri singkong itu, baru pertama mencuri, sudah dicurigai. Baru melihat anaknya makan lahap, sebentar lagi kebahagiaan itu akan lenyap.
?
Para warga berbondong-bondong menuju rumah Pak Agus. Dipimpin oleh penjaga kebun dengan membawa parang. Pak Lurah berlari dari belakang, mencoba menenangkan warganya agar tidak gegabah.
?
?Hey Agus, keluar kau? suara penjaga kebun meninggi, matanya merah, kemarahan yang tidak terbendungkan.
Lelaki pencuri singkong itu keluar, sama sekali tidak ada ketakutan dalam dirinya, ia sadar kalau apa yang dilakukannya semalam adalah salah.
?
?Ayah kenapa mereka marah sama ayah? anak kecil itu mendekap erat tangan ayahnya.
?
?Mereka memang pantas marah nak, ayahmu ini pencuri, kamu jangan seperti ayah ya?..itu tidak baik? lelaki pencuri itu tersenyum kepada anaknya. Genggaman erat dari anaknya ia lepaskan, memberi kode pada istrinya agar anaknya dibawa masuk kedalam rumah.
?
Langkah pencuri itu semakin dekat dengan warga.
?
?Saya minta maaf atas kejadian tadi malam, saya sangat terpaksa?
?
?Omong kosong? suara penjaga kebun memotong perkataan lelaki pencuri singkong itu.
?
?Ayo kita pukul pencuri yang telah mengotori nama baik kampung ini? sekali lagi suara penjaga kebun memprovokasi para warga untuk memukuli lelaki pencuri singkong.
?
?Saudara-saudara, tenang, harap tenang?..? Pak Lurah mencoba menenangkan keadaan. Tapi provokasi dari penjaga kebun tidak bisa dielakkan, warga ikut marah, dan memukuli lelaki pencuri singkong sampai berdarah.
?
Didalam rumah anak pencuri singkong menangis melihat ayahnya dipukuli, sang istripun akhirnya keluar memeluk suaminya yang terkulai lemah.
?
?Sudah cukup, suamiku sudah mengakui kesalahannya, tapi mengapa kalian sebiadab ini?
?
Kampung itu tiba-tiba senyap, hanya ada tangisan sang istri dan anaknya yang juga menghampiri ayahnya. Anak itu belum bisa mengerti, mengapa ayahnya dipukuli. Ia juga belum mengerti pencuri itu apa.
?
Para warga berbisik saling pandang satu sama lain. Bahkan mereka tidak menyadari apa yang telah diperbuatnya.
?Setan apa yang sudah merasuki jiwa kalian? suara Pak Lurah meninggi. Tidak habis pikir dengan sikap warganya yang main hakim sendiri.
?
Sang istri berdiri sambil melotot melihat wajah warga, dengan sesenggukan ia mencoba tetap berbicara.
?
?Suami saya sudah tidak kuat lagi berbicara, tapi saya tahu apa yang mau diucapkannya. Saya mewakili suami saya ingin minta maaf pada pemilik kebun singkong dan warga sekalian?
?
Hening, senggukan sang istri menjadi tangisan.
?
?Mungkin dimata kalian suami saya adalah penjahat, orang biadab, tidak mengerti aturan. Tapi tidak bagi kami, ia telah mencoba berkali-kali berusaha mencarikan nafkah bagi kami, tapi Tuhan belum menghendaki. Dan saya sempat marah dengan kehendak Tuhan yang menurut saya tidak adil, tapi suami saya selalu mengajari bagaimana indahnya takdir?
Warga saling pandang, ada yang tertunduk, ada pula yang melemparkan satu-persatu parang, kayu, dan alat yang mereka bawa.
?
?Dan ia juga berkata, mungkin inilah perintah Tuhan agar orang lain bisa mendapat pahala dengan mereka bisa membantu kita meminjamkan uang. Tapi apa, apakah diantara kalian masih ada yang ingat, bagaimana saya dan suami saya mencoba meminjam uang pada kalian. Dan kalian menjawab, kalau kalian juga membutuhkan. Masihkah kalian ingat bagaimana kami memohon satu piring nasi untuk anak saya yang kelaparan, dan kalian bilang kalau harga beras semakin naik.?
Hening.
?
?Saya mewakili suami saya hanya memohon agar kalian bisa memaafkannya, maafkan keluarga kami. Bukan keinginan dia menjadi pencuri, tapi keinginan kalian yang tidak mau mengerti yang membentuknya jadi pencuri?

Air mata bergelimang tanpa henti, air mata dari keluarga si pencuri, air mata dari warga yang memiliki hati nurani.
?
Semua sudah terlambat, sipencuri tersenyum bangga melihat istrinya, melihat para warga yang sudi memaafkannya. Tapi, Tuhan lebih menyayanginya, lelaki pencuri singkong telah kembali kepangkuan Tuhan.
?
Anak kecilnya masih tidak mengerti, mengapa ayahnya dipukuli, yang dia ingat hanya satu pesan dari ayahnya. Sekalipun ia belum mengerti.
?
?Ingat ya nak, kamu jangan sampai jadi pencuri, itu perbuatan tidak baik?
?
Malang, Januari 2015
?
?
Link Gambar :?Klik di sini

  • view 323