Kupanggil Namamu Yunda

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Desember 2016
Kupanggil Namamu Yunda

Sebenarnya kau tak perlu tahu kenapa aku memanggilmu Yunda. Tapi jika kau ngotot tetap ingin tahu, tentu dengan senang hati akan kuceritakan. Sebaiknya kau dengarkan baik-baik, aku tak suka jika kau menyuruhku untuk mengulang cerita yang sama.

Lima tahun yang lalu seorang gadis berumur 19 tahun dengan muka lusuh datang menghampiriku. Aku melihat ada ribuan beban tersimpan dalam pikirannya, ternyata aku salah, dari pengakuannya ia hanya punya satu beban, ia ingin bertemu dengan Agus—ia bertanya tentang lelaki yang tak kukenal. Bukan cuma aku, bahkan ia sendiri tak mengenalnya dengan jelas.

Nama gadis itu Fitri, ia baru saja lulus SMA. Obsesinya untuk menemukan Agus bukan tanpa alasan, ia sudah berjanji pada dirinya untuk menemukan Agus, dan tidak akan kuliah sebelum menemukan Agus. Karena Agus, ia menemukan semangat untuk tetap hidup.

Agus adalah salah satu aktor film yang namanya sempat cemerlang dimasanya. Hanya satu film yang ia mainkan, tapi sudah cukup membuat Fitri terpesona, tersihir oleh karakter yang dimainkannya.

Nama aslinya bukan Agus, saat kutanya Fitri menjawab kalau ia juga tidak tahu siapa nama asli lelaki itu. Aku coba tanya judul filmnya, ia juga tidak tahu.

Mungkin Fitri sudah gila, itu adalah prasangka burukku. Dan benar, prasangka itu salah. Fitri tidak gila, empat tahun kemudian ia menemuiku lagi. Ia mengatakan kalau sudah berjumpa dengan Agus, sekarang Agus sudah menjadi suaminya. Mereka dikaruniai empat buah hati dengan kelamin lelaki semua, dan semua anak itu punya nama Agus di depan nama panggilannya. Agus Hermono, Agus Triadi, Agus Jatmiko, dan Agus Darmono.

“Lantas, apa hubungannya dengan kau memanggilku Yunda”

“Sebaiknya kau dengarkan dulu sampai tuntas, ini baru cerita pembuka”

“Jadi tambah penasaran”

“Sudah semestinya begitu”

“Ok, lanjutkan”

Fitri tetap memanggil lelaki itu Agus, ia tak mau jujur dengan nama aslinya, katanya Agus lebih baik daripada nama aslinya.

Ia datang malam hari, aku sempat mau mengusirnya, tapi tak tega. Ia sengaja datang untuk menemuiku, katanya banyak cerita yang harus aku dengar. Bahkan ia meminta padaku untuk tinggal bersama selama satu bulan. Biar aku bisa tuntas mendengar ceritanya. Aku menolaknya, jangankan satu bulan, satu malam saja aku tak mengizinkan. Aku utarakan kalimat penolakanku dengan alasan tidak enak sama tetangga. Ia tak mau menyerah begitu saja. Dengan cepat ia menarik tanganku, mengajakku keluar menemui para tetangga.

“Selamat malam bapak, selamat malam ibu, saya Fitri adik tirinya mas Andri. Saya sengaja menemui bapak dan ibu agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman, karena saya berencana untuk tinggal selama satu bulan”

Entah sihir apa yang digunakannya, dengan gampang para tetangga mengangguk saja tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

“Jadi kau pernah satu rumah dengannya, satu bulan lagi. Apa saja yang kalian lakukan”

“Makanya dengarkan dulu, kau suka memotong sih, kalau semua orang sepertimu, tidak heran kalau media massa di isi oleh tumpukan berita yang gak jelas kebenarannya”

“Maksudnya”

“Sudahlah, kembali kecerita awal, dengarkan saja sampai tuntas. Nanti kau akan tahu dengan sendirinya.”

Ternyata Agus tidak hanya aktor film, ia juga sempat menjadi penegak hukum, pejabat, dan apa lagi ya, oh iya, guru.

“Kok ceritanya mulai aneh”

“Aneh”

“Ya, sepertinya ia mengada-ada tentang cerita itu, mengarang sendiri mungkin”

“Begini saja, sebaiknya kau dengarkan saja ceritaku. Setelah itu terserah kamu, mau percaya apa tidak itu urusanmu. Intinya setelah kau dengar cerita ini sampai tuntas, kau akan paham kenapa aku memanggilmu Yunda”

“Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda aku bisa paham”

“Kalau sudah tuntas, berapa kali harus kukatakan kalau sudah tuntas”

“Oh, ok”

“Tadi sudah sampai mana”

“Profesi guru”

Benar, bisa dikatakan Agus adalah sosok sempurna bagi Fitri. Tidak hanya itu, kata Fitri ia bisa menjadi apa saja sesuai keinginannnya, kalau bosan jadi aktor ia bisa melamar kerja jadi direktur, atau dokter, atau mentri, bahkan jadi presiden sekalipun. Asal ia minat.

“Aku tahu isi dalam pikiranmu, kau mau bilang kalau Fitri mengarang cerita kan. Tapi aku mulai suka denganmu, kau sudah bisa diam, tidak memotong ceritaku lagi”

“Ya, karena aku sudah tahu arah pembicaraanmu akan kemana”

“Termasuk kenapa aku memanggilmu Yunda”

“Itu belum”

“Jadi gimana, mau dilanjutkan atau kita berhenti dulu. Seperti makan mungkin”

“Aku masih kenyang, sebaiknya kau lanjutkan saja ceritamu”

Satu minggu berjalan, cerita tentang Agus baru selesai ia tuntaskan. Kau tahu, Fitri mulai jujur tentang semua ceritanya, ia memang mengarang cerita itu. Awalnya aku marah, aku sempat mengusirnya, tapi ia memohon agar aku sudi mendengar cerita karangan selanjutnya. Karena inti dari ceritanya benar-benar terjadi dalam hidupnya. Ia sengaja mengarang cerita itu agar bisa mencurahkan segala keresahan yang tersimpan dalam dirinya. Ia bilang juga padaku, karena setiap kali ia bercerita yang sesungguhnya, ia akan menangis sejadi-jadinya, sehingga orang yang mau mendengar ceritanya segera pergi, ia dikira orang gila.

Aku pun bersedia untuk mendengar ceritanya lagi, ia juga berjanji hanya dua hari lagi tinggal bersamaku, setelah itu ia akan pergi.

Mulai saat itu gaya berceritanya sedikit berbeda, ia seringkali memasukkan cerita asli dalam cerita karangannya. Karena dalam bercerita, kadang ia menangis sejadi-jadinya, itu menandakan bahwa ceritanya asli.

Oh iya, biar tidak bingung kau harus tahu tentang cerita aslinya. Fitri itu adalah anak dari seorang pelacur, ia selalu bertanya kepada ibunya tentang siapa ayahnya. Ibunya sempat bingung, ia sendiri tidak tahu siapa yang telah menaruh benih dalam rahimnya. Fitri hanya dikasih tahu bahwa ayahnya itu orang hebat, ia bisa menjadi aktor film, dokter, penegak hukum, dan apa saja sesuai keinginannya. Ketika Fitri bertanya siapa nama ayahnya, ibunya dengan gampang bilang Agus, biar Fitri berhenti bertanya lagi.

Semenjak itu Fitri mulai mencari Agus, pencarian itu sempat berhenti ketika ibunya menitipkan fitri ke panti asuhan. Sampai akhirnya ia berumur 19 tahun, Fitri nekat pergi dari panti, ia mendatangi banyak lelaki, dan bertanya siapa yang bernama Agus.

Satu lelaki dengan pakaian rapi menghampiri Fitri, ia berbisik dikupingnya kalau ia mengenal Agus. Dengan gampang lelaki itu membawa Fitri dengan mobilnya, ditempat sepi mobil itu berhenti, tanpa perlawanan lelaki itu dengan nafsu setannya mengambil mahkota kegadisan Fitri, Fitri tidak menangis, ia hanya berbisik dikuping lelaki itu, asalkan bisa bertemu Agus apa pun akan ia lakukan. Lelaki itu seketika menghentikan aksinya, tapi ia sudah berhasil menanam benih dirahim Fitri, ia kembali merapikan celana dan bajunya. Lelaki itu minta maaf, dan berjanji akan menemani Fitri untuk mencari Agus.

“Siapa namamu”

“Hermono”

Setelah mengetahui namanya, Fitri turun dari mobil. Ia berjalan sesuai kehendak hatinya. Entah angin mana yang membawanya hingga ia bertemu denganku, tepatnya ia mendatangi rumah Agus Salim, itu nama ayahku.

Sudah mengerti kan, kalau begitu saya lanjutkan cerita selanjutnya.

Satu minggu setelah ia tuntas bercerita tentang Agus, ia mulai bercerita tentang keempat anaknya yang lucu. Fitri selalu menangis ketika anak itu bertanya siapa ayahnya. Fitri bingung, apakah ia akan berbohong atau menjawab aman seperti ibunya dulu. Tapi Fitri takut anak-anak itu malah mencari ayahnya seperti Fitri, siap melakukan apa saja asal ketemu dengan ayahnya, iya kalau perbuatan baik, kalau jahat.

Fitri tidak kehabisan ide, dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, Fitri memeluk keempat anaknya. Ia bilang, nak, ayah kalian orang hebat, ia bisa menjadi apa saja sesuai keinginannya, jadi pilot, jadi dokter, tapi sayang, ayah kalian sudah meninggalkan kita semua, ia sudah tenang di alam sana, alam kedamaian, alam yang tidak ada lagi beban dan persoalan. Keempat anaknya hanya manggut-manggut, entah paham atau tidak. Setidaknya Fitri sudah tahu akan menjawab apa ketika keempat anaknya bertanya siapa dan kemana ayahnya.

Setelah tuntas bercerita Fitri pamit pulang, ia berjanji akan mempertemukanku dengan keempat anaknya yang lucu.

Singkat cerita, satu bulan kemudian ia datang lagi dengan membawa anaknya, tapi bukan empat, hanya tiga.

“Loh, katanya empat”

“Yang satu kabur, katanya mau cari ayahnya”

“Bukannya kamu sudah bilang kalau.....”

“Ia tidak percaya, ia yang tertua, ia lebih dewasa, ia banyak tahu tentang siapa ayahnya, ia mengetahuinya dari obrolan tetangga”

“Bagaimana ia bisa mengenali ayahnya, ia kan tidak tahu ciri-ciri ayahnya”

“Benar, yang ia tahu hanya satu, ia mau membunuh orang yang tingkahnya seperti ayahnya”

“Kau tidak lagi bercanda kan?”

“Tidak, makanya aku kesini untuk menitipkan ketiga anakku, rawat mereka dengan baik, semua kebutuhan mereka ada dikoper, aku mau menyusul anakku, aku mau membunuh ayahnya”

Setelah percakapan itu aku tidak lagi beretemu Fitri, ketiga anaknya hidup bersamaku, aku menyuruh mereka untuk memanggilku kakak.

“Kau nangis”

“Hanya terbawa suasana”

“Ceritanya sudah tuntas kan, tapi aku belum paham kenapa kau memanggilku Yunda”

Sebenarnya aku juga mengarang cerita itu, meskipun isinya benar.

Dari awal gaya berceritaku santai kan, tapi ketika aku bilang, aku menyuruh mereka untuk memanggilku kakak, aku menangis. Karena aku memang kakak mereka, kakak tiri, beda ayah, namaku Agus Hermono, ayahku Hermono, aku adalah anak dari hubungan yang gak jelas.

“Lantas, kenapa kau memanggilku Yunda, apa hubungannya dengan cerita itu”

“Karena aku mencintaimu, kau perlu tahu siapa aku. Tentang kenapa aku memanggilmu Yunda, untuk hilangkan Nanik si pelacur yang melekat dalam dirimu. Aku ingin memanggilmu Yunda, calon istriku, hiduplah bersamaku, lupakan masa lalumu”

“Tapi kenapa harus Yunda”

“Wajahmu ayu dan hatimu indah, Yunda”

Setelah percakapan terakhir aku menangis sejadi-jadinya, kau memang ayu dan indah, Yunda.

***

 

Link Gambar : Klik disini


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    8 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Yang menarik dari tulisan karya Rifki Affandi M ini adalah ia sanggup membawa pembaca menunggu hingga akhir siapa dan mengapa Fitri harus dipanggil Yunda. Cerita ini sebenarnya romantis tetapi baru ketahuan di akhir cerita, hal lain lagi yang membuat cerpen ini mencuat dari yang lainnya edisi kali ini. Layaknya tulisan Rifki lainnya, cerpen ini memuat tema yang sangat humanis dan miris. Rifki sendiri bisa dibilang penulis yang peduli akan topik terkait kemiskinan dan masalah sosial.

    Kisah Fitri ini sangat menyedihkan tetapi sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Berawal dari keinginannya yang ingin menemukan sang ayah yang katanya bernama Agus, ia berkelana lalu justru menjadikannya pelacur dan melahirkan tiga anak. Fitri pun bernasib seperti ibunya hingga Andri jatuh cinta dan akan menikahinya. Cerpen yang pada akhirnya berakhir indah setelah banyak episode getir. Keren, Rifki!